Prof. Dr.H. Ahmad Rofiq MA

6 Dzulqo’dah 1441/ 27 Juni 2020



Konsep Ukhuwah Dalam Islam

Berbicara tentang konsep ukhuwah islamiah, ada tuntunan yang sangat detail, komplit dan menarik tentang persaudaraan.
Perkembangannya ukhuwah diterjemahkan menjadi tiga kategori.

1. Ukhuwah Islamiah, persaudaraan sesama muslim.
2. Ukhuwah Wathoniah, persaudaraan sesama anak bangsa.
3. Ukhuwah Basyariah ada yang menyebut Ukhuwah Insaniah, tapi saya cenderung untuk dibedakan karena basyariah sifatnya ke arah fisikal , kalau yang insaniah sifatnya secara keseluruhan.

Kita diciptakan oleh Allah sebagai makhluk sosial. Makhluk yang tidak bisa memiliki kehidupannya secara sendiri.

Ketika lahir saja Allah SWT berfirman:

وَا للّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْــئًا ۙ 

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun..” (QS. An-Nahl 78)

Kita tidak bisa apa-apa, membutuhkan orang lain. Kemudian kita tumbuh dan besar. Bahkan ketika kita matipun tetap membutuhkan orang lain. Sekaya apapun membutuhkan orang lain.
Karena itu kita sering disebut sebagai makhluk sosial, maka persaudaraan menjadi sangat penting. Karena untuk bisa menjadi sempurna , keberadaan kita itu kalau kita juga bisa berbuat yang terbaik bagi orang lain.

Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni).

Persaudaraan menjadi sangat penting untuk difahami dan diamalkan dengan sebaik-baiknya.

Nabi Muhammad SAW memberikan tuntunan dalam sabda beliau :
“Al-Jaar qobla ad-Daar, wa rofiq qobla thoriq”
artinya, “Memilih Tetangga Sebelum Membeli Rumah dan Carilah Teman Sebelum Berjalan”.

Memilih Tetangga Sebelum Membeli Rumah. Dalam sebuah hadits lain Rasulullah SAW menegaskan :
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.“ (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan Carilah Teman Sebelum Berjalan, dalam riwayat yang lain Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila ada 3 orang keluar dalam suatu safar (perjalanan) maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai pemimpin”. (HR. Abu Daud)

Perlu memilih pemimpin supaya tidak ada mata hari kembar. Harus dipilih salah satu yang ilmunya paling banyak, amalannya paling baik, lebih berhati- hati. Dengan demikian senioritas menjadi penting. Seperti halnya memilih imam dalam shalat berjama’ah.

Ada riwayat lain lagi yang hampir sama :
“Menceritakan kepada kami, Muhammad bin Yahya, menceritakan Abu Kuraib, menceritakan Utsman bin Abdirahman al Harrani, menceritakan Aban bin al- Muhabbar, dari Said bin Ma’ruf bin Rafi’ dari ayahnya, dari kakeknya, berkata, Nabi SAW bersabda : “Dapatkan teman sebelum jalan, dan tetangga sebelum membeli rumah ” ( Riwayat ath-Thabrani)

Konsep persaudaraan diatur secara sangat detail dalam Al Qur’an. Tata cara shalat saja tidak dijelaskan di dalam Al Qur’an karena cukup dijelaskan dalam hadits. Al Qur’an hanya memerintahkan Shalat beserta Zakat, kemudian ketentuan tentang waktu shalat, dan tentang hikmah dari shalat yang bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Konsep persaudaraan diatur sesuai Surat Al Hujurat ayat 10 :

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَ صْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَا تَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-Hujurat 10)

Mohon prinsip-prinsip persaudaraan ini bisa difahami. Dari beberapa kitab tafsir dari para ulama mufasir :

1. Imam As-Saadi dalam kitab tafsirnya menjelaskan ayat ini merupakan ikatan. Yang Allah ikatkan diantara orang-orang yang beriman. Apabila ada seseorang di Timur dan Barat, beriman kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab, dan Rasulnya, hari Akhir, dan Qadha/Qadar tentu saja , maka sesungguhnya itu adalah saudara bagi orang yang beriman.

Persaudaraan seiman melampaui batas-batas negara. Maka kalau dalam ilmu waris ketika perbedaan negara menjadi salah satu penghalang, tetapi jika seiman sama-sama muslim, maka halangan beda negara menjadi tidak berlaku.

Persaudaraan mewajibkan adanya rasa cinta diantara orang yang beriman, sebagaimana mereka mencintai diri mereka sendiri, membenci sebagaimana mereka membenci diri mereka sendiri.

Rasulullah SAW bersabda :

” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi bersabda tentang kewajiban persaudaraan dalam iman

لاَ تَحَاسَدُوْا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا ، اَلْـمُسْلِمُ أَخُوْ الْـمُسْلِمِ ، لاَ يَظْلِمُهُ ، وَلاَ يَخْذُلُهُ ، وَلاَ يَحْقِرُهُ

“Kalian jangan saling mendengki, jangan saling menyombongkan diri, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi ! Janganlah sebagian kalian membeli barang yang sedang ditawar orang lain, dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allâh yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka ia tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, dan menghinakannya. ” (HR Muslim)

Bahkan kita dilarang untuk menawar barang yang kita inginkan, bila kebetulan barangnya tinggal satu dan sedang dipegang-pegang oleh saudara kita. Kita dilarang menawar karena dapat memecah persaudaraan.

Dalam hadits lain dikatakan.

وَلاَ يَخْطُبُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيْهِ حَتَّى يَذَرَ.

‘dan tidak pula meminang atas pinangan saudaranya hingga dia meninggalkannya.’ (HR Bukhori)

Ini adalah bimbingan Rasulullah supaya kita bisa mempraktekkan prinsip-prinsip persaudaraan dengan sebaik-baiknya.

Rasulullah SAW melanjutkan :

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشدّ بعضه بعضا) وشبك بين أصابعه. متفق عليه

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang satu sama lain saling menguatkan” kemudian beliau menggenggamkan jari-jarinya (Muttafaqun Aleih)

Beliau menggambarkannya dengan merancangkan kesepuluh jari beliau. Artinya 10 jari tidak bisa kompak kalau memegang sesuatu kalau 5 jari ini juga tidak kompak. Itu juga tidak akan kuat.

Dijelaskan lebih lanjut Hadits
“Dan sungguh Allah dan Rasulnya memerintahkan untuk menegakkan kewajiban orang-orang yang beriman, sebagian atas sebagian lainnya, dengan demikian menghasilkan rasa sayang dan saling cinta, saling berhubungan diantara mereka. Semua ini menguatkan pada Hak-hak sebagian atas lainnya. Maka dengan demikian tatkala terjadi peperangan diantara mereka, yang menyebabkan terpecahnya hati dan saling membenci dan saling membelakangi, maka damaikanlah orang-orang yang beriman diantara saudara mereka, dan beri keluasan dalam hal yang bisa menghilangkan kebencian mereka”.

Ini sangat tidak mudah, karena itu dalam surat Al Hujurat dijelaskan dengan sangat detail.

2. Imam Thantowi dalam tafsir al Wasith mengatakan : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara dalam agama dan akidah. Mereka berkumpul dari asal yang sama yaitu iman. Sebagaimana persaudaraan itu kumpul dari asal yang satu yakni nasab. Seperti sesungguhnya persaudaraan nasab mengajak pada saling berhubungan, saling menyayangi, saling tolong- menolong dalam mengambil kebaikan dan menghindarkan keburukan. Maka demikian juga persaudaraan dalam agama, yang mengajak kalian pada saling berhubungan dan berdamai dan taqwa kepada Allah dan semangat mendekatkannya. Dan ketika kalian saling berdamai dan bertakwa kepada Allah Ta’ala, kalian akan menjadi keluarga pada kasih sayang dan pahalaNya”.

3. Imam Az-Zamakhsyari dalam Tafsir Al-Kasysyaf :
“Pada dasarnya hubungan antara orang-orang yang beriman berdiri pada saling menyambung dan saling sayang, tidak atas dasar percekcokan dan sengketa. Apabila terjadi cekcok antara dua kelompok orang-orang yang beriman, maka wajib bagi orang -orang yang beriman lainnya, wajib mendamaikan keduanya hingga mereka kembali pada hukum Allah Ta’ala”.

Dalam Al Qur’an surat Al Hujurat ayat 11, 12 dan 13. Ini yang menurut saya Persaudaraan menjadi sangat penting dan ini diatur sangat detail dalam Al Qur’an.

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّنْ نِّسَآءٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۚ وَلَا تَلْمِزُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَا بَزُوْا بِا لْاَ لْقَا بِ ۗ بِئْسَ الِا سْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِ يْمَا نِ ۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olok , dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olokkan perempuan lain, karena boleh jadi perempuan yang diolok-olokkan lebih baik dari perempuan yang mengolok-olok. Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
(QS. Al-Hujurat 11)

Kita pernah melewati masa-masa sehingga lahir istilah : Sontoloyo, Kampret dan sebagainya. Padahal Pemilu di negara kita ini sudah ada sejak tahun 1955, tapi istilah “kampret dan kecebong” itu hanya ada pada Pemilu yang lalu. Mungkin karena masa kampanye yang terlalu lama, sampai satu semester lebih.

Ayat ini adalah panduan yang sangat detail. Mungkin karena memang ada bawaan tabiat kita suka mengolok -olok orang.

Orang yang sedikit kaya kemudian senyumnya sudah beda, jalannya beda. Tak mau menyapa. Begitu juga yang mendapat jabatan tertentu tak mau menyapa dulu. Begitu juga yang punya sedikit ilmu apalagi kalau dia sudah populer di dunia maya, you tubenya banyak kadang-kadang juga menjadi sombong. Bawaan manusia tampaknya begitu : Sombong, ujub, mengagumi dirinya sendiri.

Bahkan imam Ibnu Athaillah Al- Askandari dalam kitab Al Hikam sempat mengatakan orang yang suka ujub, sum’ah, mengagumi pada dirinya sendiri yang kemudian ujudnya menyombongkan diri sebagian dari kesyirikan karena menganggap dirinya hebat.

Dalam ayat 11 ini ada larangan : jangan mengolok-olok orang lain, juga jangan suka menyalahkan diri kamu sendiri (suka “maido”) itu juga tidak bagus. Bahasa anak-anak muda kalau sudah menghadapi masalah segera move on.
Juga jangan memberi gelaran buruk (kampret-kecebong) pada orang lain.

Pada ayat berikutnya Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۗ اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّا بٌ رَّحِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat 12)

Dalam praktek kehidupan sehari-hari susah dihindari purbasangka, su’udzon atau curiga. Kita harus waspada tapi su’udzon tidak boleh. Apalagi su’udzon kepada Allah.

Ada hadits Qudsi

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي إِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

Dari Abu Hurairah dia berkata; Nabi SAW bersabda: “ALLaah ‘azza wajalla berfirman; ‘Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil.”
(HR. Al-Bukhari Muslim)

Dalam bahasa kedokteran, orang kalau mau sehat syaratnya harus ada optimisme. Mau periksa ke dokter harus ada modal husnudzon, harus percaya apa yang disampaikan dokter. Tentu dengan kesadaran bahwa bila aku sakit maka Allah yang akan menyembuhkan tetapi melalui perantaraan dokter. Dokter yang bisa mendiagnose dan memberikan resep. Karena percaya kepada dokter, in syaa Allah kesembuhan akan diberikan oleh Allah.

Sebagian dari buruk sangka itu dosa. Dan kita dilarang mencari keburukan orang lain dan jangan menggunjingkan orang lain. Di era medsos, industri hoax nampaknya menjadi bagian penting, sehingga saat ini ada istilah influencer ada buzzer yang menjadi “profesi” tersendiri.

Ini yang terjadi diluar dan tak mungkin terjadi dilingkungan jamaah pengajian “Google Meetiah”, tak mungkin menjadi buzzer. Itu adalah fungsi-fungsi yang dilakukan untuk memproduksi hoax. Bahkan MUI sampai mengeluarkan fatwa tentang tata cara menggunakan medsos.

Tentang menggunjing, ada uraian Nabi tentang orang yang bangkrut.
Orang yang bangkrut itu dia shalatnya rajin, puasanya rajin, hajinya berkali- kali , zakatnya banyak tetapi pekerjaannya tiap hari memfitnah orang, memproduksi hoax, menjelek -jelekkan orang dan sebagainya itu nanti oleh Rasulullah dikategorikan sebagai orang yang bangkrut karena nanti pahala ibadahnya, shalatnya, puasanya, zakatnya, hajinya akan diminta satu-satu oleh orang yang menjadi korban ghibah dan korban tajassus.

Ada perumpamaan yang sangat mengerikan : “Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?”.
Pasti semua akan membencinya bahkan merasa jijik.

Penjelasan detail agar prinsip-prinsip persaudaraan bisa berjalan dengan baik pada ayat 13. Pada ayat 13 ini menggunakan “yaaa ayyuhan-naasu”, sehingga berlaku bagi semua manusia.

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَآئِلَ لِتَعَا رَفُوْا ۗ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَ تْقٰٮكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat 13)


Konsep Persaudaraan Sesama Muslim

Kalau di dalam Al Qur’an berbicara tentang orang yang beriman. Kemudian dalam hadits disebutkan tentang Orang islam.

Dan dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Orang islam adalah saudara orang islam, tidak mengkhianatinya, tidak mendustainya, tidak merendahkannya. Setiap orang islam pada orang islam haram materi, harta dan darahnya. Taqwa disini dengan menghitung seseorang dari keburukan apabila menghina saudaranya yang muslim”. (Riwayat At Tirmidzi)



BERSAMBUNG
Bagaimana Implementasinya ?


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here