H. Ali Yusuf S.Th.I, M.Hum

10 Dzulqo’dah 1441/ 1 Juli 2020



Berbicara tentang Qada dan Qadar memang adalah persoalan keimanan. Dan ini termasuk Rukun Iman yang ke 6, iman kepada Qada dan Qadar. Pembicaraan tentang Qada dan Qadar ini adalah pembicaraan klasik. Dari dulu sudah banyak pembicaraan tentang ini dan rasa-rasanya dari dulu sampai sekarang bahkan sampai kapanpun pembicaraan tentang takdir Allah ini akan selalu didiskusikan dengan berbagai macam argumentasi.

Pada kesempatan ini akan coba dijelaskan tentang Qada dan Qadar dikaitkan dengan kondisi kekinian, Covid-19. Supaya runtut kajian ini maka kita akan mengkaji pada HPT (Himpunan Putusan Tarjih) Muhammadiyah tentang iman kepada Qada dan Qadar.

Teksnya adalah sebagai berikut :

“Wajib bagi kita untuk mengimani bahwasanya Allah itu yang telah menciptakan segala sesuatu. Allahpun memerintahkan dan melarangNya. Segala perintah Allah adalah sesuatu yang telah ditetapkan. Semua yang telah ditentukan oleh Allah itu berdasarkan pada Pengetahuan Allah, kehendak Allah , hikmahNya dan KekuasaanNya”.

Untuk bisa memahami Qada dan Qadar. Qada adalah Ketetapan Allah, adapun Qadar adalah Ukuran terhadap segala sesuatu. Kalau kita bicara Covid-19 jelas merupakan bagian dari Qada (Ketetapan Allah).

Ketika kita bicara Qada dan Qadar, atau Takdir tidak akan terlepas dari empat hal : Al Ilmu , Al Kitabah, Al Masyiah, Al Khalq.

Al Ilmu (Pengetahuan) :
Takdir adalah segala perbuatan manusia atau makhlukNya berdasarkan Ilmu Allah.

Al Kitabah (Penulisan) :
Semua yang terjadi, telah ada catatannya di Lauh Mahfudz. Jadi kalau pada tahun ini terjadi Pandemi Covid-19, al khitabahnya sudah ada.

Al Masyiah (Kehendak), Al Khalq (Diciptakan).
Dan tentu apa-apa yang terjadi atas kehendak Allah. Dan juga jelas sesuatu yang diciptakan.

Menarik ketika kita coba aplikasikan pemahaman Takdir ini ke dalam konteks Covid-19. Memang fenomena Pandemi Covid -19 ini banyak memantik diskusi dan juga menggali hikmah. Ini merupakan sisi positifnya, menjadikan kita banyak berdiskusi, salah satunya dalam konsep Takdir.

Kita fahami bahwa Covid-19 adalah bagian dari ujian. Baik ujian Kesehatan, ujian Ekonomi, ujian Sosial. Bahkan lebih dari itu adalah Ujian Keagamaan kita. Cara beragama kita teruji dengan adanya Pandemi Covid-19.
Mungkin ada sebagian orang yang merasa beragamanya paling benar!

Ketika ada anjuran untuk beribadah di rumah mungkin ada sebagian yang punya pandangan kalau orang yang shalatnya di rumah dibanding dengan orang yang shalatnya di masjid, masih bagus yang di masjid. Sehingga merasa paling benar lalu menyalahkan orang yang tidak mau ke masjid, alias beribadah di rumah.

Atau mungkin ketika melihat orang yang memakai masker kemana-mana lalu dia mengatakan bahwa orang yang memakai masker adalah tanda orang yang tidak tawakal kepada Allah.
Sebab kalau Allah tak berkehendak maka pakai masker atau tidak, tidak masalah.

Ini adalah contoh, ada ujian cara beragama kita. Dan disitu kadang muncul kesombongan, merasa cara beragamanya paling benar sehingga mengatakan inilah yang terbaik, yang dilakukan oleh dirinya. Jadi sisi ujian tidak hanya sisi Kesehatan, sisi Ekonomi tapi justru ujian cara memahami agama kita.

Berkaitan dengan takdir, saya ingin menjelaskan konsep takdir dengan dua hal, kaitannya hubungan manusia dengan takdir. Ada dua macam :
Manusia sebagai makhluk mukhayyar dan manusia sebagai makhluk musayyar. Oleh para ulama banyak disebut dengan Takdir Mubram dan Takdir Muallaq.

Saya ingin menukil istilah yang disampaikan almarhum ustadz Yunahar dalam bukunya Manusia sebagai makhluk musayyar dan manusia sebagai makhluk mukhayyar.

Makhluk Musayyar atau dalam bahasa lain adalah Takdir Mubram itu dalam ketentuan Allah segala sesuatu yang terjadi kepada manusia adalah mutlak dari Allah yang manusia tidak bisa mengubahnya.

Sedangkan makhluk mukhayyar atau dalam bahasa lain disebut dengan Takdir Muallaq. Adalah ketentuan Allah tetapi manusia ikut berperan untuk menentukan nasibnya atau mengubah takdirnya. Artinya manusia mukhayyar adalah manusia yang memiliki Pilihan atau Kebebasan untuk menerima atau menolak sesuatu.

Contoh orang pintar dan bodoh. Kalau ada orang bodoh, belum tentu takdirnya dari Allah memang bodoh. Sementara dirinya tidak pernah belajar sungguh-sungguh, tidak pernah berusaha dengan baik. Maka akibatnya bisa saja menjadi bodoh. Sehingga antara Pintar dan Bodoh itu kategori mukhayyar atau Pilihan.

Terserah saja, kita ingin pintar harus belajar. Dan kalau tidak mau belajar, tentu akibatnya bisa bodoh.

Demikian pula konsep kekinian Covid-19, kita sudah sering mendengar bagaimana bahayanya virus ini. Maka disini kalau dikaitkan dengan Takdir, adalah pilihan-pilihan saja. Kalau kita ingin berusaha mencari takdir yang baik maka syariatnya, sunatullahnya disamping kita bermohon meminta perlindungan kepada Allah, misalnya dengan do’a yang diajarkan Rasulullah.


بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ ،

“Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa la fis samaa’i wahuwas sami’ul alim.”
(dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang membahayakan di bumi dan tidak juga di langit, dan Dialah Yang Maha Mendegar lagi Maha Mengetahui) 

Dan masih banyak lagi macam do’a kepada Allah. Berdo’a saja itu belum cukup di dalam menentukan takdir kita ini. Di dalam mensikapi takdir tentang Covid-19 yang sedang terjadi ini tidak cukup dengan cuma sekedar berdo’a. Kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk terhindar agar jangan sampai terkena virus Covid-19 ini.

Salah satunya adalah dengan cara menghindari kerumunan. Sehingga fatwa-fatwa yang dikeluarkan beberapa waktu lalu sejak awal Covid-19 ini banyak menghimbau dan menganjurkan ibadahnya di rumah. Tentu pengambilan putusan ibadah di rumah itu salah satu andilnya dalam menentukan takdir ini. Atau dalam bahasa lain untuk memudahkan manusia sebagai makhluk mukhayyar yang mempunyai pilihan.

Jangankan dalam persoalan kita memilih mau sehat atau tidak, bahkan dalam persoalan yang sangat pokok sekalipun, tentang Keimanan dan Kekafiran itu Al Qur’an juga mempersilahkan untuk memilih !

Allah SWT berfirman:

وَقُلِ الْحَـقُّ مِنْ رَّبِّكُمْ ۗ فَمَنْ شَآءَ فَلْيُؤْمِنْ وَّمَنْ شَآءَ فَلْيَكْفُرْ ۙ 

wa qulil-haqqu mir robbikum, fa mang syaaa`a falyu`miw wa mang syaaa`a falyakfur,..

“Dan katakanlah Muhammad , Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barang siapa menghendaki beriman hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki kafir biarlah dia kafir…” (QS. Al-Kahf 29)

Jadi tentu didalam memahami Covid-19 ini, memang itu adalah ketentuan dari Allah, tetapi ketentuan dari Allah itupun diiringi dengan usaha manusia. Karena Covid-19 ini adalah termasuk bagian dari takdir muallaq yang dalam hal ini hubungan manusia dengan takdirnya sebagai makhluk yang mukhayyar. Makhluk yang mempunyai pilihan-pilihan.

Kita sudah tahu akibat-akibatnya dan pilihannya apa. Ingin selamat, kita pakai masker. Ingin selamat dari virus secara syariatnya kemudian kita banyak mencuci tangan dan menghindari kerumunan.

Memang banyak orang mendiskusikan, menjadikan pemantik dalam berdiskusi tentang takdir. Ada yang menyerahkan diri sepenuhnya bahwa tidak perlu takut karena apapun yang terjadi karena Allah. Akhirnya juga mengabaikan protokol-protokol kesehatan, mengabaikan himbauan- himbauan medis. Sikap seperti ini menurut pandangan saya tidak tepat.

Tetapi kita juga tidak boleh melebihi sesuatu yang diluar kemampuan kita. Kita berusaha semaksimal mungkin. Setelah kita berupaya kok juga tetap kena musibah atau Covid-19 tentu kita kemudian bertawakal kepada Allah. Tetapi upayanya harus betul-betul dimaksimalkan.

Di dalam teks HPT dikatakan :
“Semua perbuatan manusia itu bersumber dari Ketetapan dan Ketentuan Allah SWT. Dan tidak ada kekuatan bagi hamba kecuali ikhtiar. Adapun takdir itu datangnya dari Allah sedangkan Usaha itu adalah Hak dari Hamba”.

Ternyata kalau kita perhatikan, teks dari HPT Muhammadiyah dalam Bab 6 tentang Iman sebetulnya apa yang menjadi fatwa-fatwa yang dikeluarkan sudah pas dan relevant dalam kita memahami takdir itu. Artinya memang semua Ketentuan dari Allah, tetapi kita diberi Hak untuk upaya atau ikhtiar. Jadi jangan diam saja, ada takdir begini lalu diam saja tidak ada upaya untuk mengatasi apa yang terjadi.

Jadi kita hamba ini punya peran di dalam ikut ambil bagian dari takdir ini, baik itu mengenai rezeki atau yang lainnya. Maksud dari “yang lainnya” itu sangat luas. Salah satunya adalah Covid-19 ini.

Jadi kita tidak boleh berdiam diri menerima apa adanya tanpa ada upaya. Upaya untuk diri sendiri dan upaya untuk menyelamatkan umat. Sehingga apa yang disampaikan dalam fatwa-fatwa adalah dalam rangka menjaga umat. Bagian dari takdir manusia sebagai makhluk mukhayyar.

Bukti bahwa manusia itu adalah makhluk yang mukhayyar sebagai berikut.

1. Manusia memiliki kehendak. Manusia berkehendak A atau B bahkan di dalam beragamapun tak ada paksaan.

laaa ikrooha fid-diin.
“Tidak ada paksaan dalam menganut agama Islam,” (QS. Al-Baqarah 256)

fa mang syaaa`a falyu`miw wa mang syaaa`a falyakfur,..
“barang siapa menghendaki beriman hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki kafir biarlah dia kafir…” (QS. Al-Kahf 29)

Dari ayat di atas jelas manusia memiliki kehendak. Berarti dia memiliki pilihan dan kemudian ikhtiar.

2. Manusia juga dipuji oleh Allah bila dia melakukan kebaikan dan Allah mencela orang yang melakukan keburukan.

Ayatnya banyak yang menceritakan balasan kebaikan dan keburukan, diantaranya Surat Al Zalzalah ayat 7-8

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ ۗ 
وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 7-8)

Disini ada pujian dan ada celaan. Artinya ada akibat yang terjadi. Karena kita tahu ada akibat yang akan terjadi. Orang beriman, maka dia akan dimasukkan ke Surga. Orang yang kafir maka dia akan dimasukkan ke Neraka. Berarti ketika kita tahu ada sebab dan akibat maka kita harus berupaya memilih akibat yang baik. Apa yang akan terjadi kepada kita, kita harus berikhtiar mencari yang terbaik. Karena kita tahu orang baik akan dimasukkan Surga maka kita berjanji bersungguh-sungguh untuk menjadi orang yang terbaik, sesuai kriteria Al Qur’an dan Hadits.

Dalam kaitan dengan Covid-19 ini pula tentu kita jelas-jelas sekali. Kita sebagai makhluk mukhayyar harus memilih mau sehat atau tidak. Kalau kita mau sehat upayakan norma-norma kesehatan. Kita ingin “selamat” atau tidak dari Covid-19 jelas tetap memohon perlindungan kepada Allah itu pokok.

Tetapi mukhayyarnya kita ingin selamat atau tidak dari bahaya virus?
Bukankah ada pilihan ?. Berarti kita harus berupaya untuk menghindari virus ini dan harus berupaya untuk menyelamatkan diri dan umat dari Pandemi. Jangan sampai menjadi lama. Oleh karena itu disini juga perlu ada kesabaran dan kesadaran bersama.

Pertama kita harus memahami konsep takdir dengan benar dan yang
Kedua, kita harus sabar dalam menjalankan takdir ini.
Karena apapun ini semua adalah kehendak Allah SWT.

Yang menarik dulu ada wacana, dari seorang Tokoh yang mengatakan bahwa Rukun Iman itu bukan 6 tetapi 5. Hanya beriman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul dan Hari Akhir. Jadi tidak ada Takdirnya.

Terlepas dari perdebatan yang cukup panjang waktu itu tetapi alasan yang bisa difahami juga mengatakan bahwa tidak dimasukkan Takdir dalam bagian Rukun Iman karena pada dasarnya Takdir itu juga Ketentuan Allah. Dan ketentuan Allah sudah cukup termasuk dalam Iman kepada Allah. Walaupun tentu kita harus tetap meyakini Takdir itu ada yang disebutkan sebagai Arkanul iman dalam hadits.

Bagaimana kita memposisikan diri kita sebagai makhluk mukhayyar dalam mensikapi Covid-19 ini? Ini juga sering kita dengar dalam fatwa juga, dalil-dalilnya cukup banyak bahwa situasi mirip Covid-19 dulu juga ada wabah tapi hadits mengatakan sebagai Tho’un.

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا 

Artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari) 

Larangan untuk masuk ke suatu daerah Pandemi adalah dalam rangka mencari takdir yang baik. Walaupun misalnya kita nekad memasuki zona merah atau hitam sekalipun, kalau Allah tidak menghendaki tak akan kena. Tetapi perintahnya tidak begitu. Perintah haditsnya adalah diperintahkan menghindari.

Ada lagi satu hadits dari Bukhari berisi dialog antara Umar bin Khattab dengan Abu Ubaidah dalam sebuah potongan hadits yang amat panjang.

“Abu Ubaidah berkata kepada Umar ketika Umar mau masuk ke Syam dan kemudian ada informasi disana ada Tho’un lalu Umar mundur, tidak jadi ke Syam dan kembali ke Madinah. Ubaidah mempertanyakan sikap Umar : “Apakah engkau akan lari dari takdir Allah?”.
Dalam pemahaman Abu Ubaidah tidak perlu takut tho’un. Bukankah itu Ketentuan Allah? Kalau takdir Allah tidak menghendaki terkena tho’un pasti tidak akan kena.
Jawaban Umar Bin Khattab :
“Mengapa kau, Ubaidah? Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah yang lain.”

Sikap Muhammadiyah sudah tepat sekali untuk menyelamatkan umat. Kalau dianjurkan shalat di rumah pada masa Pandemi ini bukan berarti takut kematian karena virus Covid-19 tetapi kita berupaya mencari takdir yang lain, berpindah dari takdir yang satu kepada takdir yang lainnya.

Dalam memahami konsep takdir, sebagai bukti bahwa manusia makhluk yang mukhayyar yang mempunyai pilihan- pilihan, Allah mengutus para Nabi dan para Rasul untuk umat ini. Diutusnya Nabi dan Rasul dalam rangka membawa khabar gembira dan peringatan (basyiran wa nadhiran).
Kalau manusia takdirnya dibiarkan saja tentu tidak akan dikirimkan Nabi, karena Nabi mengingatkan :
“Kamu jangan berbuat jahat!”
Jadi disitu orang berbuat jahat bukan mutlak takdir dirinya menjadi penjahat.

Sama dengan orang yang miskin, dia kalau yakin takdirNya miskin dia akan diam saja. Kenyataannya Allah mencela orang yang bermalas- malasan. Semua para Nabi dan para Rasul bekerja keras. Jadi disini jelas sekali manusia kedudukannya sebagai makhluk mukhayyar.

Dalam kaitan Pandemi Covid-19 saya mengingatkan untuk mencari takdir yang lebih baik lagi untuk menjaga agama dan juga menjaga jiwa.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here