H. Ali Yusuf S.Th.I, M.Hum

10 Dzulqo’dah 1441/ 1 Juli 2020



TANYA JAWAB


Pertanyaan

1. Terkait Covid-19 hampir tak ada yang bertanya tentang persoalan akidah, hampir semua pertanyaan tentang Fiqih. Ini fenomena apa?

Jawaban

1. Pertanyaan ini ternyata berlaku umum, hampir tak ada pertanyaan tentang takdir diforum apapun. Saya mencoba memahami sesuai pandangan saya. Bisa jadi Takdir ini masuk kategori Akidah, dan tidak banyak yang tertarik atau dianggap berat. Umumnya orang bertanya hal yang praktis saja. Kenyataan memang kajian akidah itu jarang sekali.


Pertanyaan

2. Minta diperjelas tentang hubungan pandangan Muhammadiyah terhadap Takdir dengan Sikap Muhammadiyah terhadap Covid-19, bagaimana aplikasinya dalam kehidupan ?

Jawaban

2. Secara konsep, jelas sekali dalam HPT Muhammadiyah :
“Tidak ada sesuatu bagi seorang hamba kecuali ikhtiar, Ketentuan dari Allah”.
Muhammadiyah menerapkan konsep ini dengan misalnya
– Fatwa-fatwa Keagamaannya menghimbau kehati-hatian ikhtiar agar terhindar dari Covid-19.
– Memberikan panduan keagamaan dan juga Kesehatan
– Kongkritnya Muhammadiyah membentuk MCCC (Muhammadiyah Covid-19 Command Center) yang mempunyai kepedulian yang sangat tinggi.
– Sisi sosialnya Muhammadiyah peduli untuk memberi pertolongan bagi mereka yang terdampak Covid-19. Dan juga menghidupkan kembali semangat hidup walaupun dalam masa Pandemi.

– Yang terakhir Muhammadiyah mengeluarkan Fatwa tentang Qurban.
Ini menarik kalau dicermati :
– Upaya ikhtiar jangan sampai kena Covid-19 dengan cara menghindari kerumunan orang banyak sehingga cara Qurbannyapun diatur.
– Bentuk kepeduliannya Qurban tidak harus menyembelih. Bisa juga dalam bentuk yang lainnya.


Pertanyaan

3. Tentang pemakaian masker, ada saudara kita yang dari dulu suka Bercadar, mengatakan bahwa saat ini dengan wajibnya kita memakai masker membuktikan bahwa Memakai Cadar itu diharuskan. Bagaimana pendapat ustadz?

Jawaban

3. Karena Covid-19 kita diwajibkan memakai masker, untuk menutup hidung dan mulut. Hampir sama dengan Cadar, tapi cadar lebih luas.
Konsep memakai Cadar dan memakai Masker jelas sesuatu yang sangat berbeda.

Cadar berkaitan dengan keyakinan keberagamaan tentang aurat wanita adalah seluruhnya termasuk wajahnya sehingga harus ditutup.
Muhammadiyah berpendapat bahwa cadar tidak diwajibkan karena kita mengambil hadits dari Asma

Rasûlullâh SAW berkata :

يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ يَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا

“Wahai Asma ! Sesungguhnya wanita jika sudah baligh maka tidak boleh nampak dari anggota badannya kecuali ini dan ini” (beliau mengisyaratkan ke muka dan telapak tangan).[HR. Abu Dâwud dan al- Baihaqi]

Jadi dari sisi hukum berbeda dengan masker. Masker lebih dikaitkan dengan kehati-hatian ikhtiar manusia sebagai makhluk mukhayyar untuk mencegah droplet. Ikhtiarnya adalah menutup mulut dan hidung. Caranya dengan masker.

Kesimpulan memakai masker bukan pembenar terhadap kewajiban memakai Cadar.


Pertanyaan

4. Pandemi Covid-19 merupakan ketetapan Allah SWT, asal Covid-19 dari Wuhan-China karena kebiasaan makan barang haram. Apa munculnya Covid-19 di Wuhan juga merupakan Ketetapan Allah?

5. “innalloha laa yughoyyiru maa biqoumin hattaa yughoyyiruu maa bi`angfusihim”.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d 11)
Apakah ayat ini termasuk takdir Muallaq?

Jawaban

4. Sumber virus Covid-19 dari Wuhan, mungkin saja benar. Kalau kita telusuri tentu banyak hikmah yang bisa kita kaji. Bahwa salah satu penyebab virus itu muncul karena perilaku manusia itu sendiri dalam mengkonsumsi makanan yang sebenarnya sesuatu yang dilarang oleh agama.

Agama punya aturan, mana yang boleh dikonsumsi dan mana yang tidak. Lalu manusia mengabaikan itu semuanya, tentu akibatnya akan terjadi kepada dirinya sendiri. Jelas itu adalah takdir, karena masuk dalam Qada atau Ketetapan. Allah sudah tahu Covid-19 ini dengan Al IlmuNya , dengan Al KitabahNya , dengan Al MasyiahNya , dan dengan Al KhalqNya.

5. Benar, ayat 11 Surat Ar Rad termasuk bukti bahwa manusia makhluk mukhayyar yang mempunyai peran menentukan nasibnya atau bahwa takdir itu muallaq.

Allah akan melihat sejauh mana usaha manusia. Kita tahu bahwa semua yang terjadi pada orang yang beriman adalah ujian. Karena ini ujian maka in syaa Allah ada nilai pahala. Tentu Allah ingin melihat sejauh mana proses seseorang dalam menghadapi ujian. Kemudian sejauh mana upaya manusia untuk menyelamatkan dirinya dan menyelamatkan manusia lain.

Kalau membiarkan masyarakat bebas sebebas-bebasnya dengan memahami istilah new normal dianggap benar- benar sudah normal, dibiarkan tanpa aturan jangan berharap kita segera selesai dari Covid-19.

Istilah new normal bukan normal. Muhammadiyah menyebutnya sebagai New Realita. Kita memerlukan upaya bersama untuk menghindari penyebaran Covid-19 yang terus berkelanjutan.


Pertanyaan

6. Kenapa ada orang yang tak peduli terhadap protokol kesehatan dimasa pandemi ini ? Apakah ini karena mereka punya keyakinan lain yang kuat tentang Takdir? Bagaimana menyikapi orang yang seperti ini? Bahkan ada sikap Pimpinan Muhammadiyah di Daerah yang berlawanan dengan Keputusan Pimpinan Muhammadiyah?

Jawaban

6. Konsep Takdir menurut HPT Muhammadiyah sudah jelas. Kalau ada orang-orang Muhammadiyah yang tidak mau mengikuti keputusan Pimpinan, menurut pendapat saya :
– Secara pribadi silahkan saja , dia punya hak untuk berbeda.
– Secara organisasi dia menyalahi aturan. Organisasi dibawah tidak boleh menentang keputusan organisasi tingkat Pusat.
– Panduan dari Tingkat Pusat ada untuk diamalkan oleh warganya, terutama Pimpinan tingkat Daerah dibawahnya.

Tentang adanya orang yang meyakini tanpa masker tidak masalah, memang pemahaman tentang takdir merupakan diskusi yang amat panjang dan lama sejak masa klasik. Sehingga kita mengenal istilah Jabariyah dan Qodariyah.

Jabariyah adalah konsep Takdir semua terjadi karena Allah secara mutlak. Tentu tidak bisa disalahkan jika ada orang yang meyakini konsep ini. Apalagi kenyataannya ada orang yang berilmu yang memilih konsep ini.

Muhammadiyah juga mempunyai pilihan, bahwa dalam menghadapi Pandemi Covid-19, pilihannya adalah menyelamatkan umat kemudian bentuknya seperti yang difatwakan , mengarah kepada penghindaran dari terpaparnya Covid-19. Bila ada yang tak sependapat, itu terserah dia. Keyakinan tidak bisa dipaksakan.


Pertanyaan

7. Apakah maksud berpindah dari takdir yang satu ke takdir yang lain? Apakah bisa?

Jawaban

7. Itu dinukil dari Hadits Riwayat Bukhori, tentang dialog Umar Bin Khattab ketika Umar “disalahkan” , kenapa takut dengan Tha’un.

Semua itu memang sudah ditentukan oleh Allah. Hidup dan mati Allah yang menentukan. Logikanya, atau kalau menurut Majelis Tarjih ada pendekatan Burhani, jika kita tahu satu tempat ada bahaya dan kita memaksakan diri, kemungkinan resikonya adalah Kematian. Dan jika kita tahu di satu daerah itu aman ada keselamatan, maka jika kita memilih yang aman secara Qadar kita akan selamat.

Masuk ke Syam, takdirnya kemungkinan mati. Dan kembali ke Madinah takdirnya kemungkinan tetap hidup. Maka sama-sama takdir, itulah yang dimaksud Umar dengan berpindah Takdir.


Pertanyaan

8. Terkait dengan Takdir, dimana posisi Muhammadiyah diantara dua aliran Kalam (Asy’ariyah dan Maturidiyah) ?

Jawaban

8. Sesuai pengetahuan saya, memang persoalan akidah adalah sesuatu yang cukup berat, sehingga pertanggung jawabannyapun harus lebih hati-hati. Didalam banyak hal Muhammadiyah banyak berupaya ketika menjawab tentang konsep keimanan menyandarkan bukan hanya pada Sunah al maqbullah tapi juga yang Mutawatir. Ini dalam rangka ihtiyath (kehati-hatian).

Dalam masalah Fiqih Muhammadiyah tidak mengikatkan diri pada salah satu madzab. Dalam pengertian kita tidak menolak pendapat madzab. Madzab Muhammadiyah adalah Memilih mana yang paling sesuai dengan Al Qur’an dan AsSunah yang maqbullah.

Walaupun tidak secara langsung, dalam konsep Akidahnya juga Manhaji ini bisa kita fahami secara umum.
Muhammadiyah tidak mengikatkan diri pada salah satu kalam tertentu, walaupun dalam hal tertentu sepertinya lebih dekat pada Maturidiyah umpamanya, tapi dalam hal lain agak mirip Asy’ariyah.


Pertanyaan

9. Bagaimana dengan pendapat yang mengatakan bahwa Covid-19 adalah Konspirasi Globlal?

Jawaban

9. Abaikan saja istilah Konspirasi itu.
Menurut pendapat saya di masyarakat kita dalam menghadapi Covid-19 ini ada 3 madzab. Ada madzab Medis, ada madzab Ekonomi dan madzab Konspirasi.

Madzab Medis senantiasa mengingatkan harus pakai masker, jaga jarak dan lainnya. Fatwa-fatwa Muhammadiyah juga senantiasa begitu, tidak sekedar pendekatan Bayani dengan Teks Al Qur’an dan Hadits saja, tapi juga mempertimbangkan bagaimana kajian menurut Kesehatan atau kajian Burhani. Orang dengan madzab Medis akan berhati-hati terus. Pakai masker terus dan rajin cuci tangan.

Ada juga orang dengan madzab Ekonomi, istilah new normal dianggap baik karena memang harus kita akui dampak Covid-19 tidak hanya pada Kesehatan tapi juga pada Ekonomi.
Sehingga supaya ekonomi hidup kembali maka dibukalah akses manusia kedalam bidang ekonomi.
Karena kita harus ke pasar dan ketempat yang lainnya maka dianggap biasa lagi. Agak sedikit “abai” dengan bahaya Covid-19.

Madzab Konspirasi semakin mengabaikan karena menganggap konspirasinya Yahudi itu kan demikian, demikian. Saya tidak begitu tahu apa ada konspirasi atau tidak, tapi menurut penjelasan para dokter dan ahli medis bahwa ada konspirasi atau tidak faktanya Covid-19 itu ada. Orang meninggal karena Covid-19 ada. Jadi lebih baik kita berfikir sesuatu yang kongkrit. Bahwa itu ada, yang terkena kita obati, yang belum terkena kita cegah agar tidak terkena.


Pertanyaan

10. Bolehkah Takmir masjid menambah aturan, disamping mengikuti Protokol Kesehatan yang sudah disepakati ? Misalnya mewajibkan Pegawai RS mengganti baju kerjanya bagi yang akan berjamaah di masjid.

Jawaban

10. Aturan itu dibuat untuk kemaslahatan , tapi juga mempertimbangkan banyak sisi.
Jika memang dianggap terbaik dan disepakati tidak ada persoalan. Kesepakatan itu perlu tertulis, sehingga ketika ada orang yang kesitu dia faham dan tidak tersinggung.

Perlu dipertimbangkan cara lain, umpamanya untuk Pegawai RS diberikan ruang khusus. Tidak harus ganti baju umpamanya.
Kita sudah banyak membaca bahwa agama itu mudah, maka janganlah mempersulit.

Dulu kita ketahui baru sebatas theori. Tetapi berkat Covid-19 kita tahu prakteknya, tidak harus kaku.

Misal kenapa shof Shalat boleh direnggangkan ?
Karena hadits tentang merapatkan shof riwayatnya cukup banyak :
– ada yang menggunakan “min iqomati sholah” (untuk menegakkan shalat)
– ada yang menggunakan “min tamami sholah” (untuk kesempurnaan shalat)
– dan ada yang menggunakan “min husni sholah” (untuk kebaikan shalat)

Dalam hal ini Muhammadiyah berpendapat bahwa perintah merapatkan shof itu dari “min husni sholah” , agar menjadi lebih baik.
Jadi rapatnya shof itu bukan Rukun sholat. Sehingga ketika tidak rapat tidak sampai membatalkan shalat. Apalagi dalam kondisi darurat seperti ini, merenggangkan shof adalah bagian dari ikhtiar kita sebagai makhluk mukhayyar.


Pertanyaan

11. Bagaimana mengobati “Dahaga Imaniah”, kita sebagai warga Muhammadiyah yang sudah sangat rindu untuk beribadah secara normal?

Jawaban

11. Saya sepakat bahwa ciri orang yang beriman itu merindukan sesuatu yang tinggi nilainya. Orang biasa shalat jama’ah ke masjid lalu tiba-tiba ada anjuran agar di rumah saja, memang betul-betul terasa ada sesuatu yang hilang. Setelah 3-4 bulan wabah Covid-19 ini menerpa kita bagaimana cara untuk mengkompromikan antara rasa Rindu ibadah secara normal dan kehati-hatian terhadap Covid-19?

Saya ingin mengatakan dari sisi nilai pahala. Sebenarnya nilai pahala itu sangat banyak dan luas. Orang yang biasa beribadah berjamaah ke masjid, kemudian karena keadaan tertentu dia terhalang dan akhirnya beribadah di rumah, in syaa Allah nilainya sama, tidak berbeda. Di rumah kita bisa membaca Al Qur’an, bisa menambah hafalan Al Qur’an.

Sama dengan berkurban. Jika dengan berkurban menimbulkan kerumunan banyak dan kemudian menjadi klaster Covid-19 baru, maka kenapa kita tidak mencari sisi yang lain? Berkurban itu luas, kita dapat berkurban harta.
Dari sisi nilai walaupun kita tidak menyembelih, tapi dengan berkurban harta dan kita niatkan untuk membantu orang yang terdampak maka nilai manfaatnya lebih besar daripada daging yang hanya sehari.
In syaa Allah mendapatkan nilai pahala yang besar. Jangan sampai meragukan keimanan kita.

Untuk mengobati “Dahaga imaniah”, fatwa Muhammadiyah juga sudah membolehkan untuk ibadah ke masjid, tetapi dengan kesadaran bahwa pandemi ini masih berlangsung, belum menurun. Karena itu perhatian terhadap protokol kesehatan menjadi utama. Kita umat islam harus menjadi contoh teladan, tidak menjadi sumber klaster baru, klaster masjid.


Penutup

Di dalam HPT lembar terakhir Bab Takdir, teksnya sebagai berikut artinya :

“Inilah pokok dari akidah yang shoheh itu adalah akidah yang telah ditentukan oleh Al Qur’an dan As Sunah dengan atsar yang mutawatir.
Siapa orang yang berkeyakinan dengan itu semuanya maka dia termasuk dalam ‘Ahlul Hak wa Sunah’ dan kita terlepas dari ‘Ahlul Bid’ah dan Kesesatan’ “.


Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here