Dr.H. Zuhad Masduki MA

7 Dzulqo’dah 1441/ 28 Juni 2020


TANYA JAWAB


Pertanyaan

1. Mohon penjelasan tentang asbabul nuzul dari ayat

لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat…

2. Kelanjutannya ada
“wa aatal-maala ‘alaa hubbihii”..
(dan memberikan harta yang dicintainya)..Batasannya yang dicintai ini bagaimana?

3. Ada ustadz yang mengatakan bahwa orang pelit tidak akan masuk surga, mungkin terkait ayat di atas, tapi apa ada haditsnya?

4. Bagaimana kita bisa menyampaikan agama bila orangnya sudah ditutup hatinya?

Jawaban

1.Kalau kita lihat konteks ayat, QS. Al-Baqarah 177 ini adalah perdebatan tiga agama, Yahudi – Narani dan Islam. Kalau kita merujuk ke ayat-ayat yang sebelumnya yaitu Al-Baqarah 111, 112 dan 113 orang Yahudi membuat klaim klaim kebenaran sepihak.
Saling menafikan, Yahudi menafikan Nasrani dan Nasrani menafikan Yahudi.

Allah SWT berfirman:

وَقَا لُوْا لَنْ يَّدْخُلَ الْجَـنَّةَ اِلَّا مَنْ كَا نَ هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى ۗ تِلْكَ اَمَا نِيُّهُمْ ۗ 

“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani. Itu hanya angan-angan mereka..” (QS. Al-Baqarah 111)

Klaim mereka ditolak Allah, jadi ini klaim sepihak dan jangan dikira klaim semacam ini sudah tidak ada. Sekarang masih ada.


Allah SWT berfirman:

وَقَا لَتِ الْيَهُوْدُ لَـيْسَتِ النَّصٰرٰى عَلٰى شَيْءٍ ۖ وَّقَا لَتِ النَّصٰرٰى لَـيْسَتِ الْيَهُوْدُ عَلٰى شَيْءٍ ۙ وَّهُمْ يَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ 

“Dan orang Yahudi berkata, Orang Nasrani itu tidak memiliki sesuatu pegangan , dan orang-orang Nasrani juga berkata, Orang-orang Yahudi tidak memiliki sesuatu pegangan , padahal mereka membaca kitab..”
(QS. Al-Baqarah 113)

Mereka juga berkata tentang hal yang sama tentang agama islam ini.
Kemudian ada ayat lanjutannya tentang pengalihan kiblat yang dimulai dari :

سَيَقُوْلُ السُّفَهَآءُ مِنَ النَّا سِ مَا وَلّٰٮهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِيْ كَا نُوْا عَلَيْهَا ۗ قُلْ لِّـلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَا لْمَغْرِبُ ۗ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ

sayaquulus-sufahaaa`u minan-naasi maa wallohum ‘ang qiblatihimullatii kaanuu ‘alaihaa, qul lillaahil-masyriqu wal-maghrib, yahdii may yasyaaa`u ilaa shiroothim mustaqiim

“Orang-orang yang kurang akal di antara manusia akan berkata, Apakah yang memalingkan mereka (muslim) dari kiblat yang dahulu mereka (berkiblat) kepadanya? Katakanlah (Muhammad), Milik Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”
(QS. Al-Baqarah 142)

Yahudi dan Nasrani tidak mau berkiblat ke Mekkah. Maka asbabun nuzul ayat tadi adalah menolak klaim-klaim sepihak kebajikan itu. Kebajikan itu bukan sekedar menghadap ke arah mana dalam shalat.
Kalau orang sudah shalat itu belum segala-galanya. Kebajikan tadi ada 9. Dengan demikian bagi Yahudi kebajikan juga bukan sekedar menghadap Tembok Ratapan di Yerusalem. Orang Nasrani juga tidak cukup hanya dengan menghadap ke Timur.

Kebajikan tidak dibatasi hanya sekedar menghadap. Kebajikan sejati adalah memahami, melaksanakan dalam kehidupannya 9 azas tadi. Ini ditujukan kepada semuanya : Orang Islam, Orang Yahudi dan Nasrani. Ini kebenaran Universal.

Orang taat pada janji, ini universal. Bukan hanya berlaku untuk orang islam. Termasuk perjanjian yang bersifat kenegaraan juga harus ditepati.

Kalau melihat sejarah, Piagam Madinah itu perjanjian antara Nabi Muhammad, orang Yahudi dan Nasrani tentang kebebasan beragama. Tetapi siapa yang melanggar janji diberi tindakan. Siapa yang melanggar diproses hukum, jangan dibiarkan saja.

2. Ayat “wa aatal-maala ‘alaa hubbihii”(dan memberikan harta yang dicintainya) bisa berarti dua :
– Memberikan harta yang dicintainya kepada orang lain atau
– Memberi harta kepada orang yang sangat dicintainya.

Hubbihii bisa kembali pada obyek yang diberi. Memberi atas kecintaan pada siapa yang menerima pemberian.
Jadi tidak hanya berarti pada hartanya. Kita kalau memberi memang mestinya harta yang kita cintai, misalnya uang. Tentang jumlahnya mungkin satu rupiah, sampai tak terbatas.
Tentu tidak semua yang kita cintai harus diberikan. Tapi yang kita berikan adalah materi yang kita sendiri senang karena punya nilai guna bagi kita. Jangan kita memberikan karena kita sendiri sudah tidak mau.

Kalau dalam hadits Nabi disebut, memberi kepada orang lain itu yang diluar kebutuhan kita. Artinya kalau kita masih membutuhkan, pertama kali kita harus memenuhi kebutuhan hidup kita. Tetapi kalau dalam situasi paceklik seperti sekarang ini, maka kemudian kita mengurangi tingkat kebutuhan kita kepada macam-macam tadi. Lalu kita berbagi kepada orang lain.

3. Apa orang pelit tidak masuk surga ? Orang pelit itu bisa macam-macam. Bisa pelit harta benda, bisa pelit tenaga , bisa tanggung jawab, bisa pemikiran, bisa yang lain-lain.
Orang bisa berbagi menurut kemampuannya. Yang bisa harta dengan harta. Yang bisa pemikiran dengan pemikiran. Yang bisa tenaga dengan tenaga. Tapi kalau orang tidak mau semuanya, itu indikator orang sombong.

Orang kaya berbagi harta benda, yang tidak punya harta benda bisa mengorganisasikan bantuan -bantuan untuk disalurkan kepada yang lain. Kalau tak ada yang mengorganisasikan maka orang kaya yang mau mmembantupun tidak bisa mengeluarkan bantuannya . Jadi semua sama pentingnya.

Kalau Muhammadiyah disamping dia membantu yang nyata dengan harta benda, dia juga menjadi organisator menghimpun bantuan -bantuan untuk disalurkan kepada yang membutuhkan dan amanah sehingga banyak orang yang kemudian percaya. Itu penting untuk kita jaga.

4. Dalam alam demokrasi kita berhimpun dengan orang yang punya orientasi yang berbeda-beda. Ada orang yang taat beragama, agamanya juga beda-beda, ada yang punya keyakinan tentang Allah, ada yang tidak punya. Tetapi dalam negara demokrasi sekarang mereka bisa hidup semuanya. Dan mereka bisa jadi wakil rakyat semuanya.

Maka sekarang ini kita berdialog dengan mereka. Dalam demokrasi orang boleh menyuarakan aspirasi.
Tetapi kalau aspirasi tidak cocok dengan sejarah dan dengan isi perjanjian nasional Indonesia, tidak harus diikuti. Memang kadang prosesnya alot untuk sampai pada kesepakatan bersama.

Itulah negara demokrasi, kita sudah masuk pada situasi itu. Segala sesuatu serba sulit karena harus dikomunikasikan dengan orang lain. Dan dalam berkomunikasi orang harus yakin dan pandai, tidak boleh otoriter.
Tetapi kadang-kadang sekarang ada orang yang menyuarakan suaranya ada yang kemudian satu pihak dicurigai. Ini ada kecenderungan -kecenderungan yang berbeda.

Inilah realitas yang kita hadapi. Menghadapi orang yang hatinya tertutup, jangan putus asa. Dicari jalan dengan berbagai cara. Kita harus semakin pintar menjelaskan dan semakin canggih di dalam berinteraksi sosial dalam bidang politik, dalam bidang ekonomi, dalam bidang sosial budaya dan dalam berbagai bidang kehidupan. Inilah ujian untuk kita semua, mari kita jalani ini dengan nyaman, jangan menggerutu. Kalau menggerutu kita malah jadi sakit hati.


Pertanyaan

5. Berkaitan dengan harta, kita selalu mendengar Allah itu Dzat yang baik dan hanya menerima sesuatu yang baik. Kalau kita sedekah kan hartanya bisa baik, bisa subhat dan bisa juga tidak baik. Kira-kira bagaimana penjelasannya? Mubadzir atau tidak?

Jawaban

5. Terkait dengan harta benda, yang halal jelas prosedurnya, prosesnya. Yang haram juga sudah jelas. Yang abu-abu namanya subhat. Yang subhat harus kita hindari. Sepanjang kita sudah melakukan sesuatu yang yakin maka apa yang kita peroleh itu berarti masuk kategori halal. Tidak masuk kategori subhat.

Syarat shodaqoh diterima Allah atau tidak, syaratnya ada tiga.
– Pelakunya harus orang mukmin.
– Yang kita lakukan secara agama benar dan baik.
– Motivasi melakukannya semata-mata karena Allah.

Kalau tiga syarat ini terpenuhi maka yang kita lakukan itu diterima oleh Allah SWT. Tapi kalau tidak memenuhi tiga hal ini tidak akan diterima oleh Allah SWT.

Contoh, orang mencuri jelas harta bendanya haram. Kalau si Pencuri menyedekahkan hartanya ke masjid jelas dari sisi Allah SWT tidak diterima sedekahnya. Ganjarannya tidak ada untuk pemberi, karena harta haram.
Tetapi dari sisi Penerima, Takmir masjid bisa menggunakan harta shodaqoh itu.

Maka kita harus shodaqoh dengan harta halal. Salah satu cara untuk menghalalkan harta adalah dengan zakat, kalau menurut islam.


Pertanyaan

6. Bismillah apa termasuk dalam surat Al Fatihah? Karena dalam surat yang lain, Bismillah tidak termasuk dalam surat.

7. Mengapa surat At Taubah tidak memakai kata Bismillah.?

Jawaban

6. Kalau kita lihat 99% ulama mengatakan bahwa Bismillah bagian dari Al Fatihah. Hanya ada satu kelompok kecil yang mengatakan tidak termasuk bagian dari Al Fatihah.
Persoalan ini muncul karena ada riwayat.

Ada riwayat yang mengatakan :
“Aku shalat di belakang Nabi, di belakang Abu Bakar, dibelakang Umar, di belakang Usman. Mereka memulai shalatnya dengan ‘Alhamdulillah'”.

Jadi sumber masalahnya itu. Ini maksudnya surat Al Fatihah itu juga bernama surat Alhamdu. Bukan berarti Al Fatihah dimulai dengan Alhamdulillah.

Riwayat yang kedua :
“Aku shalat di belakang Nabi, di belakang Abu Bakar, dibelakang Umar, di belakang Usman dan Ali, mereka tidak mengeraskan bacaan Basmalah”.

Jadi Bismillah tidak dikeraskan, tapi dibaca pelan.

Kalau kita membaca sejarah, memang pernah shalat membaca basmalah yang jahr dan ada basmalah yang siri.
Basmalah yang siri itu ada ceritanya. Nabi shalat membaca Basmalah jahr lalu diolok-olok oleh orang orang Mekkah : “Nabi Muhammad sudah menerima kompromi kita! “
Dulu mereka menawarkan kompromi agama. Nabi Muhammad menyembah Tuhannya orang Mekkah dan orang Mekkah menyembah Tuhannya Nabi Muhammad. Hal ini ditolak oleh Nabi lalu turun Surat Al Kafirun.

Tidak lama setelah itu Nabi shalat membaca Al Fatihah dengan basmalah jahr. “Bismillahir rahmanir rohiem”
Orang Yaman punya berhala namanya Rohman. Maka ketika Nabi menyebut Arrohman dipandang menyebut Berhala orang Yaman.
Lalu kemudian Nabi melirihkan basmalahnya. Maka sekarang ini di HPT Muhammadiyah, boleh menyebut basmalah jahr atau siri. Sama saja karena itu masalah teknis.

7. Surat At Taubah tidak memakai basmalah karena riwayatnya Nabi Muhammad memang memerintahkan begitu. Surat At Taubah tidak memakai basmalah, ada haditsnya.

Jawaban lainnya yang mengandung perdebatan antara lain.
Karena isi surat At Taubah itu pembatalan perjanjian dengan orang orang musyrik.


Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here