Dr.H.Zuhad Masduki.MA

4 Ramadhan 1441/ 27 April 2020


Dalam tulisan para pakar agama islam dijelaskan bahwa agama islam memiliki sekian banyak kharakteristik

1. Kharakteristik Robaniyah

Ajaran islam itu bersumber dari Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW kemudian disampaikan kepada umatnya. Ketetapan-ketetapan yang ada dalam agama islam itu semua dilakukan dan ditetapkan oleh Allah SWT.

Dalam hal ini Rasulullah SAW berperan dan berfungsi sebagai :
– Mubaligh, menyampaikan ajaran itu kepada umatnya.
– Penjelas, yang menjelaskan ajaran -ajaran islam itu kepada umatnya.

Kalau kita lihat penjelasan Nabi kepada umat islam bentuknya banyak sekali. Dan bagaimana kita meneladani Nabi Muhammad juga bermacam-
macam.

Kalau kita mengikuti theori yang ditulis oleh Imam Al Qarrafi dalam kitabnya Al Quruf meneladani Nabi Muhammad itu dibagi menjadi lima kategori.
Dari lima itu ada yang wajib kita ikuti, ada yang tidak boleh kita ikuti, ada yang mubah untuk kita ikuti.

Pertama, Nabi Muhammad dalam kapasitasnya sebagai Rasul.

Maka semua yang beliau sampaikan itu mengikat kita semua. Dan kita harus mengikuti apa yang beliau jelaskan. Ini yang berhubungan dengan masalah akidah, masalah Meta fisika dan masalah ibadah mahdoh. Disini kita tidak boleh merekayasa dan tidak boleh menetapkan sendiri. Kita terikat dengan apa yang ada dalam Al Qur’an dan penjelasan-penjelasan dari Rasulullah SAW.

Kedua, Nabi Muhammad dalam kapasitasnya sebagai Mufti.

Artinya beliau yang diberi wewenang untuk menjelaskan agama islam, yaitu Al Qur’an. Kalau Rasulullah sudah menjelaskan , maka penjelasan beliau pasti benar. Tetapi kita sebagai umatnya tetap ada ruang untuk pengembangan terhadap penjelasan- penjelasan Rasulullah itu.
Salah satu penjelasan Nabi yang memungkinkan untuk dikembangkan adalah penjelasan beliau yang oleh para ulama disebut sebagai Tamsil.

Tamsil itu artinya Nabi Muhammad mengambil kasus-kasus yang terjadi di masyarakat untuk menjelaskan Al Qur’an.

Contoh-contoh Tamsil :

1. Penjelasan siapa “al- maghdhuubi” dalam ayat terakhir Surat Al Fatihah

 غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآ لِّيْنَ

“.bukan mereka yang dimurkai, dan bukan mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah 7)

Rasulullah menjelaskan “al-maghdhuubi” adalah Orang Yahudi.
Pertanyaannya , apakah yang dimurkai oleh Allah adalah orang-orang Yahudi.? Para ulama menjawab : Tidak.
Orang Yahudi itu adalah contoh kongkrit masyarakat yang ada pada masa Nabi Muhammad yang dimurkai oleh Allah SWT.

Mereka dimurkai bukan karena etnisnya,bukan karena kebangsaannya tetapi karena perilakunya. Sehingga dari situ ulama menjelaskan bahwa yang dimurkai Allah adalah semua orang yang berperilaku seperti perilakunya orang-orang Yahudi pada masa turunnya Al Qur’an.

Apa saja perilaku orang Yahudi pada waktu itu sehingga mereka dimurkai ?
Untuk itu kita bisa mencari di dalam Al Qur’an.

Orang Yahudi menolak kenabian Nabi Muhammad dan menolak ajaran islam.
Penolakan itu bukan karena mereka tidak tahu, tetapi justru karena mereka tahu. Karena ajaran islam berseberangan dengan kepentingan- kepentingan mereka. Baik itu kepentingan agama, kepentingan politik, kepentingan sosial, kepentingan ekonomi dan sebagainya.

Kalau ini kita bawa ke masa kita sekarang, maka kalau ada orang- orang yang mempunyai perilaku yang seperti itu, yaitu menolak kebenaran karena kebenaran tidak sejalan dengan kepentingan mereka, maka mereka bisa disebut Yahudi.


2. Firman Allah dalam Al Qur’an agar bersiap menghadapi musuh.

وَاَ عِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ

“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki” (QS. Al-Anfal 60)

Rasul menjelaskan kata “quwwatiw” itu dengan “ar romyu” (memanah). Tentu saja senjata Panah bukan kemudian berlaku untuk selamanya. Tapi ini adalah contoh kongkrit jenis senjata yang efektif untuk mengalahkan lawan pada masa itu. Untuk masa sekarang kita mesti mengikuti teknologi persenjataan modern sesuai perkembangan zaman. Kalau tidak mesti kita akan dikalahkan oleh bangsa-bangsa yang lain.
Artinya Nabi menjelaskan Al Qur’an tetapi kita tetap diberi wewenang untuk mengembangkan.


3. Perintah membayar zakat.

وَاَ قِيْمُواالصَّلٰوةَ وَاٰ تُواالزَّكٰوةَ وَا رْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ

“Dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah 43)

Zakat belum ada rinciannya di dalam Al Qur’an. Kita kalau mengumpulkan hadits-hadits berkaitan dengan zakat, maka jenis benda yang dizakati itu jumlahnya ada 8.

Apakah zakat hanya terbatas pada 8 macam harta? Ulama menjawab : Tidak.

Delapan itu adalah contoh kongkrit jenis-jenis harta benda yang sudah ada pada masa Rasul. Perkembangan dari masa Rasul sampai saat ini terjadi perkembangan banyak sekali jenis-jenis harta kekayaan.
Sekarang ada Zakat Profesi, ada Zakat usaha Kost. Sekarang ada orang yang bergerak dibidang Peternakan, bidang Perikanan. Ini dulu pada zaman Nabi belum ada. Disini kita diberi wewenang untuk mengembangkan penjelasan- penjelasan Rasul tadi.


Ketiga, Rasulullah sebagai hakim

Kalau melerai pertikaian beliau mendengarkan alibi kedua belah pihak. Setelah itu beliau pertimbangkan siapa yang alasan-alasannya paling kuat. Maka kemudian merekalah yang dimenangkan dalam persengketaan itu. Disini kita juga harus mencontoh Nabi di dalam melerai pertikaian yang terjadi di dalam masyarakat.

Kita harus mendengarkan alibi kedua belah pihak, kemudian kita bisa memutuskan siapa yang alasannya lebih kuat dibanding dengan yang lain.
Tidak boleh memutus perkara hanya karena kita dekat dengan orang itu, atau orang itu satu suku dengan kita, atau satu organisasi dengan kita, walaupun salah dia kemudian kita menangkan di dalam perkara itu.


Keempat, sebagai Pemimpin Arab

Petunjuk -petunjuk beliau kepada masyarakat yang dipimpin pasti sangat tepat dan sangat sesuai dengan kondisi masyarakat yang ada pada masa itu. Tetapi untuk orang- orang yang jauh masa hidupnya dari masa Nabi, atau secara geografis tidak sama dengan Nabi , maka yang harus dicontoh dari Nabi bukan apa yang dilakukan Nabi secara persis. Yang harus diambil dari Nabi adalah Semangatnya, pesan-pesan moral yang dilakukan oleh Rasulullah.

Imam Al Qarrafi memberi contoh Pakaian. Nabi Muhammad pakaiannya gamis. Orang-orang Musyrik juga pakaiannya gamis karena itu pakaian Arab.

Kita yang di Indonesia tidak harus memakai gamis untuk meniru Nabi karena menurut Al Qur’an fungsi pakaian itu empat :
– Menutup aurat
– Melindungi badan dari panas dan dingin.
– Sebagai hiasan sehingga orang berpakaian kelihatan indah dan cantik.
– Sebagai simbol identitas.

Jadi kalau pakaian sudah memiliki peran-peran itu, maka itu yang disebut dengan pakaian islami. Label islami tidak harus persis dengan apa yang dipakai oleh Rasulullah SAW.


Kelima, Nabi Muhammad sebagai pribadi

Sebagai pribadi ini dibagi menjadi dua:

1. Pribadi yang ada hubungannya dengan tugas kerasulan.

Maka disini kita tidak boleh ikut atau kalau misalnya ikut hukumnya hanya sunah. Seperti :
– Nabi wajib shalat Tahajud, kita hanya wajib Shalat Lima Waktu.
– Nabi boleh menikah lebih dari empat dalam satu waktu. Umatnya hanya boleh menikah poligami maksimal empat kalau mau.

2. Pribadi yang tidak ada hubungan dengan kerasulan.

Disini menyontoh Nabi sifatnya mana- suka. Misalnya :
– Nabi mengkonsumsi jenis-jenis makanan dan minuman. Kita mau ikut Nabi silahkan, tidak juga tidak apa-apa.
– Nabi memelihara jenggot dan agak memanjangkan rambutnya.
Disini orang mau mengikuti Nabi sifatnya Maktsurat, tidak mengikat.
Tapi menurut Imam Al Qarrafi kalau kita mengikuti Nabi dalam hal -hal seperti ini dengan niat itiba’ Nabi, in syaa Allah mendapatkan pahala dari Allah SWT.


2. Kharakteristik Insaniah

Maksudnya ajaran-ajaran islam sesuai dengan fitrah manusia. Tidak ada ajaran-ajaran islam yang berseberangan dengan fitrah manusia.

Misalnya :

– Kecenderungan syahwat manusia, laki-laki kepada Perempuan dan sebaliknya. Kecenderungan sex ada pada semua manusia.
Disini Al Qur’an tidak memberangusnya tetapi Al Qur’an hanya sebatas mengatur supaya pelampiasannya mengikuti tuntunan-tuntunan syariah. Dalam hal ini islam mewajibkan adanya pernikahan yang sah antara suami dan istri untuk bolehnya mereka melakukan hubungan intim antara keduanya.

– Kecintaan kepada harta benda adalah naluri manusia. Islam hanya mengatur bagaimana cara perolehannya kemudian bagaimana cara penggunaannya, tasaruf terhadap harta benda yang sudah didapat oleh manusia.


3. Kharakteristik Waqi’iyyah –  (Realistis)

Realistis sesuai dengan tempat, waktu dan situasi.

Menurut Muhammad Abduh seorang mufasir dari Mesir, dia membagi ajaran islam menjadi dua.

1. Ajaran islam yang sifatnya Rinci.

Tidak boleh dimasuki oleh pemikiran- pemikiran manusia. Ini berkaitan dengan masalah akidah, masalah Meta fisika dan berkaitan dengan masalah ibadah mahdoh.

2. Ajaran yang sifatnya Global.

Yang penjelasannya mengikuti perkembangan zaman, mengikuti perkembangan pemikiran manusia dan perkembangan sosial kemasyarakatan. Maka disitulah diperlukan adanya nasehat dari para ulama untuk membuat rincian terhadap ajaran-ajaran islam yang sifatnya masih global.

Ulama lain membuat pemilahan dengan istilah

1. Tsawabit

Ajaran islam yang tetap tidak berubah sepanjang zaman dari masa ke masa. Dari masa Rasul sampai Hari Kiamat. Ini sebetulnya sama dengan kategori yang dibuat oleh Muhammad Abduh tadi.
Contohnya seperti ibadah-ibadah mahdoh. Haji tidak akan berubah sepanjang masa.Tempatnya tetap di Arab, tak bisa digeser ke tempat lain. Tata caranya seperti yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah.

2. Muthagoyyirat

Ajaran-ajaran islam yang berpotensi berubah. Berubah bisa karena perubahan zaman, karena perubahan struktur sosial masyarakat, karena perubahan waktu dan lain sebagainya.

Seorang pakar islam klasik, Ibnul Qayyim menulis dalam kitabnya Ilām al Muwaqqi‘in an Rabbi al-
‘Ālamin

Perubahan hukum dapat terjadi karena empat hal :
– karena perubahan zaman
– karena perbedaan tempat
– karena perbedaan kultur
– karena perbedaan motivasi.

Kalau itu semua ada maka hukum- hukum bisa mengalami perubahan.
Kita mengetahui banyak sekali hukum- hukum agama yang berkaitan dengan masalah Sosial, Ekonomi, Politik, Kebudayaan yang berubah karena perubahan zaman, karena perbedaan tempat, karena perbedaan kultur dan juga karena perbedaan motivasi.
Perubahan adalah satu keniscayaan yang tidak bisa kita halang-halangi.

Kalau mau ambil contoh banyak sekali di masyarakat kita.

Indonesia termasuk negara islam yang paling produktif dalam merumuskan ajaran- ajaran islam yang mengalami perkembangan zaman. Termasuk masalah yang sensitif, yaitu masalah waris.

Hukum Masalah Waris
Kalau waris pembagian 1:2 antara Perempuan dan Laki-laki belum bisa diterima, pembagiannya diinginkan menjadi 1:1 , tetapi dalam salah satu aspeknya sudah ada yang mengalami perubahan. Di Indonesia dirumuskan adanya Waris Pengganti.

Kalau ada orang tua meninggal, tidak punya keturunan maka menurut ketentuan syariat dalam hadits penerima warisan adalah saudara laki-laki saja.

Di Indonesia ada rukshah baru, dalam Kompilasi Hukum Waris, warisan itu nanti diterima oleh semua saudaranya, baik laki-laki maupun perempuan semua dapat, dengan perbandingan 1:2.

Negara yang lain belum ada yang punya ketetapan hukum seperti Itu.
Ini konteks keIndonesiaan.


4. Kharakteristik Washatiyah (Moderat)

Menjadi orang islam juga harus menjadi moderat, di dalam sikap beragama tidak ekstrim menyangkut berbagai persoalan. Terutama kalau menyangkut masalah Sosial dan Kebudayaan. Kita tidak boleh mengatakan pendapat kita sendiri yang paling benar, apalagi itu menyangkut wilayah ijtihadiah.


5. Kharakteristik Al-Wudhuh (Jelas, Logis)

Islam memperkenalkan ajarannya ada yang Rasional, ada yang Supra Rasional. Supra Rasional berkaitan dengan masalah-masalah alam Ghoib, masalah Meta fisika. Disini kita tidak boleh merasionalkan hal-hal yang sifatnya Meta fisika.

Alam Ghoib tidak boleh dikiaskan dengan alam kasat mata karena memang akal pikiran manusia tidak akan bisa menjangkau kesana.
Disini kita sikapnya hanya menerima sebatas informasi yang disampaikan oleh Al Qur’an kepada kita dan juga oleh Nabi Muhammad kepada kita.


6. Kharakteristik Penahapan

Ada penahapan di dalam penetapan hukum -hukum agama. Ini penting untuk kita yang hidup di masa modern di dalam berdakwah.

Salah satu contohnya adalah pengharaman khamr. Disitu kita melihat ada tiga ayat yang berbicara tentang khamr.

Ayat pertama :
Hanya menginformasikan bahwa khamr itu ada manfaatnya, tapi lebih banyak mudhorotnya. Jadi belum diharamkan secara tegas.

Ayat yang kedua :
Membatasi pengkonsumsian khamr. Kalau masih mau mengkonsumsi khamr pada waktu-waktu tertentu saja. Jangan dekat-dekat waktu shalat.

Ayat yang ketiga :
Baru setelah masyarakat siap, ditetapkan pengharaman khamr.

Dalam berdakwah kita harus “empan papan”, audience kita siapa? Jangan sampai semua audience disamaratakan. Nanti akan terjadi persoalan pada mereka.


7. Kharakteristik Jumlah Tugas Sedikit

Beban keagamaan yang dibebankan pada kita jumlahnya hanya sedikit.
Shalat hanya lima kali sehari.
Haji kewajibannya hanya sekali seumur hidup.
Zakat yang harus kita bayarkan juga sedikit.
Ajaran-ajaran islam yang jumlahnya sedikit ini jangan berhenti pada formalitasnya. Kita harus menangkap makna dibalik formalitas.

Puasa yang kita lakukan sekarang juga hanya sedikit. Hanya satu bulan dari dua belas bulan.
Tapi kita jangan berhenti hanya melakukan formalitasnya saja.
Kita harus dapat menangkap makna dibalik kewajiban Puasa Ramadhan.

Diantara makna yang ada dibalik Puasa adalah latihan menghayati kehadiran Allah dalam kehidupan kita. Sehingga kalau perasaan kehadiran Allah ada pada kita setiap saat, akan menjadi pengawasan melekat pada kita semua. Sehingga kita tidak akan berani untuk melakukan pelanggaran -pelanggaran apapun. Karena itu akan membawa kejatuhan moral dan spiritual kita.


TANYA JAWAB

Pertanyaan :

1. Dalam ayat terakhir Al Fatihah dijelaskan bahwa Yahudi dimurkai oleh Allah dan Nasrani dikatakan sesat. Mohon penjelasan.

Jawaban :

1. Nabi Muhammad SAW sudah menjelaskan kepada kita :

a. Yang dimurkai oleh Allah adalah Yahudi.

Kalau kita fahami secara tekstual, maka yang dimurkai oleh Allah itu seolah-olah hanya orang Yahudi. Tetapi ulama-ulama dahulu tidak memahami demikian. Karena ini penjelasan Nabi yang masuk kategori Tamsil. Tamsil itu Nabi mengangkat kasus yang ada pada masanya untuk menjelaskan Al Qur’an. Sehingga untuk memahami penjelasan Nabi itu kita harus mengadakan pendekatan secara historis. Kita bisa dapat menemukan sekian banyak item perilaku Yahudi yang menyebabkan mereka dimurkai oleh Allah SWT. Yang paling besar adalah Penolakan mereka terhadap islam dan permusuhan mereka terhadap Nabi Muhammad SAW.
Mereka menolak islam bukan karena tidak tahu, mereka sangat tahu.

Allah SWT berfirman:

وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ ۗ 

“Dan tidaklah terpecah-belah orang-orang Ahli Kitab melainkan setelah datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. Al-Bayyinah 4)

Penolakan mereka sesudah datang Al Qur’an. Masyarakat yang berperilaku seperti ini ada terus, dari zaman Nabi sampai pada zaman kita sekarang. Maka penjelasan Nabi tadi tidak membatasi bahwa yang dimurkai hanya orang Yahudi. Termasuk kepada mereka yang paling keras penolakannya pada islam. Karena kebenaran islam tidak sejalan dengan kepentingan mereka. Bisa kepentingan agama, bisa kepentingan ekonomi, politik, sosial-budaya dan lain-lain.

Membaca penjelasan Nabi itu tidak tekstual, tapi dipilah-pilah. Salah satunya adalah yang namanya Tamsil. Ini juga perlu kita kembangkan terhadap Al Qur’an. Tidak boleh difahami secara tekstual. Perlu mengembangkan dengan pendekatan yang relevan.


b. Yang zalim adalah Nasrani.

Kenapa Nasrani tidak disebut dimarahi? Karena tingkat permusuhan mereka kepada islam lebih ringan dibanding tingkat permusuhan orang Yahudi kepada islam.
Dan orang Nasrani pada waktu itu sudah mendapat sedikit petunjuk. Tetapi petunjuk yang sudah mereka dapat tidak mereka lanjutkan. Sehingga mereka menjadi sesat kembali.

Kalau kita membaca surat Ali Imran, disitu dijelaskan perdebatan antara Nabi Muhammad dan delegasi Nasrani Najran. Berdebat menyangkut Ketuhanan Nabi Isa. Disitu Al Qur’an membeberkan keluarga Imran dari asal usulnya sampai Nabi Isa. Bahwa Nabi Isa bukan Tuhan. Tetapi orang- orang Nasrani Najran tidak bisa menerima penjelasan Nabi Muhammad.

Akhirnya Nabi Muhammad menantang mereka untuk melakukan mubahalah. Sumpah dengan membawa serta keluarga yang kalau sumpahnya salah maka siap untuk dilaknat. Mereka tidak berani, kemudian pergi.
Mereka sudah mendapatkan petunjuk dari Nabi langsung, tetapi petunjuk ini tidak dilaksanakan, akhirnya mereka sesat kembali. Tapi permusuhan mereka kepada islam tidak sekeras permusuhan orang Yahudi.

Orang-orang sekarang yang sebenarnya sudah mendapat petunjuk sedikit tapi tidak dikembangkan juga banyak. Mereka juga sesat. Orang-orang kita yang murtad masuk kategori ini. Karena faktor ekonomi, politik, jabatan atau karena kedekatan dengan non muslim lalu mereka kemudian murtad dari islam.


Komentar :

2. Faktor kemurtadan ada lagi, yaitu tertarik dengan lawan jenis. Ada lagi karena disekolahkan.
Tetapi yang masuk islam justru karena mendalami agama.
Saya pernah menghadiri majelis, dimana ada orang mengucapkan kalimat Syahadat. Kira-kira tahun 1998. Ada seorang teolog yang belajar Al Qur’an 10 tahun, mungkin kita malah kalah. Dalam waktu 10 tahun itu beliau binggung tapi akhirnya punya keyakinan harus masuk islam. Tapi karena keadaan , beliau sembunyi-sembunyi dan mencari mushola yang tersembunyi.
Pada saat itu Ramadhan juga dan pas ada kegiatan Pesantren Kilat. Beliau berpesan mohon dirahasiakan karena menyangkut keselamatan jiwa.

Tanggapan :

2. Kasus seperti itu sudah terjadi pada masa dulu. Orang Yahudi sangat sedikit yang masuk islam, karena kalau mereka masuk islam dapat ancaman dibunuh oleh masyarakatnya sendiri.

Saya juga pernah mengenal seorang Orientalis yang masuk islam. Namanya Prof Dr Karel Steenbrink dulu dia diislamkan oleh Buya HAMKA. Kemudian mondok di Gontor dua tahun. Lalu melakukan penelitian di Indonesia. Penelitiannya menjadi buku “Pesantren, Sekolah dan Madrasah” , terbit tahun 1985.

Selama dia meneliti dia muslim. Setelah itu dia kembali ke Belanda dan murtad lagi. Ada teman Indonesianya yang bertanya kepada Steenbrink.
Jawabnya enteng saja : “Saya kalau di Belanda kalau tetap muslim tidak dapat pekerjaan”.

Jadi untuk bisa bertahan hidup di Belanda dia harus mengubah akidahnya. Non muslim masuk islam biasanya karena meyakini, bukan karena faktor ekonomi atau faktor hutang budi. Beda dengan yang muslim kemudian murtad biasanya bukan karena Pengetahuan, tapi masalah ekonomi atau pekerjaan.


Pertanyaan :

3. Tadi malam saya membaca Al Qur’an tentang surat Al Maidah ayat 69 tentang orang Nasrani yang berbuat baik, mereka tak perlu sedih dan tak perlu khawatir.

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَا لَّذِيْنَ هَا دُوْا وَا لصَّا بِئُـوْنَ وَا لنَّصٰرٰى مَنْ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَعَمِلَ صَا لِحًـا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Sabi’in, dan orang-orang Nasrani, barang siapa beriman kepada Allah, kepada hari kemudian, dan berbuat kebajikan, maka tidak ada rasa khawatir padanya dan mereka tidak bersedih hati.”
(QS. Al-Ma’idah 69)

Penjelasannya bagaimana? Karena ada yang memaknai ayat itu bahwa kelak mereka juga masuk surga.

Jawaban :

3. Ayat itu redaksinya mirip dengan Surat Al Baqarah ayat 62 hanya bedanya ada yang didahulukan dan ada yang diakhirkan :

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَا لَّذِيْنَ هَا دُوْا وَا لنَّصٰرٰى وَا لصّٰبِئِـيْنَ مَنْ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَعَمِلَ صَا لِحًـا فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi’in, siapa saja di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari Akhir dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah 62)

Dari tafsir klasik sampai tafsir modern, ayat ini adalah ayat yang tafsirnya tidak tuntas.

Mayoritas ulama menyatakan bahwa orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi’in mendapatkan jaminan keselamatan kalau mereka mengakui Nabi Muhammad SAW. Bahkan ada yang mengatakan tidak cukup hanya mengakui tapi juga harus melakukan apa yang diajarkan Nabi Muhammad.

Tetapi ada minoritas (<1%) yang berpendapat sepanjang orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi'in itu berpegang teguh pada ajaran agamanya yang benar, mereka juga akan mendapatkan jaminan keselamatan di akhirat.
Diantara yang minoritas itu salah satunya Pak Alwi Shihab. Itu ada dalam bukunya : “Islam Inklusif”.
Dia punya pendapat seperti itu.

Tafsir ini dikatakan tidak tuntas karena mengandung multi tafsir.


Pertanyaan :

4. Dulu islam masuk ke Indonesia bertahap ajarannya. Walisongo dulu juga memasukkan ajaran bertahap. Ritual Hindu atau Buddha diubah dengan do’a muslim. Dan sampai sekarang masih ada Ritual Nyadran atau Sedekah Bumi. Harapannya kapan mereka harus meningkat? Karena yang terjadi mereka tetap dilevel itu.


Jawaban :

4. Ada persoalan Pemahaman.
Ada contoh lain, Nabi Muhammad dulu melarang ziarah kubur. Kemudian setelah masyarakat diberi pencerahan dan memahami aturan -aturan ziarah kubur, lalu diperbolehkan.

Rasulullah SAW bersabda,

 كنت نهيتكم عن زيارة القبور، فزوروها

“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah (HR Muslim).

Jadi dilarang karena ada alasan ; mereka ziarah kubur kemudian bertawasul kepada arwah-arwah yang ada di makam. Karena dulu konsep akidah orang Arab aslinya ada hierarki Ketuhanan. Ada Tuhan yang paling Agung yaitu Allah dan dibawahnya ada Tuhan-Tuhan lain, yang besar ada tiga : Latta, Uzza dan Manat. Ini diberantas islam dengan konsep Tauhid murni semurni-murninya. Setelah mendapatkan pencerahan, ziarah kubur diijinkan.

Kalau methode ini kita pakai, kita perlu melihat perilaku orang ziarah kubur itu bagaimana? Bila mereka tidak benar perilakunya, mestinya dihentikan dan mendapatkan pencerahan.

Walisongo ketika dakwah di Jawa, memang mengambil wadahnya, seperti “Slametan” karena membuat wadah itu sulit. Tetapi isinya kemudian dibersihkan. Tentu tidak bisa sekaligus tapi harus sedikit demi sedikit.

Jadi kalau kita lihat ini sebenarnya proses, belum final. Lalu siapa yang harusnya menyelesaikan? Tentunya adalah orang-orang islam yang datang setelah Walisongo. Sehingga seharusnya sekarang sudah bersih.
Namun pemahaman orang tidak sama. Ada yang menganggap bahwa ajaran Walisongo itu final, harga mati yang harus dilestarikan.
Pandangan dakwah, hal itu proses yang harus diselesaikan.


Pertanyaan :

5. Di Grup WA ada share doa Puasa hari pertama dan seterusnya sampai akhir. Ini bagaimana ?

6. Bagaimana waris yang tidak punya keturunan apakah boleh ditunjuk kepada Adik atau Keponakan tertentu apa boleh?

Jawaban :

5. Do’a puasa hari pertama sampai hari terakhir bukanlah hadits. Ini adalah pikiran orang, atau bila dianggap hadits adalah hadits palsu. Tapi karena orang tidak tahu maka diterima saja. Atau bahkan bisa jadi ada hadits palsu yang dianggap menguntungkan secara sosial, ekonomi atau politik.
Sejarahnya dulu memang orang membuat hadits palsu karena ada faktor ekonomi, politik atau sosial.

Kalau kita mau mengamalkan agama harus mencari dalilnya benar atau tidak. Seperti kemarin Hadits saling bermaafan sebelum Puasa, itu tidak benar. Dia mengubah hadits asli, diambil awalnya kemudian diubah teks berikutnya. Jadi itu hadits palsu juga. Maka kita sebaiknya hati-hati kalau melakukan amaliah keragaman.

6. Tentang waris itu harta benda dibagi kalau dia sudah meninggal. Tetapi kalau pembagian harta benda sebelum meninggal namanya Hibah. Ini boleh dilakukan.

Apabila dia membuat pesan sebelum meninggal tapi hartanya baru akan dibagikan setelah meninggal namanya Wasiat. Ini boleh dilaksanakan.


Pertanyaan :

7. Ketika membaca Al Fatihah selalu dijawab dengan “aamiin”. Apakah hukumnya bacaan ini? Kalau wajib kenapa dalam mushaf Al Qur’an tidak ditulis?

8. Dalam Fatwa MUI tentang Covid-19 mencantumkan Ayat dan Hadits. Kalau ini tidak ditaati bagaimana? Misalnya kalau kita tetap nekad ibadah di masjid apa hukumnya?


Jawaban :

7. Aamiin memang bukan bagian dari Al Fatihah. Aamiin itu tafsirnya :
allahummas tajib (Yaa Allah perkenankan permohonan). Hukum membaca ini sunah, tidak ada yang mewajibkan.

8. Menyangkut peraturan pemerintah dan fatwa MUI memang harus ditaati. Kita taat kepada Ulil amri dan taat kepada Ulama dalam rangka memotong penyebaran Covid-19. Karena cara memotongnya memang kita tidak boleh berkumpul.
Aturan itu sudah sesuai dengan hadits Nabi

Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Hindarilah orang yang terkena lepra seperti halnya kalian menghindari seekor singa.” (HR Bukhori)

Rasulullah SAW pernah bersabda,
“Wabah Tho’un adalah azab untuk Bani Israel dan Umat sebelum kamu”.
‘Bila kamu mendengar wabah di suatu daerah, maka kalian jangan memasukinya. Tetapi jika wabah terjadi wabah di daerah kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu (agar tidak menularkan) ,” (HR Bukhari dan Muslim).

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here