Dr.H. Zuhad Masduki MA

7 Dzulqo’dah 1441/ 28 Juni 2020



Allah SWT berfirman:

لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَا لْمَلٰٓئِکَةِ وَا لْكِتٰبِ وَا لنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰ تَى الْمَا لَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَا لْيَتٰمٰى وَا لْمَسٰكِيْنَ وَا بْنَ السَّبِيْلِ ۙ وَا لسَّآئِلِيْنَ وَفِى الرِّقَا بِ ۚ وَاَ قَا مَ الصَّلٰوةَ وَاٰ تَى الزَّکٰوةَ ۚ وَا لْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عٰهَدُوْا ۚ وَا لصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِ ۗ اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang- orang miskin, musafir , peminta- minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang- orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah 177)

Dari ayat ini kita menemukan 9 azas kehidupan beragama. Ini menyangkut kehidupan di dunia dan kehidupan akhirat, yang kalau kita tegakkan kehidupan kita di dunia akan menjadi baik dan kehidupan akhirat juga baik.

Azas-azas kehidupan itu adalah :

1. Azas Iman Kepada Allah

Iman kepada Allah sebagai asal dan tujuan hidup kita yang mutlak senantiasa hadir beserta manusia dimanapun dan kapanpun. Jadi kita berasal dari Allah dan pasti akan kembali kepada Allah SWT.
Iman kepada Allah itu nanti jabarannya dalam ilmu Tauhid jadi banyak.

Kalau kita kembali kepada Surat Al Ikhlas maka iman kepada Allah itu yang dibahas berkaitan dengan keEsaan Dzat, KeEsaan Sifat dan KeEsaan Perbuatan. Tiga faham keEsaan tadi , terutama keEsaan Perbuatan akan mengantar kita kepada tindakan-tindakan yang ilmiah dan empirik. Dan kita selalu akan berfikir berlakunya hukum sebab akibat dalam kehidupan di dunia ini yang diciptakan oleh Allah SWT.

Maka tauhid kita kalau benar-benar mengikuti tuntunan pasti akan membawa kepada kehidupan yang baik. Kita akan selalu berfikir ilmiah dan kita akan bertindak berdasarkan pada hukum sebab dan akibat.

Allah Esa dalam Perbuatannya, artinya segala sesuatu yang ada di alam semesta itu hasil perbuatan Allah. Hanya saja Allah dalam berbuat tidak berlaku sewenang-wenang, tetapi Allah menciptakan aturan -aturan, sistem, hukum-hukum yang dengan berlakunya aturan -aturan itu maka segala sesuatu menjadi ada.

Hukum sebab akibat ini dalam bahasa Al Qur’an disebut dengan Takdir dan Sunatullah. Jadi kalau iman kita kepada Allah itu benar dalam kaitannya dengan Tauhid Perbuatan tadi maka kita pasti akan dituntun kepada kehidupan yang baik. Kalau tidak ,berarti tauhid kita belum pas benar dengan yang diajarkan oleh Allah SWT.


2. Azas Kesadaran Pertanggung jawaban mutlak dari kehidupan atas segala tingkah laku manusia.

Ayatnya mengatakan
“man aamana billaahi wal- yaumil- aakhiri”.
Nanti alam semesta akan mengalami kehancuran total dan semua manusia akan mati. Kemudian semua manusia akan dibangkitkan dan akan mempertanggung jawabkan semua amal perbuatan yang dilakukan olehnya.

Iman kepada hari akhir kalau betul- betul meresap di dalam kalbu kita akan mengantar manusia akhlaknya menjadi baik. Kalau sebaliknya orang tidak beriman kepada hari akhir akhlaknya rusak karena dia menganggap apa yang dilakukan tidak akan dipertanggung jawabkan. Bisa rusak dalam kehidupan sosial, dalam kehidupan ekonomi, dalam kehidupan politik akan ngawur dan nabrak-nabrak aturan yang telah disepakati bersama. Itu adalah indikasi orang yang tidak beriman pada hari akhir.

Kalau kita melihat dalam Al Qur’an, rukun iman yang 6 diringkas yang paling pokok hanya 2 : Iman kepada Allah dan iman kepada hari akhir. Jadi kalau Al Qur’an menyebut hanya dua, maknanya adalah yang paling pokok. Bukan berarti rukun iman hanya dua.

Misal surat Al Baqarah ayat 62 hanya menyebut dua :
“innallaziina aamanuu wallaziina haaduu wan-nashooroo wash-shoobi`iina *man aamana billaahi wal-yaumil-aakhiri* wa ‘amila shoolihang fa lahum ajruhum ‘ingda robbihim, wa laa khoufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun”

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi’in, siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari Akhir dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah 62)

Dalam hadits-hadits Nabi rukun iman yang disebut juga hanya dua, karena itu yang paling pokok.

Wa man kaana yu’minu billahi wal yaumil aakhiri falyukrim dhoifahu

“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Man kaana yu’minu billahi wal yaumil aakhiri falyaqul khairan au liyasmut

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”- (Muttafaq ‘alaih)

Marilah azas kedua ini betul betul kita resapi dan kita tanamkan dalam jiwa kita karena inilah yang akan menuntun kita kepada perangai yang baik, kepada perilaku yang baik dan kepada akhlak yang baik.


3. Azas Kepercayaan Kepada Adanya Makhluk Ghoib, Khususnya Para Malaikat yang selalu mengawasi tingkah laku manusia sehari-hari.

Diantara tugas Malaikat itu salah satunya adalah mengawasi manusia. Mencatat amal perbuatan manusia. Yang nanti catatan-catatan itu akan dihadirkan pada saat manusia menghadapi persidangan di hari kiamat, sehingga dia tidak bisa mengelak menyangkut apa yang dia lakukan dalam kehidupan di dunia.
Iman kepada Malaikat ini kalau betul -betul kuat dalam diri kita, kita juga akan hati-hati di dalam berbuat dan bertingkah laku. Karena semua yang kita lakukan dicatat oleh Para Malaikat. Kita harusnya juga bersyukur kepada Allah SWT, karena kita sudah diberitahu bahwa dalam hidup kita, semua yang kita lakukan diawasi dan tercatat. Dan catatan itu sangat rinci, sangat teliti dan sangat detail.


4. Azas Kesediaan Menerima Ajaran Kebenaran Universal seperti yang termuat dalam kitab-kitab suci yang dibawakan oleh Para Nabi sepanjang sejarah umat manusia dimasa yang lalu.

Iman kepada Kitab Suci yang sudah diturunkan oleh Allah kepada Para Nabi. Yang turun kepada Nabi Muhammad namanya Al Qur’an, yang turun kepada Nabi -Nabi yang sebelumnya yang harus kita imani adalah Injil yang turun kepada Nabi Isa, Taurat yang turun kepada Nabi Musa, Kitab Zabur yang turun kepada Nabi Dawud.

Kebenaran ini sifatnya Universal, bukan hanya Lokal, bukan Nasional. Yang paling pokok, kebenaran yang dibawa oleh Nabi adalah faham KeEsaan Allah SWT. Makanya kalau ada manusia yang menyimpang dari faham KeEsaan , betul betul akidahnya sudah menyimpang dari ajaran Kebenaran Universal. Tapi memang kita lihat problem manusia sepanjang sejarah adalah Syirik (Menuhankan selain Allah SWT). Dan orang syirik itu hakekatnya adalah menuhankan pikirannya sendiri, atau menuhankan hawa nafsunya sendiri. Lalu disejajarkan dengan Allah SWT.

Isi Kitab Suci sebelumnya semuanya sudah dirangkum di dalam Al Qur’an. Makanya iman kepada Al Qur’an juga ajaran Universal. Yang tidak iman kepada Al Qur’an namanya Kafir.


5. Azas Kesadaran Sosial dengan memperhatikan nasib sesama manusia dalam masyarakat luas.

Orang beragama itu tidak hanya berdimensi Vertikal (hubungan dengan Allah SWT) tetapi keberagamaan juga berkaitan dengan dimensi sosial (hubungan antar sesama manusia)

Dalam kaitan ini dalam ayat di atas disebutkan :
“wa aatal-maala ‘alaa hubbihii zawil-qurbaa wal-yataamaa wal- masaakiina wabnas-sabiili was-saaa`iliina wa fir-riqoob”.

Orang membelanjakan hartanya yang disukai kepada karib kerabat. Karena biasanya karib kerabat bisa tertolong kalau kerabatnya menolong, menyangkut pendidikannya, kesehatannya, kehidupan sosialnya. Maka silaturahim antar kerabat itu penting.

Memperhatikan orang-orang miskin. Memberi santunan kepada orang orang miskin. Terutama pada masa sekarang ini ketika masyarakat dunia dilanda Covid-19 maka banyak sekali terjadi kemiskinan dimana-mana. Orang tidak bisa berusaha. Usahanya macet dalam bentuk besar maupun dalam bentuk kecil.

Maka orang yang butuh santunan sekarang ini semakin hari semakin besar. Mari kita bekerjasama menyantuni orang-orang miskin. Yang punya memberi materinya, yang tidak punya dia bisa mengorganisasikan bantuan -bantuan itu untuk disalurkan kepada orang orang miskin yang membutuhkan.

“wabnas-sabiili”, Memperhatikan Ibnu sabil atau orang orang yang bepergian lalu kehabisan bekal dan mereka butuh bantuan.
“was-saaa`iliina”, Orang-orang yang meminta-minta untuk memenuhi hajat hidupnya, bukan yang meminta sebagai profesi.
“wa fir-riqoob”, membebaskan budak. Kalau sekarang membebaskan orang orang yang mendapatkan tekanan, supaya mereka bebas dari tekanan- tekanan. Terutama tekanan ekonomi.

Mari kita tumbuhkan di dalam diri kita dalam berbagai bentuknya. Dan sekarang ini yang namanya kesadaran Sosial tidak hanya dalam bentuk materi.

Sekarang orang bisa memberikan training ketrampilan, lalu orang yang ditraining menjadi mahir menyangkut ketrampilan tertentu dan dia bisa kerja dengan ketrampilannya itu lebih bagus dibanding dengan kita hanya memberi uang dalam jumlah nominal tertentu.
Istilahnya Life Skill yang perlu kita kembangkan. Orang yang punya skill mentraining anak-anak muda yang belum punya skill apa-apa sehingga mereka bisa mencari pekerjaan.

Sekarang banyak anak-anak sudah tamat sekolah tetapi tidak punya ketrampilan, sehingga tidak punya pekerjaan. Ini perlu diperhatikan.


6. Azas Memenuhi Kewajiban beribadah Kepada Allah dengan kesadaran penuh sebagai hamba Allah yang harus tunduk dan pasrah untuk beribadah.

Dalam ayat ini disebut “wa aqoomash- sholaata” (menunaikan shalat). Ini sudah kita bahas dalam pertemuan kita sebelumnya. Tapi perlu saya ingatkan bahwa shalat itu dalam Al Qur’an semua dirangkai dengan kata iqomah. Perintahnya Aqimush shalat.

Maknanya adalah melaksanakan shalat lengkap Syarat dan Rukun serta memahami Makna dan Tujuan. Dimensinya vertikal dan horizontal. Makanya orang yang shalat tapi belum melaksanakan sisi kedua , memahami makna dan tujuan yang merupakan dimensi Sosial masih dikecam di dalam Al Qur’an, surat Al Ma’un :

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ ۙ  الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَا تِهِمْ سَاهُوْنَ ۙ 
الَّذِيْنَ هُمْ يُرَآءُوْنَ ۙ  وَيَمْنَعُوْنَ الْمَا عُوْنَ

“Maka celakalah orang yang sholat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap sholatnya, yang berbuat riya’, dan enggan memberikan bantuan.”
(QS. Al-Ma’un 107: Ayat 4-7)

Itu orang yang secara formal shalat tetapi dia tidak memiliki kepedulian sosial. Dia dikecam karena lalai terhadap Makna dan Tujuan Shalatnya. Kemudian dalam berbuat selalu pamer ingin dilihat oleh orang lain.

Maka marilah azas memenuhi kewajiban beribadah ini betul betul kita laksanakan keduanya. Dimensi vertikal kepada Allah maupun dimensi horizontal.

Ada ungkapan dalam tulisan para pakar :”Menembus formalitas ,menangkap makna”.
Maksudnya kita dalam beribadah jangan hanya menekankan sisi formalnya. Shalat kalau formalnya gampang saja lima waktu itu. Tetapi ada sisi essensinya, yaitu kesadaran untuk berbagi kepada orang lain.


7. Azas Kesadaran Fungsi Sosial dari Harta Kekayaan bahwa semuanya itu adalah amanat dari Allah SWT.

Dalam ayat diatas disebut : “wa aataz-zakaah” , menunaikan zakat.


8. Azas Kesetiaan kepada Janji dan Perjanjian sesama manusia.

“wal-muufuuna bi’ahdihim izaa ‘aahaduu,”.
Ini penting sekali dalam kehidupan manusia. Dalam hal ini secara syariat termasuk hukum-hukum kenegaraan. Ini juga harus kita tepati.
Makanya kalau hari-hari ini masyarakat Indonesia sedang mengalami kehebohan, terutama di media itu persoalannya karena ada orang orang Indonesia yang ingin tidak menepati janji Kenegaraan, yaitu Kesetiaan kepada Pancasila dan UUD 1945.

Sekarang dimana-mana orang sedang ramai menolak RUU HIP itu. Haluan Ideology Pancasila yang akan membelokkan dari Pancasila dan UUD 1945. Negara kita didirikan oleh Founding Father’s kita adalah Darul Ahdi, Negara Kesepakatan (Perjanjian Bersama) antara Tokoh-tokoh Indonesia yang mewakili rakyat Indonesia pada waktu itu yang tertuang dalam UUD 1945 yang azasnya adalah Pancasila.
Maka ini harus kita pertahankan tidak boleh dikhianati.

Jadi Kesetiaan pada janji bukan hanya janji personal antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan organisasi, antara manusia dengan Tuhan. Tetapi juga janji-janji yang berkaitan dengan kehidupan bernegara. Kaitannya dengan kita : Pancasila dan UUD 1945.


9. Azas Ketabahan menghadapi kesulitan hidup. Penuh harapan kepada Allah dan tidak berputus asa.

Dalam ayatnya disebut :
“wash-shoobiriina fil-ba`saaa`i wadh-dhorrooo`i wa hiinal-ba`s”
Orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.

Kita sekarang ini termasuk dalam kategori ini. Kita sekarang ini sedang mengalami kesempitan. Kita sekarang sedang mengalami penderitaan. Kita sekarang ini sedang mengalami peperangan, perang ideology. Maka marilah kita bersabar. Sabar itu artinya menahan kehendak nafsu supaya tidak terjerumus kedalam keburukan atau ke dalam sesuatu yang lebih buruk.

Kalau kita kaitkan dengan ayat yang lain, antara lain Surat Al Baqarah ayat 155.

Allah SWT berfirman:

وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَا لْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَ مْوَا لِ وَا لْاَ نْفُسِ وَا لثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ۙ 

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah- buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,” (QS. Al-Baqarah 155)

Kita diuji dengan rasa takut. Sekarang yang membuat kita takut adalah Covid-19. Takut berkumpul dengan banyak orang. Takut keluar rumah. Maka marilah kita bentengi dengan cara cara yang benar.
Menghindari Covid-19 itu caranya antara lain :
– Kalau pergi harus pakai masker.
– Menghindari kerumunan banyak orang.
– Menjaga jarak dengan orang lain paling tidak 1 meter.

Kalau kita langgar maka ada potensi orang akan kejangkitan Covid-19 tadi. Kita harus sabar, sampai kapan? Kita belum tahu. Makin kita ta’at pada aturan, Covid-19 akan makin cepat hilang. Makin kita tidak taat pada aturan, Covid-19 ini akan makin lama dan akan muncul klaster-klaster baru. Inilah yang harus kita hindari.

Allah sudah memberi tahu kita akan diuji oleh Allah SWT dengan rasa takut. Yang kita takutkan sekarang bukan hanya Covid-19. Yang kita takutkan sekarang adalah hilangnya Pancasila dari bumi Indonesia. Maka kita harus melakukan tindakan-tindakan relevant supaya itu tetap eksis.

Kita juga diuji dengan rasa lapar. Sekarang ini banyak masyarakat yang diuji dengan rasa lapar. Kita juga diuji dengan kekurangan harta benda. Ini jelas, Perusahaan -perusahaan besar macet, tidak berjalan produksinya. Harta benda atau Pendapatnya menjadi berkurang. Kita juga diuji dengan kekurangan jiwa. Banyak yang mati karena Covid-19 dan yang lain.

Kekurangan buah, atau dari apa yang kita usahakan. Kalau kita sudah pernah berusaha untuk mencapai cita-cita, kita sudah merancang, sudah melaksanakan, tapi gara-gara Covid-19 semua hancur berantakan. Buah dari yang kita inginkan tidak tercapai juga.

Jadi Allah sudah memberitahukan kepada kita, kalau kita ini semua akan diuji. Semua yang terjadi ini adalah ujian dari Allah SWT. Tapi manusia diberi oleh Allah potensi : Daya Akal, daya Qalbu, daya hidup dan daya fisik yang kalau semua potensi ini kita gunakan maka semua ujian Allah akan bisa kita lewati.

Silahkan ujian datang, kita sudah siap menghadapinya. In syaa Allah kita akan lolos menghadapi ujian-ujian itu.

Ayat diatas ditutup dengan “ulaaa`ikallaziina shodaquu, wa ulaaa`ika humul-muttaquun”
Itulah orang orang yang benar imannya. Jadi kalau orang sudah melaksanakan 9 azas ini, dikatakan oleh Allah : “Ini orang-orang yang sudah benar imannya! Dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”.
Kalau belum, berarti imannya belum benar 100%. Mungkin baru 90%, ada yang mungkin baru 10%.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum,

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here