Dr.H.Haerudin, SE.MT

21 Ramadhan 1441/ 14 Mei 2020



Pagi ini alhamdulillah kita dapat mencari ilmu. Perlu diingat bahwa mencari ilmu bukan Tujuan. Mencari ilmu hanya sebuah media supaya hidup kita menjadi lebih baik secara Syar’i. Kalau dengan ilmu tapi tidak menjadi lebih baik maka ilmunya tidak mempunyai nilai manfaat. Harus beda antara keadaan sebelum mencari ilmu dan sesudah.

Lima kali kita mendengar seruan :
“Hayya alal Fallah….” diseru oleh Muadzin tatkala adzan. Muadzin itu sebenarnya adalah ibarat seorang kurir yang menyampaikan surat dari Allah.
Yang memanggil kita adalah Allah.
Berarti kita diseru oleh Allah : “Hayya alal Fallah….”
Fallah itu kemenangan, kesuksesan secara total. Orang yang menang adalah orang yang bisa tertawa di titik terakhir. Kalau hanya bisa tertawa sekarang besuk menangis, dia gagal total.

Seorang mahasiswa yang disebut pemenang itu saat diwisuda. Artinya dia lulus. Apapun yang dia lakukan, tatkala dia tidak lulus dia kalah.
Titik terakhir kita itu besuk di akhirat. Kalau hanya bisa tertawa di dunia, di akhirat menangis itu bukan kemenangan.

Dengan “Hayya alal Fallah….” diajak oleh Allah supaya menjadi orang yang sukses. Jadi pemenang di dunia sampai Akhirat. Islam tidak membedakan antara urusan dunia dan urusan akhirat. Tidak membedakan antara ibadah mahdoh dan ghoiru mahdoh.

Allah SWT berfirman:

وَا بْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al-Qasas 77)

Ada yang mengatakan dunia akhirat fifty-fifty. Dari mana mengukurnya? Tak bisa. Rasulullah memberi gambaran dunia akhirat :
“Demi Allâh, tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kamu yang mencelupkan jari tangannya ini ke lautan, lalu hendaklah dia perhatikan apa yang didapat pada jari tangannya”. [HR Muslim].

Air laut yang ditelunjuk kita ibarat dunia. Sedangkan air yang dilautan adalah akhirat. Perbandingan dunia dan akhirat adalah satu dibanding tak terhingga. Maka yang satu tidak material walaupun tetap ada. Maka dalam kehidupan tak ada urusan dunia. Semua akan menjadi urusan akhirat.

Bagi kita yang beriman pada Hari akhir, apapun yang kita lakukan di dunia, dimanapun kita berada, sebagai apapun kita akan menjadi urusan akhirat. Tidak ada satu aktivitas apapun yang kita lakukan yang tidak menjadi urusan akhirat.

Urusan akhirat bukan hanya di masjid. Semua urusan, di masjid, di pasar, di kantor, di jalan adalah urusan akhirat. Tatkala kita ingin mencapai Fallah, tertawa terakhir maka diatur di dunia. Itulah Al Qur’an! Jadi Al Qur’an itu untuk dunia, bukan untuk akhirat. Mengatur di dunia untuk mencapai kebahagiaan akhirat.

Seperti ketika mencari rezeki, bukan hanya mencari berapa banyaknya tetapi rezeki harus halal.

وَا بْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ

“apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu” itu bisa harta bisa ilmu, bisa jabatan. Digunakan untuk mencari akhirat. Apapun yang kita dapatkan adalah ALAT untuk mencapai kebahagiaan FALLAH.
Rezeki bukan Tujuan , hanya sebuah media.

Alat itu terserah kita mau digunakan untuk apa. Alat yang bisa digunakan untuk mencapai Fallah adalah alat yang halal. Alat atau Rezeki yang haram tidak bisa digunakan untuk mencari kebahagiaan dunia akhirat.
Kalau kita mendapatkan rezeki haram menjadi beban, jadi mala petaka baik di dunia maupun akhirat.

Jangan berkata Alhamdulillah jika mendapat barang haram. Kita harus istighfar karena barang haram tak dapat membawa kita ke kebahagiaan akhirat.

Kalau barang hanya kita gunakan untuk kebahagiaan dunia, kemanfaatannya kecil. Barang haram bisa untuk bersenang-senang di dunia tapi akan mendapat mala petaka besar di akhirat, jadi tidak ada artinya.
Kamus memori kita tidak boleh lagi memikir barang haram.

Kalau orang korupsi. Dari awal dia harus istighfar, walaupun dari korupsi dia dapat harta. Bisa umrah dengan harta korupsinya. Sampai disana berdo’a mudah-mudahan tidak konangan.

Berapapun banyaknya barang yang didapatkan lewat korupsi untuk apa? Tidak bisa menjadi modal. Tak ada gunanya. Walaupun selamat di dunia tak ada yang mengejar-ngejar kita, harus istighfar karena akan menjadi sumber kecelakaan. Hanya barang halal yang kita cari. Semua barang haram harus total kita tinggalkan.

Di dunia , harta baru dapat dirasakan ketika kita gunakan.
Kita punya mobil Camry baru digarasi. Kita bangga, tapi kalau tidak pernah dipakai untuk apa? Manfaatnya nol tapi kita harus memelihara.

Maka ketika kita telah mendapatkan harta lalu berfikir bagaimana menggunakannya. Karena Allah akan bertanya :
– Dari mana Harta diperoleh?
– Untuk apa Harta digunakan?

Pertanyaan pertama adalah tentang halal haramnya. Kalau barangnya haram, tak ada lagi pertanyaan kedua karena sudah tidak lulus. Karena barang haram tak dapat digunakan untuk mencari kebahagiaan.

Ketika kita memperoleh barang halal, langkah pertama kita tidak digunakan untuk apapun sebelum dikeluarkan zakatnya.

Zakat adalah harta orang lain, harta Mustahik yang ada di dalam harta kita. Itu harus dikeluarkan. Dan itu dipaksa.

Allah SWT berfirman:

خُذْ مِنْ اَمْوَا لِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۗ 

“Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka..”
(QS. At-Taubah 103)

Allah SWT berfirman:

وَفِيْۤ اَمْوَا لِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّآئِلِ وَا لْمَحْرُوْمِ

“Dan pada harta benda mereka ada hak orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak meminta.”
(QS. Az-Zariyat 19)

Hak orang lain tidak boleh kita simpan. Karena bukan milik kita. Yang kita peroleh secara halal tidak 100% menjadi hak kita. 2,5% adalah hak Mustahik. Kalau kita tidak mengeluarkan Zakat maka harta kita menjadi Haram karena tercampur dengan harta Mustahik. Maka dikatakan Zakat itu membersihkan harta.

Sebelum mengeluarkan Zakat jangan berfikir membayar hutang dulu. Angsuran rumah, angsuran mobil.
Bila kita gunakan harta yang belum dizakati untuk membayar angsuran mobil, berarti mobil yang kita pakai belum dikenai zakat. Kita memakai mobil yang didalamnya ada milik orang lain.

Bayar zakat dulu 2,5% baru kemudian setelah itu bayar hutang cicilan mobil atau rumah. Kalau hutangnya hutang beras dan kita bayarnya sebelum zakat berarti kita makan beras yang belum dizakati.

Zakat yang dibayarkan harus lewat amilin. Karena amilin bertugas 12 bulan penuh membentuk ekonomi lagi. Amilin bukan Panitia Masjid yang dibentuk pada saat hari besar. Panitia itu hanya pengumpul zakat, bukan amilin. Amilin berhak mendapat zakat, amilin nomer 3 setelah fakir miskin.

Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَآءِ وَا لْمَسٰكِيْنِ وَا لْعٰمِلِيْنَ …

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, ….” (QS. At-Taubah 60)

Amilin posisinya sangat penting. Dia harus membuat zakat jadi Produktif. Kecuali bagi orang jompo yang tak dapat bekerja lagi, memang zakat konsumtif. Tapi bagi yang masih kuat tak boleh zakat konsumtif. Seperti korban PHK harus diusahakan zakat Produktif oleh Amilin. Tapi kalau zakat disalurkan secara pribadi sulit untuk menyalurkan zakat Produktif. Tujuannya tidak tercapai.

Setelah zakat dikeluarkan, kita baru mengeluarkan untuk konsumsi kebutuhan hidup sehari-hari. Inipun masih ada aturannya.
Allah akan bertanya konsumsi apa bagaimana caranya?
Pedomannya adalah :

– Halal dan Thoyiban
– Tidak mubadzir (efisien)
– Tidak berlebihan. (Jangan membuang makanan).
Konsumsi itu makan, pakaian, rumah, rekreasi, pendidikan. Ini relatif.

Kemudian kita meningkatkan nilai manfaat. Caranya dengan Shadaqah dan Infaq. Kalau dalam Al Qur’an menyebut Shadaqah Wajib yaitu Zakat dan Shadaqah Sunah yang kita kenal sebagai Sedekah dan Infaq.

Shadaqah itu mengeluarkan hak kita. Bila kita tidak mengeluarkan tidak dosa. Bila mengeluarkan nilai manfaat hidup akan bertambah. Sebenarnya Shadaqah juga lewat amilin supaya terkoordinir dengan bagus.

Allah SWT berfirman:

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ بَا قٍ ۗ 

“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.”
(QS. An-Nahl 96)

Apa yang kita pegang saat ini :
Rumah, Tabungan tidak ada yang kekal. Surat Tanah, STNK mobil semua sementara. Harta yang kita tabung tetap akan hilang ketika ajal datang. Bahkan banyak yang hilang sebelum ajal datang.

Allah SWT berfirman:

اَلْمَا لُ وَ الْبَـنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَا لْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَا بًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahf 46)

Harapan kita bukan pada tabungan, aset ataupun asuransi. Harapan kita adalah harta yang digunakan untuk amal Sholeh. Dia akan kekal sampai akhirat.

Ketika ajal datang tabungan kita akan kembali kepada Allah dan kemudian pindah kepemilikan ke ahli waris menurutkan Hukum Waris. Warisan tidak bisa dibagi sesuai kehendak ahli waris atau kehendak yang mewariskan.

Jadi keliru kalau kita semangatnya menabung. Mestinya semangatnya adalah shodaqoh. Shodaqoh membuat harta kita yang sementara menjadi harta kekal.

Maka jika kita punya harta tapi tidak shodaqoh, dia akan kecewa.
Orang yang pelit akan menggigit jari
Allah SWT berfirman:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّا لِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا

“Dan ingatlah pada hari ketika orang-orang zalim menggigit dua jarinya, menyesali perbuatannya seraya berkata, Wahai! Sekiranya dulu aku mengambil jalan bersama rasul.” (QS. Al-Furqan 27)

Mereka kecewa, harta dunianya banyak tapi diakhirat tidak punya apa-apa. Maka kita harus shodaqoh. Shodaqoh itu tidak banyak. Kalau zakat 2,5%, kalau shodaqoh adalah kelebihan kita.

Allah SWT berfirman:

وَيَسْــئَلُوْنَكَ مَا ذَا يُنْفِقُوْنَ ۗ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمُ الْاٰ يٰتِ لَعَلَّکُمْ تَتَفَكَّرُوْنَ ۙ 

“Dan mereka menanyakan kepadamu tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, Kelebihan (dari apa yang diperlukan). Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan,”
(QS. Al-Baqarah 19)

Harta adalah Alat, bukan Tujuan.
Tujuan kita adalah Fallah.


TANYA JAWAB


Pertanyaan

1. Untuk membayar zakat profesi menggunakan penghasilan bruto atau netto?
Ada yang menyampaikan setelah dikurangi kebutuhan pokok dulu. Padahal itu relatif ada yang hemat ada yang boros. Kalau menggunakan netto bisa-bisa habis untuk konsumsi dan tidak bayar zakat.

Jawaban

1. Yang disebut netto adalah penghasilan setelah dikurangi hutang. Misal berwirausaha. Penjualan itu Bruto, dikurangi dulu dengan biaya- biaya usaha itu netto. Jangan mengatakan netto setelah dikurangi semua kebutuhan.

Seorang dokter punya pendapatan. Dia harus membayar Perawat dulu. Kalau biaya operasional sudah dikeluarkan namanya sudah netto. Jangan dikurangi lagi dengan biaya kehidupannya. Sebab apa yang kita pakai, apa yang kita gunakan harus dari harta yang sudah dizakati.

Kalau konsumsi atau mobil kita nilainya untuk mengurangi pendapatan berarti kita memakan barang yang belum dizakati. Konsumsi itu relatif, ada yang makan daging ada yang makan tempe. Pedoman Konsumsi tidak mubadzir dan tidak berlebihan. Mubadzir ukurannya sendiri-sendiri. Kalau dalam keluarga butuh lima dia mengambil 6, yang satu mubadzir.

Rasulullah SAW bersabda : “Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya”.(HR Ibnu Madjah)

Jadi Pendapatan netto digunakan untuk bayar zakat dulu. Setelah itu baru dibelanjakan untuk kebutuhan makan, beli kendaraan dan sebagainya.

Dalam ekonomi dibedakan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Keinginan ini sering muncul, tidak butuh tapi dibeli. Uang akan habis dan tak membayar zakat.
Jangan sampai makanan yang dikonsumsi dibeli dengan uang yang belum kena zakat.

Zakat itu kecil, pedomannya nishob. Nishob tidak berfikir kebutuhan, tapi apa yang kita peroleh sampai nishob atau tidak. Nishob adalah pendapatan minimum kena zakat.
Kalau Infak adalah dari kelebihan.
Yang disebut dalam Al Baqarah 119 adalah infak, bukan zakat :

 وَيَسْــئَلُوْنَكَ مَا ذَا يُنْفِقُوْنَ ۗ قُلِ الْعَفْوَ ۗ 

“.. Dan mereka menanyakan kepadamu apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, Kelebihan dari apa yang diperlukan.,” (QS. Al-Baqarah 219)


Pertanyaan

2. Ada orang hutang untuk bisnis dan janji kalau mengembalikan akan memberi kelebihan. Dia tak mau bagi hasil, bagaimana?

Jawaban

2. Tatkala kita pinjam-meminjam uang terhadap Personil ataupun Bank disertai perjanjian diawal akan ada kelebihan membayar atau menerima, itu namanya riba.
Dalam Al Qur’an sudah divonis riba itu haram :

 ۘ وَاَ حَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا  ۗ 

“Padahal, Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba..”
(QS. Al-Baqarah 275)

Tapi kalau tidak ada perjanjian diawal dan pada saat pengembalian ditambahi sebagai ucapan terima kasih bukan riba dan itu halal.

Bank konvensional, akadnya akad kredit atau hutang pihutang dan pasti mencantumkan bunga tertentu untuk dibayarkan. Maka kelebihan atau bunga bank itu riba . Hukumnya haram. Sudah ada Fatwa baik dari MUI, Muhammadiyah bahwa bunga bank adalah riba.


Pertanyaan

3. Bedanya apa bunga bank konvensional dengan bank Syariah?

Jawaban

3. Dalam fiqih muamalah, akad atau Perjanjian itu penting. Perbedaan kedua Bank itu pada akad.

Contoh, saya butuh mobil dan datang ke bank konvensional. Perjanjiannya saya pinjam uang untuk beli mobil.
Pinjam 100 juta bunganya 10% berarti dia harus bayar 110 juta.

Waktu datang ke Bank Syariah akadnya jual beli atau Murobahah. Syarat murobahah banknya menguasai barang. Harga pokok 100 juta, margin 10 juta silahkan diangsur dalam 11 bulan. Tiap bulan dia mengangsur 10 juta, ini jual beli.

Sampai disini seolah-olah sama antara Bank Syariah dan Bank Konvensional.

Tapi tatkala di tengah jalan ada masalah, nasabah tidak bisa membayar hutang.

Hutang 110 juta ini di Bank Syariah tidak boleh bertambah. Bila ada tambahan jadi riba.
Di Bank Konvensional, hutang ini bunga berbunga, bisa menambah.
Itu perbedaan antara Bank Syariah dan Bank Konvensional.

Di Bank Syariah maupun Bank Konvensional ada denda.
Kalau tak ada denda akan menjadi alat bagi nasabah untuk tidak membayar.
Untuk menerapkan denda, sebelumnya dianalisis dulu oleh bank Syariah. Apakah tidak membayar karena tidak mampu atau karena tidak mau bayar?

Denda yang diterima bank Syariah tetap tidak halal bagi bank. Denda itu akan masuk ke Rekening dari bank yang bernama Pendapatan Non Halal. Pendapatan Non Halal tidak boleh dijadikan satu dengan pendapatan Bank. Pada akhir periode harus dinolkan dan diperuntukkan untuk fasilitas umum.

Di Bank konvensional, bunga dan denda menjadi pendapatan Bank. Jadi tidak sama antara Bank Syariah dengan Bank Konvensional.


Pertanyaan

4. Ada keluhan dari nasabah bahwa bank Syariah justru lebih mahal daripada bank konvensional. Ini bagaimana?

Jawaban

4. Dalam ekonomi islam, laba itu tak ada ketentuan. Merupakan kesepakatan antara penjual dan pembeli.
Barang yang mahal belum tentu haram. Yang menentukan keharaman adalah sistem riba. Sedangkan kehalalan muncul karena jual beli.
Bank Konvensional memakai bunga
Bank Syariah memakai margin.
Jadi jelas Bank Syariah berbeda dengan Bank Konvensional.


Pertanyaan

5. Tentang warisan dalam Al Qur’an , wanita mendapat 1 bagian laki laki 2 bagian. Lalu ada Kompilasi Hukum Islam yang mengatakan wanita mendapatkan sama dengan laki-laki, kenapa bisa begitu?
Tentang hutang pihutang dalam Al Qur’an juga jelas harus ada dua orang saksi yang mukalaf. Kenapa dapat diganti satu laki-laki dengan dua perempuan ?
Apakah yang diganti dalam Kompilasi Hukum tidak hanya yang multi tafsir saja dalam Al Qur’an tapi kenapa termasuk yang tafsirnya pasti?

Jawaban

5. Urut-urutan hukumnya jelas Al Qur’an dulu, kemudian Sunah dan paling bawah adalah Urf atau kebiasaan masyarakat. Mungkin Kompilasi Hukum ini memasukkan Urf atau Kebiasaan masyarakat.
Sepengetahuan saya Urf bisa dipakai selama tidak menyalahi aturan di atasnya. Jika di Al Qur’an sudah ada aturannya ,itu Qath’i sudah jelas tak perlu melihat Hukum Waris. Melihat Al Qur’an saja.

Ijtihad saja tidak berlaku jika aturan Al Qur’an atau Sunah sudah Qath’i. Apalagi Urf yang kedudukannya dibawah Ijtihad.

Jangan sampai menjadi munafik. Menghitung dulu, kalau bagi waris pakai Al Qur’an lebih tinggi lalu milih cara Al Qur’an, tapi jika pakai Kompilasi Hukum dapat lebih tinggi lalu milih Kompilasi Hukum.
Salah satu ciri munafik dia memilih- milih aturan yang menguntungkan saja dan menolak yang merugikannya.

Jangan pula mengatasnamakan emansipasi bahwa wanita kedudukannya sama dengan laki-laki.
Tetapi kalau hal ini tetap tidak menyelesaikan masalah, maka solusinya :
Bagi dulu warisan sesuai ketentuan Al Qur’an, laki-laki dapat dua dan perempuan dapat satu.
Kemudian ahli waris laki-laki ditanya : “Mau tidak shodaqoh pada saudara perempuannya?”.
Bila dia mau , ini bisa dibagi rata.
Tapi ada syaratnya harus musyawarah dan ridha. Kalau ahli waris laki-laki tidak bersedia maka tidak jadi.


Pertanyaan

6. Dulu orang tua tidak bayar zakat Maal karena tidak faham. Apakah ahli waris dapat membayarkan hutang zakat Maal dari orang tua yang telah meninggal memakai harta warisan? . Bila hal ini dapat apa bisa diniatkan dua hal : Zakat dari orang tua yang telah wafat sekaligus shodaqoh dari Penerima Warisan?

Jawaban

6. Ketidak-tahuan dapat membebaskan dosa, karena belum sampai ilmunya. Sehingga membayar Zakat seenaknya sendiri berakibat hutang zakat. Bukan tidak mau tahu, tapi benar-benar tidak tahu, maka masalah sudah selesai.

Apabila zakat orang tua kurang.
Allah akan bertanya : “Ada atau tidak shodaqoh dan infak dari orang tua?” Infak dan shodaqoh akan menutupi kekurangan zakat.

Tatkala kita sebagai ahli waris menerima warisan orang tua kemudian mau membayar kekurangan zakat orang tua yang telah meninggal ini bagaimana?

Allah SWT berfirman:

وَاَ نْ لَّيْسَ لِلْاِ نْسَا نِ اِلَّا مَا سَعٰى ۙ 

“dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya,” (QS. An-Najm 39)

Harta waris bila orang tua sudah meninggal sudah bukan milik orang tua. Harta sudah milik ahli waris. Tatkala harta itu diamalkan, amalnya kembali kepada ahli waris.

Mengamalkan seperti itu ada variasi pendapat.

Ada hadits dari Ibnu Abbas ra: bahwasannya ibu Sa’d bin Ubadah ra meninggal dunia, sementara saat itu, ia tidak berada disisinya. Kemudian Sa’d bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia sementara aku tidak mengikuti prosesi pengurusan jenazah, apabila aku bersedekah untuknya, apakah hal itu berguna baginya?” Rasulullah menjawab: “iya”. (HR Muslim)

Tapi saya memilih pendapat sesuai Surat An Najm ayat 39 bahwa amal itu untuk dirinya, bukan untuk orang lain.
Jadi pahala tak perlu dikirim. Karena akan timbul pertanyaan kalau kita mengirim pahala lalu apa kita dapat pahala juga? Padahal kita juga perlu pahala.

Orang tua sudah mendapatkan pahala kesholehan dari anaknya. Anak sholeh akibat didikan orang tua. Keterlibatan pendidikan orang tua ini adalah amal jariyah orang tua.

Amal jariyah Kesholehan ini tidak menuntut untuk diijab qobulkan. Otomatis orang tua dapat pahala dengan kesholehan kita berkat dia mendidik kita dulu.


Pertanyaan

7. Tentang penentangan riba dalam Surat Al Baqarah 278-279. Allah dan

Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim dan tidak dizalimi.”
(QS. Al-Baqarah Ayat 278-279)

Allah dan Rasulnya menyatakan perang. Apakah maksudnya?

Jawaban

7. Ini menunjukkan kerasnya siksa riba dari Allah. Berarti menantang Allah, keterlaluan. Kok berani?


Pertanyaan

8. Apakah obyek wakaf boleh dijual ?

Jawaban

8. Bagi yang menerima wakaf dia boleh menjual untuk mendapatkan manfaat yang lebih baik. Misal ada orang mewakafkan tanah di luar kota. Oleh penerima wakaf boleh dijual dan kemudian dibelikan tanah di dalam kota agar lebih bermanfaat.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here