Dr. Adian Husaini

28 Syawal 1441/ 20 Juni 2020



Kenapa kita memakai Standard Barat ?

Saya tak mau nama Nabi, nama Ahmad Dahlan dibawah Gadjah Mada. Dasarnya apa dulu? Bukan UGM jelek, tapi saya tahu bagaimana kriteria akreditasi. Yang dinilai dalam akreditasi adalah :
– Jumlah Professor
– Jumlah Lektor Kepala.
– Jumlah mahasiswa asing
– Berapa lembar jurnal
– Berapa bantuan yang diterima
– Berapa masa tunggu
– Linearitas dan sebagainya

Nggak ada satupun kriteria Iman, Takwa dan Akhlak Mulia!
Nggak ada kriteria berapa % dosennya yang shalat lima waktu. Berapa % dosennya yang Tahajud. Berapa % mahasiswanya yang bisa mengaji dengan benar.

Kalau kampus islam tidak punya kriteria itu ngapain pakai nama Islam?
Kalau ada sarjana lulusan kampus kita shalat nggak benar, ngaji nggak benar, akhlak nggak benar, masak memakai nama Nabi? Malu-maluin itu, berat hisabnya di akhirat.
Kalau kita memakai nama islam berat konsekuensinya , harus memakai kriteria islam benar. Kita bilang kita mengikuti Nabi kemudian kita tidak mau mengikuti pendidikan Nabi, Lha terus yang kita ikuti siapa? Nanti itu menjadi hal yang serius.

Generasi setelah itu lahir namanya Generasi Sholahudin Al Ayubi. Lahirnya generasi ini juga produk Pendidikan. Ini ditulis oleh pakar pendidikan internasional namanya Dr. Majid al-Kilani, beliau menulis satu buku yang di dunia islam sangat terkenal, diterjemahkan di Malaysia, di Indonesia judul bukunya “Hakadza Zhahara lit Shalahiddin wa Hakadza Mat al-Quds” (Demikianlah bangkitnya Generasi Sholahudin dan Demikianlah Kembalinya Kota Yerusalem).

Di dalam buku ini diceritakan bagaimana lahirnya Generasi Sholahudin melalui Madrasah- madrasah. Melalui guru-guru yang sangat hebat. Disitulah guru-guru yang disebut misalnya Imam Al Ghozali, Syekh Abdul Qadir Jaelani dan Para ulama lain nanti mereka melahirkan satu generasi yang disebut Generasi Sholahudin. Generasi inilah yang nanti membebaskan kota Yerusalem dari pasukan Salib.

Kita setelah itu dapat lagi menyebutkan satu lagi contoh lahirnya generasi Muhammad Al Fatih yang waktu itu umurnya baru 23 tahun menaklukkan Konstantinopel tahun 1453. Generasi ini dididik oleh dua orang gurunya. Yang satu namanya Syekh Ahmad bin Ismail Al Qurani dan Syekh Asy Syamsuddin. Kedua guru inilah yang mendampingi terus Muhammad Al Fatih dalam pembebasan Konstantinopel.

Jangan dilupakan di negeri kita pernah lahir generasi yang hebat yaitu Generasi 45. Generasi 45 ini antara lain Bung Karno, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asyhari, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, Muhammad Natsir, HAMKA.

Kalau kita teliti, pendidikan apa yang telah melahirkan orang-orang hebat itu? Modelnya sama dengan pendidikan di masa Nabi. KH Dahlan dengan KH Hasyim Asyhari, mereka murid Kiyai Sholeh Darat Semarang.
Riwayat Kiyai Sholeh Darat ini sangat menarik karena beliaulah yang kemudian meminta KH Dahlan dan KH Hasyim Asyhari untuk belajar ke Mekkah. Dan ternyata Kiyai Sholeh Darat punya tafsir sendiri, yang sampai kemudian dikagumi RA Kartini.

Kita bisa melihat Buya HAMKA menjadi ulama hebat. Beliau punya ayah ulama yang hebat tapi Buya HAMKA hubungannya kurang harmonis dengan ayahnya. Buya HAMKA dari kecil jenuh belajar agama.
Kisahnya beliau mulai berubah ketika berumur 16 tahun. Beliau ke Yogya berguru kepada HOS Tjokro Aminoto, Ki Bagus Hadikusumo dan Suryo Pranoto di Yogya. Mereka itulah yang mengubah pemikiran Buya HAMKA sampai menjadi sangat semangat.

Orang kalau belajar agama islam dengan methode keliru, dia bisa jadi jenuh malahan , Buya HAMKA mengalami itu. Tetapi bila menemukan guru yang tepat akan mengubah pikiran jadi sangat dinamis. Kemudian yang membentuk pribadi Buya HAMKA adalah Buya Sutan Mansur, kakak iparnya sendiri di Pekalongan.

Jangan dilupakan, model inilah yang saya teliti sama. Mengapa nanti lahir Muhammad Natsir? Karena dia pandai di AMS dia dapat Bea siswa untuk kuliah Hukum di Jakarta atau kuliah ekonomi di Rotterdam. Lulusan AMS dulu sudah luar biasa, kalau bekerja di Kantor Pemerintah waktu itu dapat gaji 130 sampai 150 Gulden yang jika dikurs saat ini kira-kira 15 juta Rupiah. Lulusan Perguruan Tinggi apalagi, sangat tinggi gajinya. Tapi hebatnya Pak Natsir tak mau mengambil bea siswa bahkan beliau memilih kerja sebagai guru SMP Belanda tanpa dibayar.

Pak Natsir langsung berguru pada tiga orang, antara lain :
– Pak A.Hassan, yang menghasilkan tokoh-tokoh hebat. Pak Natsir, Isa Anshori, Ustadz E.Abdul Rahman pemimpin Persis yang lebih dari 20 tahun.

Ulama yang hebat menghasilkan ulama yang hebat dan pemimpin yang hebat. Saya punya mahasiswa yang disertasinya konsep pendidikan berbasis adabnya A.Hassan.
Dia meneliti bukunya A.Hassan judulnya “Hai Putraku” ditulis tahun 1946. Itu belum diterbitkan, masih tulisan tangan. Itu modelnya sama.

Apa model ideal Pendidikan?
Model itulah yang telah disampaikan oleh Umar bin Khattab r.a.:
“taadabu tsumma ta’ alamu”.
(Beradablah kamu kemudian berilmulah kamu).

Dalam tafsir Ibnu Katsir menjelaskan ayat :

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَ هْلِيْكُمْ نَا رًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim 6)

Ibnu Katsir menjelaskan bagaimana menjaga diri kita dan keluarga kita supaya tidak masuk neraka.?
Ternyata ada penjelasan dari Ali bin Abi Thalib r.a. makna ayat itu adalah :
“Adibuhum wa alimuhum”.

Agar anak kita selamat, caranya dua.
adibuhum : Didiklah mereka menjadi orang beradab.
wa alimuhum, dan didiklah mereka menjadi orang berilmu.
Saya telah meneliti tentang hal ini bertahun -tahun. Alhamdulillah sekarang sudah banyak disertasi Doktor yang menulis tentang ini. Ternyata pendidikan Nabi modelnya : Tanamkan adab, Raihlah ilmu.

Kemudian saya merumuskan Prinsip Pendidikan Ideal dalam islam ada tiga.

1. Mendahulukan adab sebelum ilmu.
2. Mengutamakan ilmu-ilmu fardhu ain.
3. Memilih ilmu fardhu Kifayah yang tepat sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat.

Kalau tiga prinsip ini dijalankan in syaa Allah kita akan melahirkan generasi Sholahudin.


Mendahulukan adab sebelum ilmu

Orang barat menyebut ini dengan kharakter. Tanamkan kharakter dulu, jangan anak diajari yang macam- macam tapi akhlaknya nggak benar. Itu tidak boleh karena menyalahi prinsip Pendidikan.

Saya waktu membikin Pesantren pertama namanya “Shoul Līn”  ini bahasa Arab dikira Perguruan Silat Shaolin. Sampai kemudian ada orang tertarik ketika mendengarkan konsep pendidikan saya. Akhirnya dia mewakafkan tanah di Depok yang kemudian saya tempati.

Kenapa saya beri nama Shoul Lin? Karena saya mengacu pada tradisi silat . Shoul lin itu maknanya lompatan yang halus dalam bahasa Arab, tapi orang mendengarnya mirip Shaolin kan?

Karena konsep adab itu sudah diterapkan dalam tradisi Silat. Kalau menonton film Karate Kid yang gurunya Jacky Chen. Jacky Chen tak mau mengajari muridnya sebelum dia disiplin. Ketika muridnya menaruh jacket salah , dia perintahkan untuk mengulang dengan benar ditempat benar. Terus berulang-ulang , itu namanya pendidikan adab. Itu disiplin.

Inilah yang dulu disampaikan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, dalam konferensi internasional pertama tentang Pendidikan Islam di Mekkah, tahun 1977. Beliau sudah mengemukakan satu teori penting, bahwa akar masalah yang paling mendasar dari umat Islam saat ini adalah “loss of adab” atau  hilang adab.

Di Kuala Lumpur saya mempelajari konsep “loss of adab” ini selama tiga bulan karena menarik. Kemudian saya menulis suatu buku judulnya “Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab”.

Dan yang luar biasa, Pancasila kita, sila yang kedua adalah Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Jadi jauh dengan Konsep Bung Karno yang 1 Juni. Bung Karno hanya Kemanusiaan. Dan ingat bahwa Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab itu juga dirumuskan di rumah Bung Karno oleh Panitia Sembilan.

Maka nanti tanggal 22 Juni malam saya akan membuka kelas Zoom. Saya akan membedah apa yang terjadi pada 22 Juni dan 18 Agustus. Dan mengapa kemudian Pancasila itu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Ini luar biasa karena konsep Adil dan Beradab itu konsep Al Qur’an.

Kalau sekedar Humanity atau Kemanusiaan, lalu Kemanusiaan itu dasarnya apa? Dikunci oleh Tokoh-tokoh islam. Disitulah empat tokoh islam sangat berperan, H. Agus Salim, KH Wachid Hasyim, Abikusno Tjokrosuyoso dan Abdul Kahar Muzakir. Empat orang itu orang- orang hebat. Dan empat orang itu sangat dihormati oleh Bung Karno.
Bung Karno sangat hormat kepada H.Agus Salim. Sampai kemudian ada anaknya H. Agus Salim melawan Bung Karno tapi tidak ditahan Bung Karno karena Bung Karno sangat segan dengan H.Agus Salim.

Begitu dahsyatnya pengaruh H. Agus Salim. Buya HAMKA menjadi ulama besar juga atas nasehat H. Agus Salim. Waktu Buya HAMKA jengkel sama bapaknya, dia pergi ke Mekkah tanpa pamit. H. Agus Salim sudah ada disana. H. Agus Salim itu keponakan dari Syekh Ahmad Khathib Al- Minangkabawi. Dan Syekh Ahmad Khathib Al- Minangkabawi ini adalah guru dari KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asyhari.

H. Agus Salim waktu bertemu Buya HAMKA di Mekkah yang saat itu baru 7 bulan berkata :
“Kamu kembali ke Indonesia. Kalau mau jadi ulama itu di Indonesia, bukan disini. Kamu 20 tahun di Mekkah, kamu pulang jadi Tukang Do’a !”.
Itu ditulis oleh Buya HAMKA dalam buku “100 tahun H. Agus Salim”.
Buya HAMKA sampai bilang : “Ini nasehat yang luar biasa!”
H. Agus Salim sampai bilang : “Kucing itu, 20 tahun di Mekkah, pulang tetap bunyi “meong”.

Dan Buya HAMKA itu menceritakan ternyata benar : “Saya ketemu ulama di Sabah jadi Tukang Do’a, kemudian saya tanya : “Guru berapa lama di Mekkah?” “20 tahun katanya”.
Demikian kata Buya HAMKA. Buya HAMKA pandai menulis dengan apik. Dia ceritakan kisah itu.

Pak Natsir juga bercerita bagaimana waktu dia di Bandung saat AMS. Dengan teman-temannya kalau datang kerumah Pak H.Agus Salim mendapat inspirasi. Dan hebatnya kata Pak Natsir kalau kemudian ada yang bertanya satu hal. H. Agus Salim cerita banyak hal tetapi tidak menyinggung satupun masalah yang ditanyakan.

Sampai akhirnya ditanyakan : “Terus masalah kami lalu bagaimana?”.
Jawaban H. Agus Salim : “Itu kan masalah kamu, bukan masalah saya! Kenapa kamu bertanya?”.
Setelah pulang, Pak Natsir baru sadar bahwa tadi Pak H.Agus Salim itu cerita panjang lebar intinya bahwa kami harus memecahkan masalah kami sendiri. Jadi sudah memberikan jalan. Itu cara H. Agus Salim, beliau adalah Pendidik. Bung Hatta waktu sekolah SMEA di Jakarta mainnya juga ke rumah H.Agus Salim. Itulah model pendidikan.

Kenapa KH Ahmad Dahlan menjadi orang hebat ? Itu bukan tiba-tiba begitu. Beliau itu berguru langsung dengan orang -orang hebat. Ini makna pendidikan yang sebenarnya.
Bung Karno menjadi orang hebat bukan karena kuliah di ITB. Umur 15 tahun Bung Karno sudah mondok di rumahnya HOS Tjokro Aminoto. Dan beliau itu orang hebat.

Jadi kalau kita ingin anak-anak kita hebat, bukan cari kuliah dimana. Tapi berguru pada siapa. Anak saya yang nomer 5 umur 16 tahun sudah menulis buku. Sekarang 17 tahun menerbitkan buku keduanya “Reformasi Pendidikan”. Buku pertama judulnya “Mewujudkan Peradaban Insan dan Peradaban Mulia” sudah dipresentasikan sampai di Malaysia.

Saya bilang ke anak saya, Kalau kamu pintar ngapain saya kuliahkan di UI, rugi dong saya. Begitu kamu pintar yang dapat nama bagus UI. Jadi hebat itu tidak ada hubungannya dengan kamu kuliah disini atau disitu. Hebat karena anak kita memang sudah hebat.

Saya tanya sahabat saya, Prof Suharnomo, “Berapa yang masuk Akuntansi Undip lewat SNMPTN?
Yang mendaftar 5000 orang yang diterima cuma beberapa puluh. Bandingkan dengan yang masuk kampus saya Ibnu Khaldun di Bogor, kadang -kadang yang mendaftar 1000 , dulu yang diterima 1001.
Bagaimana harus bersaing dengan kampus negeri? Sedangkan anak-anak kita saja tidak percaya dengan kampus kita. Ini yang jadi masalah.

Maka kami sekarang , teman-teman di Perguruan Tinggi Islam membentuk asosiasi kampus berbasis akhlak mulia (AKBAM). Alhamdulillah sudah bergabung 52 kampus dan kami komitmen yang jadi anggota asosiasi adalah yang memastikan bahwa lulusan kita harus beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. Kalau tidak jangan masuk asosiasi. Kami tak mau asal-asalan saja.

Di Pesantren saya, mahasiswanya tiap hari mereka harus membuat laporan tentang adabnya, shalat jama’ahnya, ngajinya, akhlaknya harus dipantau betul. Itulah pendidikan.

Sebagai gambaran umum kita sudah punya model dan model itu sudah terbukti dalam sejarah. Ada konsepnya dan in syaa Allah bisa kita laksanakan.
Saya yakin kalau model ini dilaksanakan kita punya kesempatan melahirkan kembali generasi hebat yaitu generasi 2045.

Sekarang ini kita ada waku 25 tahun, persis lahirnya satu generasi. Kita harus punya kurikulum 25 tahun.
Pendidikan bukan sekedar SD, SMP, SMA. Itu hanya sebagian saja dari pendidikan. Karena justru inti pendidikan adalah menanamkan nilai-nilai tadi yang disebut dengan ta’adabu.

– Inculcation of values
– Inculcation of akhlak
– Inculcation of adab
– Inculcation of character

– Menanamkan nilai-nilai kebaikan
– Menanamkan nilai-nilai keadilan dalam diri seseorang. Menanamkan nilai inilah tugas orang tua yang paling penting yang harus menjadi guru.

Saya sudah membuat buku kecil “Kiat menjadi guru keluarga”.
Harus ada enam bidang yang harus dikuasainya :
– Islamic Worldview
– Konsep ilmu dan pendidikan islam
– Fiqih Keluarga Sakinah
– Fiqhud Dakwah
– Peradaban islam
– Pemikiran kontemporer
Kalau orang tua mau mendidik anak maka orang tua harus berilmu, karena mendidik ada ilmunya. Sehingga orang tua bisa menjadi manajer bagi anaknya. Kedepannya anak kita akan menjadi lebih baik daripada kita.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here