Prof. Dr.H. Ahmad Rofiq MA

6 Dzulqo’dah 1441/ 27 Juni 2020



TANYA JAWAB

Pertanyaan

1. Perpecahan persaudaraan karena warisan itu sudah ada sejak jaman nenek moyang kita, turun temurun tidak ada habisnya. Dalam kehidupan yang semakin sulit, orang semakin tidak mengamalkan Surat An Nisa ayat 11,12 dan 176.

2. Dalam posisi selalu diserang terus, apakah kita perlu tabayun atau mengcounter terhadap serangan-serangan?

3. Sekarang ini banyak buzer yang suka memprovokasi, bagaimana hal ini karena semakin marak saja. Dan tidak peduli bahwa itu perbuatan zalim.

Jawaban :

1. Di dalam diri kita ini ada kepentingan-kepentingan secara anthropology berupa kepentingan Politik, kepentingan Ekonomi, kepentingan Agama, ada Etika ada Estetika kalau bisa bersinergi secara paralel akan sangat baik. Karena posisi agama adalah pembimbing dalam berpolitik, mengarahkan dalam berekonomi dan juga mengarahkan dalam soal beretika.

Tetapi memang dalam prakteknya soal warisan misalnya , karena pendekatan materi itu segala-galanya sehingga rambu-rambu Surat An Nisa ayat 11, 12 dan 176 tidak dipakai lagi.
Memang kalau itu bisa dilakukan sangat baik karena itu memenuhi. Apalagi kalau membaca Surat An Nisa ayat 14 :

“Dan barang siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar batas- batas hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di dalamnya dan dia akan mendapat azab yang menghinakan.”
(QS. An-Nisa’ 14)

Dulu pada masa Umar Bin Khattab ra banyak terjadi kasus-kasus pembagian warisan yang tidak bisa diterapkan aturan normatif di dalam ayat 11-12 itu beliau menyarankan
“Radd al qadha’ ila dzawil arham”
“Kembalikan urusan pembagian warisan kepada rembugan keluarga sampai mereka itu bisa berdamai”.

Tentu yang bagus apabila surat An Nisa ayat 11-12 itu diikuti dulu. Bahwa setelah dibagi kemudian nanti ada rembugan lagi di dalam keluarga itu akan sangat baik. Karena menurut Sayidina Umar Bin Khattab ra yang dikenal sebagai Al Faruq (memisahkan antara yang hak dan yang bathil) :

“asshulhu sayyidul ahkaam”
(Perdamaian itu adalah tuannya hukum)

Maka sekarang dikembangkan Mediasi. Bahkan di Mahkamah Agung juga pernah ada pejabat levelnya Jaksa Agung Muda karena masalah perkara menumpuk maka diharapkan dengan model mediasi bisa selesai.
Memang idealnya kalau mediasi bisa dilakukan kalau dalam bahasa arbitrage atau tahkim bisa win-win solution atau sama-sama kalah (loss). Tapi ini prakteknya tidak mudah.

2. Ketika kita dalam posisi sebagai sasaran yang diserang apakah harus melawan? Dalam posisi untuk menjernihkan sesuatu yang bisa menimbulkan konflik yang mengancam persaudaraan penting untuk melakukan konfirmasi, klarifikasi atau tabayun. Tetapi kalau seseorang sudah menaruh purbasangka, apalagi sudah cenderung menyerang akan susah. Tapi kewajiban untuk tabayun tetap harus dilakukan demi untuk menjaga persaudaraan.

Soal hubungan yang merenggang ini tampaknya memang tak bisa dihindari sampai-sampai Rasulullah SAW memberikan panduan :

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ

“Tidak halal bagi seorang muslim untuk tidak menyapa saudaranya lebih dari 3 hari.” (HR. Bukhari Muslim).

Bahkan ketika dulu Rasulullah SAW diuji dengan kasus issue negatif Siti Aisyah r.anha yang disebarkan , sampai dalam sejarah diceritakan Beliau SAW itu diam sampai Siti Aisyah r.anha bingung.

Diamnya Rasulullah SAW sebenarnya menunggu wahyu sambil beliau mencari informasi kebenaran peristiwa itu dalam rangka tabayun. Kemudian ada wahyu yang membela bahwa Siti Aisyah r.anha tidak salah. Tapi fitnah sedemikian dahsyatnya.

3. Tentang buzzer, seperti telah saya jelaskan kalau sudah menyangkut kepentingan Politik nampaknya mazhab Machiavellisme (menghalalkan segala cara, yang penting hasil guna) masih laris di negara kita. Segala cara digunakan untuk meraih , mewujudkan kepentingan-kepentingannya. Bahkan tampaknya ini menjadi semacam “industri”.

Sama dengan Demo, juga ada industrinya juga. Orang yang sama, masa yang sama hari ini bisa pakai bendera hijau, besuk hadir dalam demo yang sama pakai bendera merah. Besuk lagi bisa pakai bendera kuning dan sebagainya. Bahkan katanya tarip yang pegang spanduk dengan yang membawa bendera kecil dan yang membawa bendera besar taripnya juga beda-beda. Ini juga bagian dari buzzer yang levelnya kecil.

Dulu terbukti bahwa anak-anak jalanan yang berkeliaran ternyata ada EOnya. Dan anak jalanan itu hanya mendapat hasil 25% karena yang 75% harus disetorkan kepada EO. Pertanyaan kita EO ini diberi hati oleh Allah untuk apa? Kok ya tega-teganya mereka?

Saya mendapatkan informasi ini dari pejabat yang sangat kompeten, ketika akan ada tamu Menteri-menteri Asean , Pak Gubernur minta agar tidak ada anak jalanan. Ternyata mereka minta imbalan perorang sehari 24 ribu karena hitungan sekali makan waktu itu 8 ribu. Bayangkan kalau misalnya ada 400 anak jalanan, dikalikan berapa hari. Kalau misalnya tamu Menteri-menteri Asean seminggu ya dikalikan seminggu. Seperti itu kondisinya, saya tak tahu negara kita ke depan seperti apa? Negara dikuasai buzzer-buzzer.

Mudah-mudahan melalui pengajian -pengajian semacam ini dapat dishare sehingga mereka terbuka kesadarannya supaya hidup ini bisa lebih nyaman dan lebih indah.


Pertanyaan

4. Buzzer apa bisa dikatakan tidak Pancasilais?

Jawaban

4. Makanya kemarin saya sempat share tulisan di akun FB saya. Ini sebenarnya bermula dari Pancasila yang sebenarnya sudah sangat baik, sudah ada detailnya di dalam UUD 1945 tetapi kemudian mau diothak -athik menjadi Trisila, Ekasila. Bahkan Ketuhanan Berkebudayaan. Tentu ini menjadi aneh. Kalau berKetuhanan tapi Berkebudayaan maksudnya apa? Karena nanti kaitannya tidak percaya pada Hari Akhir karena Hari Akhir dianggap halusinasi. Dulu kan pernah ramai ini. Jadi jelas buzzer itu tidak Pancasilais.


Pertanyaan

5. Assalamu’alaikum tadz. Maaf di luar tema..
Bagaimana pandangan ustadz kalau dosen di sebuah universitas mempersulit pembuatan skripsi mahasiswanya. Ini dialami anak saya dan teman-temannya yang susah mendapat acc judul skripsi. Waktu anak saya disuruh bikin skripsi tentang murabahah, minta surat prariset untuk bank yang dituju saja lama banget jadinya. Dosennya malah berucap “wong bayare murah kok minta cepet.” Masak dosen kok seperti itu? Alhamdulillah anak saya sudah lulus April kemarin dengan pengerjaan skripsi hampir 2 tahun. Semester ini tinggal 5 orang. Tapi adanya covid ini ada kebijakan memperpanjang semester, sehingga masih ada harapan untuk lulus. Kalau tidak, kasihan kalau sampai DO cuma karena skripsi yang hanya 6 SKS mengalahkan 150 SKS yang telah ditempuh. Mohon pencerahannya, maturnuwun.

Jawaban

5. Pengalaman saya menjadi dosen mulai tahun 1985. Menurut saya ini soal prinsip hidup dari pemahaman agama yang dianutnya. Saya memahami ajaran agama saya memerintahkan kepada saya sebagai pemeluk agama islam itu untuk selalu berusaha memberi kemudahan kepada orang lain, jangan pernah mempersulit orang lain.

Sadar atau tidak sadar nanti Allah yang akan membalas. Kalau dalam bahasa Jawanya “Gusti Allah ora sare”.
Karena sunatullahnya begitu. Orang yang bekerjanya mempersulit orang lain, mungkin merupakan kompensasi bagi dirinya yang menyelesaikan skripsi dengan penuh kesulitan karena kebetulan dapat Pembimbing yang susah maka dia balas dendam.

Mengapa harus seperti itu kita?
Bahkan aturannya dalam konteks pembayaran yang saya tahu semester itu harus selesai supaya bisa dibayar. Sebab kalau melompat semester berikutnya akan menjadi persoalan dari sisi administrasi keuangannya. Dan saya dalam membimbing skripsi, thesis, desertasi menjanjikan untuk kemudahan saya minta agar naskah diserahkan BAB 1 sampai selesai. Saya batasi maksimal satu bulan. Kalau ada kesalahan dikasi solusinya apa. Karena fungsinya Pembimbing adalah membimbing mahasiswa yang kurang faham, dia diberi jalan keluar.

Mempersulit mahasiswa dapat dikategorikan sebagai salah satu bentuk penzaliman. Dan perbuatan zalim kalau kita cari referensinya asal katanya : zulum (gelap), lawannya nur (cahaya). Berarti ketika dia sedang gelap dia melakukan Mempersulit orang lain. Dia mungkin tidak tahu kapan jadualnya pembalasan. Itu semua akan dirasakan.

Maka jadilah orang yang memudahkan. Allah itu saja memudahkan :
“yuriidullohu bikumul-yusro wa laa yuriidu bikumul-‘usro”
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. Al-Baqarah 185)

Kita mengaji saja bisa memakai Google Meet, Shalat saja kalau kita pergi keluar kota, yang awalnya 4 raka’at bisa jadi 2 raka’at dan pelaksanaannya digabung. Menjadi jamak qashar. Kalau ada pasien yang dirawat tak dapat berdiri, dia boleh shalat dengan duduk. Duduk tak mampu bisa dengan berbaring miring.

Kita harus memudahkan. Bahkan ada hukum namanya azimah dan rukshah.
Hukum azimah itu kalau situasinya normal, rukshah itu dispensasi.

Makan makanan yang haram tidak boleh, tapi kalau kepepet boleh.
“fa manidhthurro ghoiro baaghiw wa laa ‘aading fa laaa isma ‘alaiih”.
Tetapi barang siapa terpaksa memakannya , bukan karena menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. (QS. Al-Baqarah 173).
Bahasanya “tidak dosa” – bukan berarti wajib.

Seperti waktu melakukan Haji, inginnya nafar tsani, melempar jumrah tanggal 11, 12 dan 13 supaya sempurna. Tetapi bagi yang mengambil nafar awal juga tidak masalah.
“fa mang ta’ajjala fii yaumaini fa laaa isma ‘alaiih, wa mang ta`akhkhoro fa laaa isma ‘alaihi limanittaqoo”

“Dan berzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya.
Barang siapa mempercepat meninggalkan Mina setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya. Dan barang siapa mengakhirkannya tidak ada dosa pula baginya. (QS. Al-Baqarah 203)

Artinya ajaran agama kita itu memudahkan. Lha kenapa masalah membimbing skripsi yang mungkin ada honor tapi kecil sampai harus mempersulit? Mudahkanlah!
Mereka selesai kuliah masih harus berjuang lagi. Ijazah dibawa kemana- mana belum tentu mendapat pekerjaan.

Mudahkanlah setiap orang, maka Allah akan memudahkan kamu.


Pertanyaan

6. Persaudaraan islamiyah dikonsep normanya spt pada Hadits Rasulullah Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir berbunyi:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim).

Apakah norma hadist tsb mjd standar nilai pada persaudaraan umat manusia (basyariyah).maturnuwun

Jawaban

6. Terima kasih atas masukannya. Hadits itu shahih dan sangat populer.
Kalau kita lagi flu, (mudah-mudahan tidak terjadi) makan tidak enak, tidur juga menjadi tidak nyaman.
Persis seperti itu idealnya persaudaraan antar mukmin kita jadikan rujukan. Tetapi dalam prakteknya, ada intervensi soal warisan, intervensi politik, intervensi ekonomi sering memporak- porandakan persaudaraan.

Kenyataan hanya membimbing skripsi saja bisa dipersulit. Padahal posisinya sama-sama beriman, hanya dosen lebih dulu belajar.

Rasulullah bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا

“Bukan golongan kami orang yang
tidak menyayangi yang lebih muda atau tidak menghormati yang lebih tua.” (HR. at-Tirmidzi)

Bahkan ada hadits yang pendek

من لا يرحم لا يرحم
“Man laa yarham laa yurham”
Siapa tak sayang tidak akan disayang
(HR Bukhori)

Kalau kita gunakan logika baliknya bila orang membenci maka dia akan dibenci. Senyum saja itu shodaqoh. Maka kalau tak mau senyum berarti tak mau shodaqoh. Tentu jangan lalu senyum- senyum sendiri.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here