Dr.H. Haeruddin, SE MT

28 Ramadhan 1441/ 21 Mei 2020



Di dalam Ekonomi Islam titik beratnya Sektor Riil. Namun sekarang titik beratnya justru di Finance, ini perlu diluruskan. Lingkup ekonomi sektor Riil sebenarnya ada tiga : Produksi, Distribusi dan Konsumsi. Konsumsi baru ada jika ada Produksi. Supaya sampai pada konsumen harus ada Distribusi.

Pada saat pertama kali Rasulullah hijrah dari Mekkah ke Madinah. Tanpa membawa bekal sama sekali karena semua dilakukan mendadak. Tiba di Mekkah yang pertama kali dilakukan Rasulullah adalah mempersaudarakan antara Anshor (Orang Madinah) dan Muhajirin (Orang Mekkah).

Waktu dipersaudarakan, orang Anshor yang beriman dan takwa menawarkan apa yang dia miliki kepada Kaum Muhajirin. Tetapi Orang Muhajirin yang juga beriman dan takwa tidak mau memanfaatkan “aji mumpung”.
Pelajaran dari segi ekonomi disana yang timbul bukan memberi dan menerima tetapi Sharing.

Orang Madinah keahliannya bertani. Di Mekkah tak ada pertanian, maka mereka punya skill berdagang. Terjadi sharing ekonomi. Sebagai contoh adalah Sahabat Abdullah bin Auf seorang Mekkah yang kaya sekali. Ketika keluar dari Mekkah dia dihadang oleh orang Kafir. Dia disuruh memilih : Tetap tinggal di Mekkah dan bebas berusaha, atau hijrah ke Madinah mengikuti Rasulullah dengan syarat tidak boleh membawa apapun.

Abdullah bin Auf memilih hijrah dengan meninggalkan semua hartanya. Ketika tiba di Madinah dan dipersaudarakan, dia menolak diberi harta. Dia minta ditunjukkan dimana tempat Pasar. Akhirnya terjadi sinergi. Yang pertanian bidang produksi dan yang satunya bisa dagang, bidang Distribusi.

Oleh Rasulullah diusulkan membuat Pasar sendiri, karena pada waktu itu ekonomi dikuasai oleh Yahudi, ribanya juga luar biasa. Ketika umat islam membuat Pasar sendiri, membuat orang -orang Yahudi marah karena Rasulullah menguasai ekonomi.
Umat islam menguasai ekonomi karena Sektor riil lancar.

Demikian sebetulnya kita juga harus mengembangkan Sektor Riil. Kita punya Sumber Daya dan Sumber Dana yang harus kita himpun untuk membangun Sektor Riil. Yang kita kenal dengan Zakat, Infaq, Shodaqoh.
Disamping itu ekonomi islam yang sudah dikembangkan di Indonesia hanya Bidang Finance, Perbankan dan Asuransi. Yang lain belum.

Padahal ekonomi islam tidak hanya Finance. Karena sekarang ini seolah- olah yang tidak faham mengatakan bahwa Ekonomi Islam adalah Perbankan. Ekonomi Islam adalah Bank Syariah. Padahal itu hanya salah satu unsur dari ekonomi islam. Bahkan Bank Syariah itu hanya penunjang Ekonomi Islam. Dia hanya memfasilitasi antara orang yang punya dana dan yang butuh dana. Yang utama adalah Sektor Riil.

Kalau ingin memajukan sektor Riil harus mengembangkan yang dulu disebut ekonomi kerakyatan.
Jika Perbankan hanya membiayai Konsumsi, belum tentu mengembangkan ekonomi islam. Karena jika mengkonsumsi barang produk China maka sama saja membantu Sektor Riil China. Kalau mengkonsumsi barang produk Jepang sama saja membantu Sektor Riil Jepang.

Ekonomi Riil bisa berkembang jika sektor Riil bisa berkembang. Lazis harus masuk disini. Orientasi Lazis tidak boleh Konsumtif, tetapi bagaimana membuat Mustahik, diberi Zakat berubah menjadi Muzaki.

Untuk menyuburkan Sektor Riil di masyarakat tidak mudah. Jika hanya mengucurkan dana Perbankan meskipun tidak mudah, tapi pasti lebih gampang. Dengan analisis 5 C dan sebagainya sudah jalan. Yang penting bisa membayar dan produknya halal.
Tapi kalau Lazis belum tentu bisa.

Perbankan belum bisa mengangkat Ekonomi Islam karena orientasi Perbankan hanya mengucurkan dana. Untuk itu bisa dipertanggung jawabkan. Tetapi yang menyuburkan Sektor Riil belum ada. Karena masyarakat kita, orang islam mentalnya bukan mental usaha. Mentalnya mental konsumtif.

Beberapa kejadian yang kita temui, orang yang tak punya pekerjaan diberi modal, beberapa pekan lagi ditemui keadaannya tetap sama. Tak punya penghasilan karena modalnya dipakai untuk selametan dan sebagainya. Hal ini tidak mendidik.

Yang punya potensi membangun Sektor Riil adalah Lazis. Yang namanya menggunakan sumber dana untuk Sektor Riil bukan hanya mengucurkan dana bentuk uang. Mungkin untuk orang-orang Mustahik yang sudah mempunyai mental usaha bisa, diberi dana langsung dia jalan. Tetapi hanya berapa prosen yang bermental pengusaha, sedikit sekali.

Kesempatan sekarang ini banyak PHK dan banyak pengangguran. Lazis bekerjanya mulai dari mengumpulkan dana Zakat kemudian mentasyarufkan Zakat. Yang namanya mentasyarufkan Zakat bukan hanya sekedar mengucurkan.

Mulai dari orientasi bagaimana mengubah mindset orang yang menerima Zakat menjadi orang yang mandiri. Perubahan mental tidak cukup dengan memberi uang. Tidak cukup !
Perlu waktu yang lama, perlu methode tertentu.

Ada beberapa teman yang sudah melakukan di Lazis. Ketika memberi Zakat Produktif tidak diberikan uangnya, tidak dijadikan zakat semuanya. Tapi dilakukan seperti Pesantren Ekonomi. Diubah mentalnya dulu.

Kita dari kecil dipesan agar bersekolah yang pandai, nanti masuk Perguruan Tinggi jadi Sarjana dan Kerja di tempat dengan gaji yang besar.
Pesannya adalah Pesan untuk bekerja, bukan untuk berusaha. Itu sudah ditanamkan sejak kecil. Sehingga memorinya memori pekerja, bukan memori Pengusaha.

Apalagi ada sebuah hadits yang tak diterima tidak semestinya :
“Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim).

Disalah-artikan bahwa orang beriman tidak perlu berkecimpung langsung di dunia. Ini pendapat keliru yang banyak dipakai. Pesan ini harus diluruskan agar bagaimana melaksanakan ajaran islam itu benar-benar riil.

Di dalam Al Qur’an kata “Amal” yang artinya Kerja terulang lebih dari 300 kali. Kemudian yang ditanya oleh Allah besuk di akhirat bukan hasilnya apa, tetapi amalnya apa? Pekan lalu kita sampaikan bahwa harta hanyalah Alat.

Ternyata Filosofis- filosofis motivasi di dalam Al Qur’an itu banyak sekali.

Allah SWT berfirman:

وَا لَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا  ۗ وَاِ نَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridaan Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-‘Ankabut 69)

“lanahdiyannahum” , ada huruf LamTaukid, ditasydid yang artinya penekanan : Betul-betul akan kami tunjukkan “subulanaa” , adalah bentuk jamak dari sabil atau jalan. Artinya jalan keluar itu amat banyak.

Ini janji Al Qur’an, orang yang sungguh-sungguh dijalan Allah, melakukan usaha dengan cara yang benar, Allah akan menunjukkan banyak jalan. Artinya orang yang bersungguh sungguh tidak pernah mengenal jalan buntu. Ini adalah motivasi dari Allah.

Ada filsafat orang Jawa bahwa hidup itu seperti air. Ini bagus, tetapi kita jangan memakai filsafat Jawa semeleh
kesannya adalah menyerah.

Hidup seperti air. Air lari dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah, dengan semangat. Ketika menemukan ada hambatan, batu misalnya. Kita tidak pernah melihat air menyerah lalu kembali keatas. Tidak pernah. Dia lari kesana kemari tetap berusaha mencari jalan. Itu namanya jihad.

Tak ada peluang sekecil apapun yang tidak dimanfaatkan oleh air untuk ke bawah. Meskipun lubang hanya sekecil jarum, air akan masuk. Jadi ketika air dihambat batu, dia akan lari kekiri atau ke kanan mencari jalan. Atau bahkan kemudian dia lompat menjadi air terjun. Tak pernah ada air menyerah. Jadi filosofisnya diubah, hidup seperti air bukan semeleh tapi semangat.

Ada lagi filosofis orang Jawa yang belum selesai : “Alon-alon waton kelakon” (Pelan-pelan saja yang penting tercapai).
Sebenarnya filsafat atau Peri bahasa ini baru separo. Ada awalannya, karena sebenarnya ini kalimat perbandingan :
“Timbang cepet kliwat, luwih becik Alon-alon waton kelakon”. Daripada cepat tapi tak mendapat apa-apa, lebih baik sedikit pelan tapi pasti dapat.

Jadi banyak filsafat yang perlu kita luruskan. Dan banyak kata yang maksudnya bagus tapi tidak difahami :
“Tirakat” adalah Thariq artinya Jalan.
Tirakat itu betah melek betah ngelak, artinya adalah Kerja keras.
Betah melek artinya efisien.
Dalam Al Qur’an dan Hadits pun banyak sekali. Dan kita tak perlu mengambil dari barat. Sudah banyak theori motivasi.

Kata “Bismillahir rohmanir rohiem”.
Itu adalah motivasi yang luar biasa. Dengan menyebut Bismillah kita menyebut Nama Allah.
Yang keluar nama Arohman Arohiem.
Ketika kita mengerjakan sesuatu dengan mengucap itu maknanya Optimis. Sehingga tak ada kemungkinan gagal karena Allah Arohman Arohiem. Pasti.
Maka Bismillah itu sumber motivasi luar biasa. Orang tak akan merasa pesimis.

Allah pasti memberi jalan. Seperti burung yang tidak dapat menggunakan akal. Pagi -pagi dia dengan senang, optimis, dia terbang tanpa dapat memprediksi apakah dapat makanan atau mendapat bahaya? Tapi dia akhirnya kembali membawa makanan untuk anak-anaknya.
Kita yang punya akal jangan sampai kalah dengan burung.

Memotivasi Mustahik harus kuat, jangan hanya memberi uang untuk usaha, karena Mustahik tidak siap usaha, bagaimana kita bisa mengubahnya menjadi Muzaki? Bagaimana kita mensukseskan Program Zakat Produktif kalau mental mustahiknya tidak kita ubah ? .

Lazis tidak hanya memberi uang. Itu gampang sekali. Kerja Perbankan Syariah seperti itu, memberi uang, selesai. Yang dijaga jangan sampai terjadi mereka tidak bayar.

Mereka-mereka yang tidak berdaya dan secara Perbankan tidak layak, padahal mereka butuh , adalah bidang garapan Lazis. Agar mereka tidak jadi peminta-minta. Dan islam tidak pernah mengajari untuk menjadi Pengemis.

Ada sebuah hadits di Naulil Authar.
Suatu ketika ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah untuk meminta-minta. Rasulullah bertanya kepadanya tentang apa yang dimilikinya. Laki-laki itu menjawab hanya punya selimut dan cangkir. 

Rasulullah menyuruh laki-laki itu mengambilnya.  Rasulullah lantas melelang dua benda itu dan laku dua dirham.  Rasulullah sambil menyerahkan dua dirham sambil berkata :
“Belikan lah yang satu dirham makanan. Lalu satu dirham jadikan barang modal. Dua pekan lagi aku akan tanya hasilnya”.

Dua pekan kemudian laki-laki itu datang dan ditanya tentang hasilnya.
“Alhamdulillah uang sudah jadi 15 dinar”.
Ini orang miskin yang hanya punya cangkir dan selimut meminta-minta. Rasulullah tidak memberi tapi mengajarkannya agar mengubah dari konsumtif jadi Produktif. Jadi memberi motivasi untuk usaha.

Ini adalah tugas Lazis. Membuat zakat Produktif ini berat. Membuat sektor Riil di masyarakat jalan. Jalannya ekonomi islam ada di sektor riil. Kalau sektor riil tidak ada dan Bank Syariah hanya membiayai Konsumtif maka kembalinya hanya akan ke China, ke Jepang. Rakyat Indonesia tidak akan dapat apa-apa. Ekonomi Islam tidak akan menyentuh ke bawah.

Maka Zakat harus lewat Lazis supaya dapat dimanaged dengan baik.
Di dalam Surat At Taubah ayat 60 itu Lazis nomer 3 setelah Fakir Miskin. Itu menunjukkan bahwa Zakat harus lewat Lazis. Bahkan para ulama mewajibkan shadaqah lewat Lazis.

Lazis harus mengumpulkan dana. Mentasyarufkan dana, membuat pelatihan dan menyiapkan mental wira usaha. Ini nanti menjadi ukuran keberhasilan Lazis, berapa banyak Mustahik yang berubah menjadi Muzaki.

Itulah prinsip Ekonomi Islam, membuat manusia yang tak berdaya yang mereka tidak layak untuk menjadi nasabah Perbankan, menjadi manusia yang mandiri dan menjadi Produktif.

TANYA JAWAB

Pertanyaan

1. Tadi dikatakan ada pertanian di Madinah, setahu saya yang ada hanya kurma saja?

2. Bantuan dari Muhammadiyah yang jumlahnya banyak itu dari Warga atau dari AUM (amal usaha Muhammadiyah) ?

Jawaban

1. Madinah dianggap ladang Pertanian itu bila diperbandingkan dengan Mekkah. Maka terkenal orang Medinah itu petani, orang Mekkah pedagang sehingga terjadi sinergi.
Masalah komoditinya apa hanya pertanian ternyata juga tidak, ada ternak juga.

2. Muhammadiyah menyumbang bencana Covid luar biasa besarnya, sumbernya dari semuanya, sumbangan warga lewat Lazismu dan AUM.
Alhamdulillah orang Muhammadiyah gampang untuk diajak menyumbang bencana. Mengumpulkan sekian milyard dalam dua minggu mudah.
Membuat masjid, membuat Sekolah in syaa Allah mudah.
Tetapi ada kelemahan, warga Muhammadiyah tak mau mendukung pengumpulan dana untuk usaha riel.


Pertanyaan

3. Sekarang ini banyak anak-anak berkumpul dijalan untuk meminta- minta. Perundangan tidak memperkenankan kita memberi sedekah kepada mereka, meskipun kita mau. Disisi lain tidak ada aparat negara yang mencegah mereka menjadi pengemis. Bagaimana solusinya?

Jawaban

3. Ada ijtihad ulama yang mengatakan apabila seseorang masih kuat berusaha, punya tenaga, punya pikiran, mental dan fisik sehat tapi dia menjadikan Pengemis sebagai mata pencaharian pokok maka hasilnya haram.

Kalau kita melihat pengemis ditepi jalan sebaiknya tidak memberi. Karena dengan memberinya anda tidak mendidik. Orang kalau sudah nyaman jadi pengemis dipinggir jalan susah untuk diproduktifkan.
Ini saya alami sendiri, saya tanya pengemis : “Kenapa pulang siang?”
Jawabnya : “Sepi”

“Memang dapat berapa kok sepi? “
“Baru dapat sembilan puluh ribu”
Itu kondisi sepi. Kalau ramai seperti apa?

Dari segi ekonomi, profesi mengemis itu dengan modal sangat minim dan mendapat hasil banyak sekali. Tetapi harga dirinya tidak diperhatikan.
Jadi lebih baik tidak memberi. Karena sama sekali tidak mendidik. Semakin banyak yang memberi, profesi pengemis semakin menguntungkan.

Jangan terkejut bahwa Pengemis itu banyak yang lebih kaya daripada yang memberi. Bajunya yang jelek itu kostum, bukan karena miskin.
Ada kasus riil bahwa ada pengemis punya hajat dan mengundang orang yang suka memberinya. Ternyata rumahnya luar biasa.
Pernah ada pengemis yang ditangkap, uang yang dibawa sampai 80 juta.


Pertanyaan

4. Sebuah Bank Syariah menawarkan pada nasabah untuk memberikan shodaqoh 2000, cuma kita tidak pernah diberitahukan apa peruntukan shodaqoh itu. Mohon pencerahan.

Jawaban

4. Ini masalah kepercayaan. Kalau percaya kita shodaqoh. Kalau tidak tak usah


Pertanyaan

5. Uang sekarang mengalami dua transformasi, dari giral kemudian uang kertas. Sekarang masuk fase ketiga uang dunia maya atau uang digital (Crypto currency). Bagaimana cara pandang islam terhadap transformasi uang ini dan solusi terbaik untuk umat?

Jawaban

5. Dalam syariah uang hanya merupakan alat pembayaran. Bila tidak demikian akan timbul riba.

Riba memperlakukan uang ibarat jual beli beras.
Kulakan tabungan 5% dijual 8%. Hampir sama logikanya :
Belanja beras 10 ribu dijual 12 ribu.
Banyak orang yang mengomentari kedua hal itu : Riba dan Jual Beli sama.

Lalu kenapa Jual beli halal dan Riba haram?
Masalahnya filosofinya berbeda. Uang itu bukan Produk, dia hanya Alat pembayaran yang tak boleh diperdagangkan.

Tatkala uang sudah lagi tidak dalam bentuk fisik, sekarang sudah ada kartu Toll. Tak bisa keluar Toll tanpa kartu.
Ajaran islam mempersilahkan hal itu karena masih berfungsi alat pembayaran. Selama dapat dipakai untuk alat pembayaran yang sah, silahkan saja.


Pertanyaan

6. Bagaimana hukumnya hutang dalam islam? Banyak orang mau pinjam kepada saya dengan alasan takut riba jika pinjam ke Bank. Apakah saya berhak untuk menolak?

Jawaban

6. Surat Al Baqarah 282 atau ayat terpanjang dalam Al Qur’an itu mengatur masalah hutang. Aturannya dicatat dan ada saksi. Menunjukkan hutang tidak dilarang.

Hutang hukum awalnya adalah boleh. Tatkala datang orang berhutang silahkan saja diberi. Asal tidak ada perjanjian waktu mengembalikan membayar lebih.
Dengan memberi pinjam 10 juta agar orang berusaha dan kemudian dikembalikan tetap 10 juta. Sudah ada unsur shodaqoh didalamnya. Namanya wakaf manfaat dari uang.

Wakaf tidak harus diberikan sebagai hak milik. Dengan meminjamkan uang, uangnya dimanfaatkan.
Misalnya yang pinjam untuk jualan bakso. Dengan pinjaman tadi, dia berjaya, sukses.
Uangnya dikembalikan, jumlahnya tidak berkurang. Selama dia berjualan bakso, yang memberi pinjaman ikut menikmati amal jariyah.


Pertanyaan

7. Misal kita mengajak umat islam agar belanja kebutuhan rumah tangga ke Toko atau warung muslim. Itu dalam ekonomi islam diperbolehkan atau termasuk SARA?

Jawaban

7. Boleh. Zaman Rasulullah strateginya membuat pasar Muslim untuk melawan orang-orang Yahudi. Kalau kita punya organisasi Pengusaha Muslim lalu woro woro untuk belanja ke sana itu dakwah, membantu karena Pengusaha Muslim akan membayar zakat. Sementara kalau kita belanja kepada orang lain, mereka tak mau zakat.

Yang bagus belanja kepada muslim. Zakat, infak, Shodaqoh kembali kepada muslim.
Hanya jangan lalu aji mumpung. Mumpung orang belanja ke saya lalu dimahalkan. Ini tidak baik. Layanan dan harga harus baik.

Mengajak belanja kepada Pengusaha Muslim itu shodaqoh karena membantu. Bedanya infak dengan shodaqoh disitu. Infak itu memberi dalam bentuk materi. Shodaqoh tidak selalu berbentuk materi.
Kemauan belanja di toko muslim, itu shodaqoh.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here