Prof. Dr.H. Ahmad Rofiq MA

6 Dzulqo’dah 1441/ 27 Juni 2020



Bagaimana Implementasinya ?

Persaudaraan antara sesama orang yang beriman dan sesama muslim, pada masa Rasulullah SAW berjalan dengan sangat baik. Bahkan di masa awal-awal sampai dengan hijrah Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah, persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar sempat dijadikan sebagai dasar saling mewarisi di antara mereka.

Dalam terminology fiqih mawaris disebut dengan “al hijrotu wal muakhah”. Namun segera setelah perjanjian Hudaibiyah dengan fathu Mekkah, dasar ini dihapus dengan sabda Rasulullah SAW

لَا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ
”Tidak ada hijrah setelah Fathu Makkah .” [HR. Bukhari Muslim].

Secara umum Rasulullah telah memberikan contoh tentang persaudaraan. Kita sudah mendapatkan pemahaman

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara”

Tapi harus berhati-hati dalam menjelaskan. Sebab kalau tidak hati-hati dalam menjelaskan bisa salah. Karena prinsip orang yang beriman itu meyakini, mengimani umat-umat terdahulu yang menerima kitab suci dari Allah : Kitab Injil untuk Nabi Isa a.s, Kitab Taurat untuk Nabi Musa a.s, Kitab Zabur untuk Nabi Dawud.a.s

Hakekatnya mereka itu ajarannya juga Tauhid seperti ajaran kita. Maka belakangan ini banyak orang -orang Barat yang mengatakan bahwa sesungguhnya islam itu tidak sejak jaman Nabi Muhammad SAW tapi sudah ada sejak jaman Nabi Adam.a.s Sudah ada ajaran Tauhid.

Bagaimana dengan Rasulullah ketika makan ? Beliau itu tidak jarang makan roti yang dingin, karena saya mendapatkan riwayat bahwa roti yang masih hangat selalu diberikan pada orang lain.

Beliau itu biasa mengganjal perut dengan batu karena kehidupan beliau memang bersemboyan : “Jangan kalian makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang”.
Tapi nilai penting yang beliau contohkan adalah memberikan yang dimiliki kepada orang lain.
Itu yang luar biasa, sehingga kita tidak ragu-ragu untuk bisa meneladani.

Ada ajaran tentang Shalat awalnya dengan takbir dan akhirnya dengan salam, sesungguhnya adalah ajaran tentang persaudaraan. Karena dengan kita berikrar : “Maha Besar Allah”, bahwa kita itu kecil. Karena kita kecil maka kita harus bersama-sama dan itu kita ikrarkan dalam salam. Salam untuk mengakhiri shalat kita itu untuk menebar kesejahteraan pada saudara- saudara kita yang ada dikanan kiri kita.

Ada hadits Nabi yang mengatakan :

المسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ , و المهاجِرَ مَنْ هَجَرَ مَا نهَى اللهُ عَنْهُ

“Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perkara yang dilarang oleh Allah .” (HR. Bukhari Muslim )

Ada juga hadits yang sangat terkenal yang biasanya untuk menjaga kemabruran haji. Rasulullah SAW menjelaskan tanda-tanda kemabruran ibadah haji dalam sabda beliau sebagai berikut:

ايها الناس افشوا السلام واطعموا الطعام وصلوا الارحام وصلوا والناس نيام رواه احمد

“Wahai manusia, tebarkanlah keselamatan (kesejahteraan, kedamaian, ketenteraman,
kesentausaan), berilah makan orang yang membutuhkan, sambunglah kasih sayang (silaturrahim), dan shalatlah kamu sekalian di saat manusia kebanyakan sedang tidur nyenyak”- (Riwayat Ahmad).


Persaudaraan Hilang Karena Faktor Politik Dan Ekonomi

Implementasinya dalam kehidupan sehari-hari , bagi orang yang memahami prinsip persaudaraan dalam agama , dia sudah tahu ada komponen-komponen dalam diri manusia bila bersinergi akan berjalan dengan baik, tetapi kadang-kadang kalau orang itu semangatnya berpolitik menonjol maka akhlak persaudaraannya hilang. Secara umum begitu.

Semasa Rasulullah SAW masih hidup, semua persoalan dan konflik sesama umat islam tampaknya tidak muncul.
Saat Rasulullah wafat konflik itu mulai tampak. Akibatnya pemakaman jenazah Rasulullah sempat tertunda tiga hari karena ada pembahasan Sidang di Tsaqifah Bani Saidah. Disana terjadi perdebatan tentang siapa yang menjadi khalifah pengganti beliau ?

Beberapa referensi yang saya baca suasananya kemudian seperti di Indonesia saat ini antara Kecebong dan Kampret. Suasananya berjalan “agak panas”, sampai muncul kalimat “antum rijal wa nahnu rijal” (kalian laki-laki kami juga laki-laki).

Sampai muncul hadits :

اْلأَءِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ
“imam itu dari Quraisy”(HR Ahmad dan Thabrani)

Karena terjadi suasana sangat panas dan sidang pemilihan Khalifah tertunda sampai tiga hari, meskipun belum sampai 4 tahun seperti ricuhnya Sidang Konstituante di Indonesia.

Perdebatan itu terjadi di Madinah. Di sebelah utara Nabawi ada tempat Tsaqifatani Saidah yang dulu dijadikan tempat untuk memilih khalifah.
Semula terpilih Umar Bin Khattab r.a, lalu malah Umar Bin Khattab r.a malah meminta majelis memilih Abu Bakar r.a yang lebih senior.
Maka dalam pidato Abu Bakar r.a yang pertama sebagai khalifah yang amat terkenal menyatakan :

“Wahai manusia! Aku telah diangkat untuk mengendalikan urusanmu, padahal aku bukanlah orang yang terbaik di antaramu. Maka jikalau aku dapat menunaikan tugasku dengan baik, bantulah aku, tetapi jika aku berlaku salah, maka luruskanlah! 

Persaudaraan tidak hilang, justru memperkuat persatuan, jika dalam berpolitik mengedepankan sifat mengalah dan kasih sayang.

Pada akhir sebelum Abu Bakar r.a wafat, Umar Bin Khattab r.a kalau dibaca dari perspektif politik seolah- olah menjadi putra mahkota. Karena tidak ada opsi lain.

Beda pada masa Umar Bin Khattab r.a. Sejarah mencatat ketika beliau shalat ditusuk dari belakang oleh Abu Lu’luah Al-Majusi, orang Persia yang merasa dendam karena negaranya dikalahkan.

Tapi masih ada kesempatan beliau membuat 6 Tim formatur termasuk satu orang puteranya Abdullah bin Umar. Tapi puteranya dipesan untuk boleh memilih tetapi tidak ikut dipilih. Karena ada semacam kontestasi antara kelompok Muhajirin dan kelompok Anshor. Kelompok Muhajirin islamnya lebih senior. Mereka sudah berjuang lebih lama, 12 tahun di Mekkah. Kemudian melakukan hijrah setelah bai’at Aqobah dua kali.

Sepeninggal Rasulullah ada lagi catatan sejarah bahwa terjadi Perang Jamal (Onta). Betapa dramatisnya peperangan itu terjadi antara Siti Aisyah r.anha isteri Rasulullah SAW dengan Ali bin Abi Thalib r.a menantu Rasulullah SAW. Bayangkan kalau itu terjadi sekarang. Begitu dahsyatnya politik bisa mengganggu, merusak persaudaraan.

Apalagi kalau kemudian dalam kehidupan sehari-hari. Belakangan ini gara-gara RUU HIP suasana persaudaraan bangsa ini menjadi sedemikian dahsyatnya. Ini kalau kita berbicara arti persaudaraan secara makro.

Kemudian MUI sempat mengeluarkan maklumat, dan kita bisa membaca suasananya menjadi sangat baik bagi persatuan umat islam dalam rangka menghadang RUU HIP tersebut. Namun kita masih harus mengawal karena kita masih was-was jangan- jangan masih diteruskan lagi. Karena bahasa Pemerintah kemarin hanya menunda. Karena ini memang hak inisiatif DPR.

Soal Ekonomi juga bisa menjadi ancaman persaudaraan. Bahkan tidak jarang terjadi hanya gara-gara soal membagi warisan saja persaudaraan bisa menjadi pecah. Karena itu soal warisan diatur sedemikian detailnya.
Kita bisa melihat Surat An Nisa ayat 11- ayat 12 dan ayat 176. Itu aturan tentang bagaimana membagi warisan.
Meskipun disana dikatakan bagian laki-laki dua dan bagian wanita satu, yang ingin kami sampaikan adalah betapa islam menjaga supaya persaudaraan itu tidak hancur maka soal warisan diatur secara detail.

Itu tadi yang menyebabkan bisa menghancurkan persaudaraan. Apalagi dalam politik tidak ada yang namanya teman abadi, Tidak ada lawan yang abadi. Kalau ditambah jadi tidak ada saudara yang abadi, yang ada adalah kepentingan yang abadi. Buktinya adalah sejarah perang antara anak menantu dengan ibu mertua.

Kalau kita coba membuka lagi bahwa tujuan politik adalah bagaimana supaya bisa memenangi. Termasuk soal koalisi. Kalau misalnya cocok, meskipun lawan jadi teman. Tapi pada saatnya tak diperlukan , dia dibuang.
Sekedar contoh kita bisa menyaksikan kenapa koalisi partai di negara kita ini kalau dilihat dari sisi persaudaraan memungkinkan bersifat asymetris.

Koalisi partai di pusat dengan A, di Propinsi dengan B dan di Kabupaten lain lagi. Tidak ada konsistensi karena tujuan utama berburu kekuasaan. Bahkan kalau dilihat dari sisi partainya juga berseberangan.

Begitu juga Ekonomi, Rasulullah SAW banyak mengajarkan dalam bermuamalah jangan kamu menawar barang yang sedang ditawar orang lain. Maka ada yang dinamakan Khiyar Majlis. 

Majlis dalam jual beli bermakna tempat berlangsungnya jual beli dan para pihak belum berpisah. Sehingga khiyar majlis adalah hak yang dimiliki oleh penjual dan pembeli untuk meneruskan transaksi atau melakukan pembatalan, selama kedua belah pihak masih dalam majlis jual beli.

Tapi sekarang ini dengan adanya jual beli online kelihatannya hadits itu sudah tak berlaku lagi.
Ada lagi larangan menawar barang ketika barang belum sampai di pasar. Ini untuk menghindari terjadinya kekecewaan orang yang menjual.

Kesimpulan tentang pentingnya persaudaraan kita bisa merujuk pada Surat Hujurat yang telah memberi panduan sangat penting dalam beberapa ayat.

Kemudian ada hadits pegangan kita

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ.
رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kita mungkin punya saudara, tetapi ada di tempat yang jauh. Maka kalau ada apa-apa pasti kita meminta tolongnya kepada tetangga. Itulah sebenarnya konsep ajaran persaudaraan agama kita.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here