Dr. Adian Husaini

28 Syawal 1441/ 20 Juni 2020



Beriman, Bertakwa dan Akhlak Mulia

Jarang yang mencermati bahwa Konstitusi kita UUD 45 Pasal 31 ayat 3 ada bunyi yang penting :
Pemerintah menyelenggarakan dan mengusahakan satu sisdiknas yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan bangsa yang diatur Undang-undang.

UU nomer 20 tahun 2003 tentang sisdiknas juga sama meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia. Dalam UU Perguruan Tinggi no 12 tahun 2012 juga sama penekanannya, meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia.

Jadi secara istilah dalam Konstitusi maupun UU Pendidikan tidak ada istilah Kharakter. Yang ada Akhlak Mulia. Ini luar biasa, kenapa Pemerintah tidak menggunakan istilah Akhlak Mulia? Kenapa yang dikembangkan Pendidikan Kharakter?
Harusnya hal ini perlu dicermati oleh para Petinggi Negara.

Mungkin maksud Pak Menteri, yang dimaksud kharakter disitu yang berbasis agama. Tapi jelas dalam konstitusi kita Pemerintah menyelenggarakan pendidikan meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia.

Dalam roadmap Pendidikan dari tahun 2000 sampai tahun 2035 Pemerintah akan membentuk Pelajar Pancasila, dan di dalam road map juga disebut Akhlak Mulia. Namun kenyataan saat kita memaknai kharakter itu terpisah dari agama. Ini adalah problem yang harus dipecahkan.

Apa sih inti polemik tentang RUU HIP? Sebenarnya terkait dengan konsep manusia dalam kehidupan menerima agama sebagai panduan dalam menyusun konsep itu atau tidak? Itu persoalannya, maka umat islam menolak keras ketika Pancasila dijadikan sebagai panduan Akhlak, Moral dan Perilaku.

Ini yang diprotes dalam Munas alim ulama NU tahun 1983. Ada beberapa putusan penting bahwa Pancasila bukan agama dan tidak bisa menggantikan posisi agama. Ini penting sekali kenapa tidak diajarkan di sekolah-sekolah?

Bagi umat islam pengertian Ketuhanan YME adalah Tauhid dalam ajaran islam. Kalau pendidikan mau membentuk orang baik , beriman , bertakwa yang berakhlak mulia. Kriteria Akhlak Mulia itu menurut siapa? Ini masih ada keengganan.

Contoh, dinegara kita definisi orang bijak adalah yang taat membayar Pajak. Meskipun tak pernah shalat tak pernah zakat kalau dia taat membayar Pajak dia dibilang bijak. Sebaliknya meskipun taat shalat segala macam rajin tapi tidak membayar pajak, dia tidak bijak.

Pengendara motor harus pakai helm, meskipun “gak pakai celana” dia tidak ditilang. Ini misalnya, karena yang diwajibkan pakai helm.
Kriteria akhlak yang baik menurut islam atau menurut Indonesia sama atau tidak? Disinilah kita mempersepsikan pendidikan. Akhlak baik menurut siapa ? Menurut Allah? Menurut Pemerintah? Atau menurut Perusahaan?

Mau jadi Good Worker, Good Citizen atau Good Man? Itu dibahas dalam konferensi pendidikan.
Sekarang ini pendidikan diarahkan ke Good Worker. Kita mendidik anak jadi pekerja yang baik. Seluruh kurikulum kita dari TK sampai S3 diarahkan menjadi Pekerja atau Buruh yang baik. Tidak ada kurikulum yang mengarahkan anak menjadi Orang Tua yang baik.

Ini yang dikeluhkan oleh seorang Profesor di Amerika, namanya Professor Carroll Quigley. Dia pengarang buku Tragedy and Hope, tentang sejarah Amerika dan barat dalam memimpin dunia. Dalam kesimpulan buku dia menggarisbawahi bahwa orang barat sudah banyak meraih banyak kemajuan dalam berbagai bidang terutama Sains, Teknology dan mengurangi kemiskinan.

Optimismenya dia bahwa manusia dalam waktu dekat bisa menunda kepikunan dan kematian. Tetapi ada satu yang belum jelas sampai sekarang yaitu bagaimana mendidik anak-anak menjadi Orang tua yang matang dan bertanggung jawab.

Aneh sekali Perguruan Tinggi kita tidak ada Prodi untuk mendidik menjadi Orang Tua yang baik. Yang ada adalah mendidik Sarjana Komputer atau lain.
Bahkan Sarjana Pendidikan dibedakan dengan Sarjana Biology. Seolah olah kalau dia Sarjana Biology tidak harus tahu Pendidikan.

Ini hal yang aneh, antara Konstitusi dan Aplikasi Program Pendidikan tidak match. Kalau kita bicara Pendidikan, kita bicara empat hal : Tujuan Pendidikan, Kurikulum, Program Pendidikan dan Evaluasi Pendidikan. Hal ini yang disampaikan Professor Dr. Ahmad Tafsir, pakar pendidikan islam.
Tujuan Pendidikan harus diturunkan dalam bentuk kompetensi -kompetensi. Programnya diturunkan dalam bentuk Program Pendidikan untuk mengejar kompetensi tadi.

Ketika di dalam diskusi MPR. Hampir semua praktisi pendidikan menilai bahwa pendidikan gagal. Prof Sumantri Brojonegoro menulis satu paper singkat : “Mempertanyakan cetak biru Pendidikan Indonesia”. Padahal beliau 8 tahun duduk jadi Dirjen Dikti. Beliau menyampaikan data-data kekeliruan dasar bahkan arah Pendidikan kita.

Beliau menyampaikan contoh hasil survey di 460 Perusahaan di Indonesia terhadap para CEO. Mereka ditanya : “Apa masalah anda dengan karyawan anda ?” Pimpinan Perusahaan mengatakan karyawan kami diatas 82%
– tidak dapat membaca dengan baik
– tidak dapat menulis dengan baik.
– tidak dapat komunikasi dengan baik.
– etos kerjanya lemah.
– Team Worknya lemah.

Dari hasil itulah, kembali ke peringatan Professor Carroll Quigley penting sekali untuk kita refleksikan. Problem kita sebagai bangsa Indonesia kita tidak siap mendidik orang tua untuk mendidik anak-anaknya.
Ketika terjadi wabah Corona banyak orang kebingungan, banyak orang karena salah persepsi.

Ada contoh lain tentang salah persepsi menyamakan Pendidikan dengan Sekolah. Sewaktu Indonesia merdeka dulu kementerian kita namanya Kementerian Pengajaran, bukan Kementerian Pendidikan. Dalam bahasa Belanda dibedakan antara Pengajaran dan Pendidikan. Pengajaran itu onderwijs, Pendidikan itu Opvoeding

Ki Hajar Dewantara menekankan pada aspek Pendidikan. Dan Pendidikan adalah penanaman nilai, maka sejak tahun 1922 Ki Hajar Dewantara sudah menulis satu artikel yang menyatakan bahwa sistem Pendidikan Nasional yang ideal bentuknya Pesantren. Maka dia membentuk Taman Siswa. Bentuknya adalah Taman dan ada empat jenjang : Taman Indriya (Taman Kanak Kanak), Taman Muda (setingkat SD), Taman Dewasa (setingkat SMP) . Perguruan Tingginya namanya Taman Pamong (Taman Guru)

Di jaman Belanda pendidikan yang paling bergengsi itu pendidikan guru. Sampai tahun 1960 an lulusan SMP kita yang pintar-pintar menurut Pak Abdul Kadir Baraja tidak masuk SMA tapi ke SGA (Sekolah Guru Atas). SGA itu 4 tahun setelah SMP merupakan favorit anak-anak. Kalau tak bisa diterima di SGA baru mendaftar ke SMA. Maka tahun 1970 an kita punya guru bagus-bagus. Guru-guru tahun 1970 an paling banyak dibawa ke Malaysia mendidik Anwar Ibrahim.

Guru Fisika saya di SMA Bojonegoro dulu hebat sekali dan akibatnya saya jadi senang Fisika sampai akhirnya saya di terima di IKIP Malang saya ambil Fisika, karena gurunya hebat.
Kalau kita mau memperbaiki pendidikan tanpa memperbaiki Guru tak akan bisa. Gonta ganti Presiden ataupun Menteri kalau gurunya tidak hebat nggak bisa. Dimanapun kunci pendidikan berawal dari guru.

Yang diterapkan di Jepang, di Korea di Finlandia adalah Pendidikan atau Opvoeding. Pada anak-anak atau sampai maksimal SMA namanya Penanaman Kharakter. Pemerintah kita sudah ngerti. Maka jaman Pak Noeh digenjotlah Pendidikan Kharakter. Cuma persoalannya Pendidikan Kharakter tidak bisa sukses karena berat.

Apa yang paling berat dalam Pendidikan Kharakter?
Pendidikan Kharakter membutuhkan empat hal :
1. Keteladanan
2. Pembiasaan
3. Pemotivasian
4. Penegakan aturan.

Ini theori dari Professor Dr Ahmad Tafsir. Saya setuju karena itu yang dilakukan oleh Rasulullah SAW sehingga melahirkan generasi terbaik Khoirul Qurun Qarni. Jadi model pendidikan yang terbaik itu sudah ada contohnya. Kalau keliru dalam mendefinisikan Pendidikan jadinya enggak benar bahwa Pendidikan disamakan dengan Sekolah. Padahal aspek Pendidikan Opvoeding yang terpenting adalah Penanaman Nilai.

Penanaman Nilai yang Paling Berperan Seharusnya adalah Orang Tua. Itulah yang diajarkan oleh Luqman Al Hakim dalam Surat Luqman ayat 12 sampai 19. Itu merupakan contoh Pendidikan yang amat baik dimulai dari penanaman Tauhid sampai dia bisa menjadi orang baik di tengah masyarakat.

Allah SWT berfirman:

وَا قْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَا غْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَ صْوَا تِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ

“Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman 19)

Ki Hajar Dewantara sebenarnya dia mengikuti jejaknya KH Ahmad Dahlan. KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah tahun 1912 kemudian konon beliau (saya belum konfirmasi) terinspirasi oleh sekolahnya Frans Van Lith di Muntilan, yaitu Sekolah Guru Katholik. Karena dulu yang keren Sekolah Guru. Orang Katholik melakukan Program Kristenisasinya menggunakan sekolah. Dan tokohnya namanya Frans Van Lith. Sekarang namanya masih dipakai di Muntilan sebagai nama SMA Van Lith.

Sekolah Guru ini dulu favorit. Banyak anak-anak muslim yang sekolah di Sekolah Van Lith berubah agamanya menjadi Katholik. Salah satu yang terkenal adalah Soegija Pranoto. Dia adalah cucu Kiyai. Kakeknya seorang Kiyai di Yogya namanya Kiyai Pudjo. Tetapi Soegija berhasil dididik oleh Van Lith menjadi Uskup Pribumi yang pertama di Indonesia. Dia cucu Kiyai diubah menjadi Uskup Katholik melalui Pendidikan.

Sehingga kemudian KH Ahmad Dahlan tahun 1918 mendirikan Sekolah Guru Muhammadiyah (Kweek School Muhammadiyah) yang sekarang menjadi Mualimin Muhammadiyah. Cuma sekarang lulusan Mualimin namanya Mualim. Mualim itu Guru, tapi masalahnya apakah lulusan Mualimin mau jadi Guru? Sebab sekarang Mualimin sama dengan SMA. Di Pesantren Gontor juga ada KMI (Kuliyatul Mualimin) itu adalah Kuliyah Guru.

Dulu orang bangga menjadi Guru karena perjuangannya hebat. Dulu tahun 70 an bapak saya sebagai Guru gambar di SD saja hebat, bacaannya Panji Masyarakat, Al Muslimun. Guru dulu mempunyai tradisi ilmu yang tinggi. Mereka bangga karena mereka dididik untuk menjadi Guru.

Ki Hajar Dewantara waktu peresmian Taman Siswa tahun 1922 mengecam keras model pendidikan barat. Dia non kooperative tidak mau dibantu oleh Belanda. Dulu meskipun kita dijajah Belanda, sekolah-sekolah kita termasuk sekolah islam banyak yang dapat bantuan dari Pemerintah Kolonial karena pada waktu itu pendidikan yang dianggap top Pendidikan Belanda dari HIS, MULO, AMS.

Kualitasnya memang hebat, contohnya Pak Natsir adalah lulusan AMS di Bandung. Pak Natsir cerita kalau ujian satu mata Pelajaran di AMS diwajibkan membaca minimal 36 buku. Dulu tingkat SMA seperti itu. Hal itu saya terapkan di Pesantren saya. Anak SMA di Pesantren sudah kita ajarkan Pemikiran-pemikiran Sejarah, Pemikiran Islam.

Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa Pendidikan itu Opvoeding atau Penanaman Nilai, yang menurut istilah beliau menanamkan Adab dan Kesusilaan.

Pemerintah tahu bahwa itu penting. Di Korea, Jepang, Finlandia maksimal sampai SMA harus sudah selesai pendidikan Kharakternya : Kedisiplinan, Kejujuran, Ketekunan, Komitmen Waktu sudah dilatih dengan betul. Ini sekarang menjadi Problem besar bagi Pendidikan anak-anak kita. Anak-anak kita sekarang masuk ke Perguruan Tinggi kharakternya belum terbentuk. Sehingga ketika masuk ke Perguruan Tinggi banyak yang masih seperti anak-anak. Ini fatal sekali.

Jadi yang dilakukan Tokoh-tokoh kita dulu sebenarnya merespond. Ketika Politik Etis diberikan sebenarnya misinya dua : Sekulerisasi dan Kristenisasi. Dan ini atas saran dari Snouck Hurgronje. Kita bisa melihat di dalam disertasi Doktornya Dr. Alwi Shihab di Amerika, judulnya : “Membendung Arus”, terbitan Mizan. Merupakan respond Muhammadiyah terhadap gerakan Kristenisasi di Indonesia.

Dalam disertasi itu dikatakan bahwa Muhammadiyah itu didirikan terutama karena dua hal : Membendung Kristenisasi dan Membendung Free Masonry. Mungkin orang Muhammadiyah sendiri banyak yang belum membaca disertasi ini.

Muhammadiyah membendung Kristenisasi dengan cara menirukannya. Kristen bikin sekolah, Muhammadiyah juga bikin sekolah. Juga amal-amal usaha lainnya. Motif awalnya adalah membendung Kristenisasi. Ada satu artikel tulisan saya di Republika berjudul “Beginilah Kiyai Dahlan mendidik kita”. Saya meringkas dari buku “Riwayat Hidupnya KH Ahmad Dahlan” yang ditulis oleh Solikhin Salam.

Kita membaca buku itu bisa menangis, karena KH Ahmad Dahlan sampai menjelang meninggalnya beliau tak mau disuruh istirahat. Beliau sakit, dokter-dokter yang datang menasehati Pak Kiyai ini tidak sakit, Pak Kiyai cuma perlu istirahat. Sampai beliau diungsikan ke Tretes supaya istirahat. Murid-muridnya tak berhasil meminta beliau istirahat. Isteri beliau juga minta agar Kiyai istirahat. Tapi dalam buku malah dikatakan Kiyai memarahi isterinya : “Pekerjaan saya ini tinggal sedikit lagi, mungkin umur saya tidak lama lagi, jadi saya harus selesaikan ini”.

Di akhir hayat beliau bahkan aktif keliling daerah. Salah satu orang yang kagum sama beliau adalah Bung Karno. Pada Muktamar Muhammadiyah tahun 1962 di Jakarta Bung Karno bercerita bahwa beliau usia 15 tahun pertama kali mendengar ceramahnya Kiyai Dahlan, waktu beliau tinggal di rumah Kiyai HOS Tjokro Aminoto. Sejak itu Bung Karno nginthil KH Ahmad Dahlan, itu umur 15 tahun.

Jangan heran kenapa Tokoh-tokoh kita sudah hebat di usia belia. Itu yang saya usulkan : Reformasi Pendidikan adalah reformasi usia Pendidikan. Bung Karno usia 15 tahun sudah membaca berbagai buku dalam beberapa bahasa. Karena SMA jaman dulu itu Perguruan Tinggi.

Sejak jaman Nabi namanya orang dewasa, batas akhir anak-anak itu 15 tahun itu ada di hadits shahih Imam Bukhori. Misalnya Ki Hajar Dewantara menyebut Taman Dewasa itu anak umur 14-16 tahun. Nanti 17-21 tahun Taman Pamong. Jadi orang jadi Guru dari SMP tambah 3 tahun PGA jadi Guru agama. Tambah 3 tahun SPG jadi guru SD.

Tingkat SMA sudah disiapkan untuk terjun ke masyarakat. Semua begitu termasuk Pesantren Gontor. Dulu da’i da’i rata-rata lulusan Tsanawiyah, Aliyah. Mereka sudah siap diterjunkan ke masyarakat. Sekarang pendidikan kita tingkat SMA hanya disiapkan untuk masuk Perguruan Tinggi. Waktu saya masuk IPB, pelajaran tahun pertama cuma mengulang semua pelajaran SMA.

Kembali ke masalah pokok kita , bagaimana memecahkan masalah Pendidikan?

Sebetulnya kita sudah ada model. Sudah saya tulis dibuku saya, dari hasil diskusi di MPR, judulnya : “Pendidikan islam mewujudkan generasi gemilang menuju negara Adi Daya tahun 2045”.
Ini yang saya pakai sebagai konsep di Pesantren saya. Alhamdulillah sudah 5 tahun ini saya makin optimis hasilnya. Dan banyak sekali saya mengisi sekolah-sekolah islam, kepala-kepala SMA Al Azhar se Indonesia, ratusan Pondok Pesantren menyampaikan hal sama dimana saja bahwa kita sebenarnya bangsa Indonesia ini, terutama umat islam sudah punya model pendidikan.

Model pendidikan umat islam itu sudah terbukti berhasil melahirkan generasi -generasi hebat. Pertama lahirnya generasi sahabat Nabi. Rasulullah SAW sendiri sebagai guru utama. Rasulullah SAW adalah guru terbaik. Produk pendidikan Nabi itu adalah lahirnya generasi terbaik. Satu generasi yang tak akan pernah lahir lagi yang disebut Rasulullah sebagai Khoirul Qurun Qarni.

Apa kehebatan generasi sahabat?
Generasi sahabat itu kualitasnya 10 kali lipatnya orang Romawi. Hanya 5 tahun setelah Rasulullah wafat generasi sahabat Nabi ini sudah menaklukkan Yerusalem, mengalahkan pasukan Romawi yang jumlahnya berkali-kali lipat. Ada yang menyebut pasukan Romawi 200 sampai 300 ribu sedangkan Pasukan islam hanya 20 sampai 30 ribu.

Tahun 636 M umat islam sudah menaklukkan Yerusalem dan bukan sekedar menaklukkan secara militer tapi juga secara peradaban.
Karen Arsmtrong penulis Inggris yang terkenal mantan biarawati menulis buku “A History of Jerusalem: One City, Three Faiths”. Karen Arsmtrong menggambarkan bahwa Umar bin Khattab adalah pemimpin pertama di dunia yang menaklukkan kota Yerusalem tanpa darah tercecer.

Pasukan islam masuk kota Yerusalem tidak ada pembunuhan, tidak ada penghancuran property, tidak ada perusakan rumah-rumah ibadah agama lain dan tidak ada pemaksaan orang non muslim untuk masuk islam.
Tahun 636 M umat islam sudah memberi contoh yang luar biasa tentang bagaimana toleransi beragama.

Nanti dibuktikan lagi ketika umat islam menaklukkan Andalusia dari tahun 711 sampai 1492. Sampai orang-orang Yahudi menulis, buku “Atlas of Jewish Civilization” yang diedit oleh seorang Yahudi terkenal namanya Martin Gilbert mereka menggambarkan bahwa jaman keemasan islam di Spanyol juga jaman keemasan Yahudi. Hal itu adalah bukti bahwa islam rahmatan lil alamien.

Pengaruh peradaban islam terhadap barat dalam buku “What Islam did for us” yang ditulis orang Irlandia . Dalam buku itu ditunjukkan bagaimana bangsa Barat sangat berhutang budi pada umat islam. Sampai dia menulis satu Bab : “The west debt to islam”. Sampai kapanpun orang barat tak dapat membayar hutang kepada umat islam.

Di Pesantren mahasiswa saya ada mata kuliah Sejarah Sains Islam, bagaimana perkembangan Sains. Orang barat mengenal sains dari siapa? Dari ilmuwan muslim. Masalahnya ini tidak diajarkan di sekolah-sekolah kita. Sains yang berkembang sekarang ini tidak muncul dari Barat begitu saja. Orang islam dulu mengembangkan Sains dari Yunani, dari India, dari Syria dikembangkan kemudian diberikan nilai-nilai Tauhid.

Setelah itu Barat muncul sebagai kekuatan baru mengambil Sains dari islam, unsur Ketuhanannya dibuang. Karena orang Barat punya trauma sejarah terhadap agama. Mereka menolak Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan mereka, mereka tidak mau dicampuri Tuhan. Kata filsuf Perancis, Jean Paul Sartre : “Bahkan andaikan Tuhan itu ada, kita harus tolak, karena ide tentang Tuhan itu membunuh kebebasan kita”.

Generasi sahabat ini luar biasa, kita bisa menyebut nanti generasi yang berikutnya yang umat islam mengalami pukulan pertama dalam peradabannya. Tahun 1099 jatuhnya kota Yerusalem ke Pasukan Salib. Jadi umat islam grafik peradabannya naik dari 632 M setelah Rasulullah wafat. Rasulullah mendirikan negara terbaik di dunia, yaitu Negara Madinah.

Ini perlu diingatkan pada para mahasiswa. Banyak yang tak faham karena disekolahnya diajari ciri-ciri negara yang maju itu : Negara yang kaya, yang income perkapitanya tinggi. Ini karena salah konsep. Kitapun membuat konsep Pembangunan seperti itu. Kita mau membuat negara maju tolok ukurnya apa maju itu ? Kita mengikuti standard yang ditetapkan Barat.

Saya sering sampaikan kepada teman-teman di kampus-kampus Muhammadiyah, juga di Grup WA Tokoh-tokoh Muhammadiyah. Saya tak mau dikatakan kampus saya , misalnya Universitas Muhamadiyah Semarang ranking berapa di Nasional?

Dulu saya menjadi Panel untuk menguji calon Rektor Unisula. Salah satu calon mengatakan kampus Unisula, ranking 60 katanya bagus, beliau mau tingkatkan sampai Ranking 30.
Saya tanya : ” Bapak menerima Ranking 30 ? Kan aneh, bagaimana mungkin Unisula yang mempunyai budaya akademik islami kok dibawahnya Undip, itu kriterianya apa?” – Kalau saya tidak terima -.

Menurut Kemenristek-Dikti, universitas swasta yang pertama, no 17 itu UII Yogya. Un Muh Malang, Un Muh Solo sedikit dibawahnya. Saya bilang ke teman-teman : “Kenapa kita terima nama Nabi kita dibawah nama Gadjah Mada? , saya tidak rela !”
Ini berarti tidak benar. Nama Nabi kita harus yang pertama.

BERSAMBUNG



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here