Dr.H.Haerudin, SE.MT

14 Ramadhan 1441/ 7 Mei 2020



Allah SWT berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّا سِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَا لْبَـنِيْنَ وَا لْقَنَا طِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَا لْفِضَّةِ وَا لْخَـيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَا لْاَ نْعَا مِ وَا لْحَـرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَا عُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَا للّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰ بِ

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali ‘Imran 14)

Laki-laki menyenangi wanita dan sebaliknya, itulah yang wajar, fithrah manusia ketika diciptakan Allah. Jadi kalau ada laki-laki tidak menyenangi wanita, dia tidak normal.
Manusia juga senang kekayaan, emas dan perak. Kuda atau kendaraan. Ladang atau Perusahaan.

Manusia pada dasarnya senang pada perhiasan duniawi. Maka dari itu islam tidak pernah melarang untuk kaya.

Silahkan wanita senang pada Pria dan sebaliknya, tapi ada jalannya yaitu menikah. Tidak seperti binatang, tanpa nikah. Makanya kalau ada hal-hal yang menyimpang pada manusia suka dinisbatkan pada binatang.
Orang campur tapi tidak nikah, dia melakukan Kumpul Kebo.
Laki-laki tidak mengendalikan nafsunya pada wanita,dia Buaya Darat.

Manusia senang kekayaan.
Silahkan punya kekayaan yang banyak.
Silahkan punya duit yang banyak.
Allah tidak memerintahkan untuk tidak punya apa-apa, bahkan menyilahkan
“Silahkan Kaya! …”
Tapi ada jalannya, yaitu BEKERJA.

Mempunyai sesuatu caranya ada tiga :
– Dia bisa minta
– Dia diberi, karena waris
– Dia bekerja.
Meminta-minta dalam agama islam dihukumi hina, tidak punya harga diri.
Allah tidak pernah memberi rezeki tanpa usaha.

Tak ada cerita orang Shalat Dhuha lalu dibawah sajadah muncul uang satu juta. Ada yang keliru menjelaskan bahwa Shalat Dhuha untuk mencari rezeki. Shalat Dhuha itu ibadah.
Allah tidak memberi rezeki secara matang.

Seandainya orang shalat Dhuha terus dibawah sajadah ada uang sejuta, lalu dia berdo’a dan jatuh lagi sejuta …
Itu malah menyusahkan kita!
Jika semua orang mendapat uang dari Shalat Dhuha, dari Do’a maka setelah itu bingung. Karena pasar sepi. Semua orang di rumah , shalat terus.
Pasar tidak laku.

Jalan yang dipuji Allah adalah Bekerja.
Dalam bahasa Arab bekerja disebut dengan amal dalam bahasa Al Qur’an. Lebih dari 300 kata Amal diungkap di dalam Al Qur’an dengan berbagai macam bentuknya.

Jadi Bekerja itu kewajiban, merupakan Perintah Allah. Rezeki harus kita usahakan. Tatkala kita ingin memenuhi keinginan kita, ingin mendapat harta, ingin mendapat uang maka satu- satunya jalan lewat Bekerja.

Bekerja hukum asalnya Halal, Boleh. Baru disebut haram kalau ada keharaman. Ingin memiliki apapun di dunia itu boleh, kecuali ada penjelasan keharamannya. Sebetulnya yang dijelaskan di dalam Al Qur’an itu supaya mendapatkan harta yang halal, maka Bekerjanya dengan cara yang halal.

Kadang kita mendengar orang mengeluh :
“Sekarang jaman susah. Mencari yang haram saja susah, apalagi mencari yang haram?”.

Ini perkataan tidak rasional, karena

1. Yang disebut haram itu dua, karena substansi barangnya, (seperti Babi, Darah, Bangkai). Dan yang kedua karena cara mencarinya haram. Beras itu halal tapi karena cara mendapat dengan mencuri jadi haram.

2. Kalau melihat aturan itu berarti yang halal jauh lebih banyak dari pada yang haram.

Kita bekerja bebas, boleh cari apapun boleh, selama tidak ada penjelasan keharamannya.

Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ

“Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas… ” (HR. Bukhari Muslim)

Ada hal-hal yang mengharamkan sesuatu untuk dikerjakan, misalnya
Bekerja di minuman keras : semua yang bekerja sebagai Penjual, Pembuat dan semuanya itu haram.
Jadi cari pekerjaan halal. Terlalu banyak pekerjaan halal. Bahkan yang haram itu sedikit.

Dalam mencari pekerjaan, pelaku ekonomi juga sering mengatakan kalau tidak berdusta tidak akan dapat apa-apa. Seperti ini jelas tidak rasional. Kalau menjual sesuatu dengan menipu maka kepercayaan konsumen akan hilang. Untung sekali kemudian tak akan membeli lagi karena konsumen telah menetapkan bahwa Penjual tidak jujur. Penjual yang jujur akan dikenal dan akan dijadikan langganan.

Diriwayatkan Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah melihat tangan tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam- hitaman seperti terpanggang matahari.

Rasulullah bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?”
Si tukang batu menjawab, “Ya Rasulullah, pekerjaan saya membelah batu setiap hari, belahan batu itu saya jual ke pasar. Lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya. Karena itulah tangan saya kasar.”

Rasul pun menggenggam tangan itu, dan menciumnya seraya bersabda, “Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama- lamanya.”

Demikianlah Rasulullah menghargai Kerja keras. Dilain kesempatan Rasulullah bersabda dalam haditsnya

“Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu terdapat suatu dosa yang tidak dapat diampuni dengan shalat, puasa, haji dan juga umrah.”
Seorang sahabat bertanya, “Apa yang bisa menghapuskan dosa tersebut wahai Rasulullah?”.
Beliau menjawab, “Semangat dalam mencari rizki”. (HR. Thabrani)

Kita berangkat bekerja diniatkan sebagai ibadah. Berniat mencari rezeki yang halal dan mendapat ridha Allah. Dengan niat ibadah maka bekerja menjadi ibadah. Bekerja diperintahkan oleh Allah setelah kita melakukan ibadah mahdoh.

Pada hari jum’at kita diperintah shalat jum’at. Meninggalkan semua kegiatan kita.

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَا سْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۗ ذٰ لِكُمْ خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan sholat pada hari Jum’at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”.(QS. Al-Jumu’ah 9)

Tetapi ketika kegiatan Shalat jum’at selesai, Allah mengusir kita agar segera Bekerja :

فَاِ ذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَا نْتَشِرُوْا فِى الْاَ رْضِ وَا بْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَا ذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Apabila sholat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Jumu’ah 10)

Jadi tidak boleh berlama-lama di masjid setelah jumatan. Masjid adalah Rumah Allah, dan Allah mengusir jamaah agar segera bekerja.
Betapa pentingnya jumatan, setelah selesai tetap diusir agar bekerja. Sebagai ASN kembali bekerjalah, sebagai Dokter, Pengusaha kembalilah mencari fadhilah Allah yang disebar dimana-mana.

Dan kemudian berdzikirlah!
Dzikir ini tentu bukan dzikir lisan. Tak mungkin sambil jualan kita melantunkan ucapan-ucapan dzikir. Dzikir disini maknanya adalah mengingat Aturan Allah.

Seorang Penjual beras ketika menjual, dia menimbang beras. Dia ingat aturan Allah : Tidak boleh mengurangi timbangan.
Lisannya tidak mengucapkan apa-apa, tetapi dia sedang berdzikir.

Bisa jadi kebalikan, ada orang yang lisannya mengucap kalimat thayibah tetapi dia berbuat maksiat. Contoh, seorang Pejabat melakukan korupsi, mark up menaikkan harga. Dia menandatangani dokumen Palsu sambil mengucapkan :
“Bismillahir rohmanir rohiem, Laa hawla wa laa quwata illa billah”…
Dia tidak berdzikir!

Seorang bekerja yang berdzikir tidak berarti dia melantunkan Tasbih atau Tahmid. Seorang Sopir yang berdzikir, dia menyopir dengan hati-hati.
Bekerja sangat ditekankan. Dalam agama islam tidak ada ajaran malas.

Allah SWT berfirman:

قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ 

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman,” (QS. Al-Mu’minun 1)

Sungguh beruntung! Sungguh Sukses!
Sukses itu tidak hanya dunia saja.
Falaakh adalah kebahagiaan yang bisa diperoleh di dunia dan akhirat.
Kesuksesan di dunia yang bersambung ke akhirat.

Jadi ibarat dalam ekonomi tidak hanya mencari laba.
Kalau orang hanya memikir “laba” saja sama “biaya” maka hidupnya di dunia hanya akan “kelabakan” dan “biaya’an”. Bisa jadi begitu …

Falaakh, sukses dunia akhirat. Siapakah dia itu :

– Dia adalah orang yang shalatnya khusyuk.

الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَا تِهِمْ خَا شِعُوْنَ ۙ 

“yaitu orang yang khusyuk dalam sholatnya,” (QS. Al-Mu’minun 2)

– Dia tidak melakukan Pekerjaan sia-sia

وَا لَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ ۙ 

“dan orang yang menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak berguna,”
(QS. Al-Mu’minun 3)

Umat islam harus Produktif !
Barokah, selalu menambah kebaikannya.

Allah SWT berfirman:

وَلَـلْاٰ خِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُ وْلٰى ۗ 

“dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.” (QS. Ad-Duha 4)

Makin lama harus makin baik.
Jadi Produktif itu diperintahkan dalam islam. Tidak boleh mengerjakan yang sia-sia. Kalau kita selesai mengerjakan yang satu, kerjakanlah yang lain.
Hal ini perintah dalam Surat Al Insyirah

فَاِ ذَا فَرَغْتَ فَا نْصَبْ ۙ 

“Maka apabila engkau telah selesai, tetaplah bekerja keras,” (QS. Al-Insyirah 7)

Imam Syafi’i menyebutkan kalau orang melaksanakan surat Al Asr dengan benar, dengan konsekuen sudah cukup surat itu menyelamatkan dia sukses sampai Akhirat. Jadi etos kerja orang islam mestinya lebih tinggi dari pada orang lain.

– “Maka apabila engkau telah selesai, tetaplah bekerja keras”.
– “dan orang yang menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak berguna”.
– “demi waktu”.

Waktu sangat diperhatikan.Waktu bukan berputar seperti lingkaran.
Kamis hari ini bukanlah Kamis pekan lalu. Kamis yang lalu sudah lepas dan tak akan pernah kembali.

Dulu ada buku “Seven Habits”, kemudian dikembangkan dari 7 menjadi 9 Kebiasaan yang efektif, disana disebutkan salah satu kebiasaan penting adalah :
“First Things First” (Dahulukan yang Utama) tentang Manajemen Waktu, mestinya orang islam lebih hebat dalam memanfaatkan waktu.

Inilah peluang kita, silahkan mencari rezeki dimana saja, yang halal banyak.
Bekerja dengan cara yang halal dan benar. Dengan cara yang halal in syaa Allah justru kita akan mendapatkan rezeki secara kontinyu.
– Konsumen tak pernah dikecewakan
– Penjualnya jujur.
– Konsumen akan senang.

Dari sini bisa mengajarkan etos kerja yang tinggi : Produktif, Kerja Keras..
Semuanya itu akan menjadi Pahala.
Amal yang akan kita temui.

Ada yang protes : Bekerjakan biar dapat Kekayaan ?
Disini orang salah menilai, karena orang bangga dengan kekayaan. Keliru, yang dinilai oleh Allah bukan apa yang diperoleh, tapi apa yang dilakukan.

Allah SWT berfirman:

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ ۗ 

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az- Zalzalah 7)

Kalau kita sudah berusaha, itu menjadi catatan oleh Allah. Untuk nanti amalnya yang akan bertemu dengan kita diakhirat.

Ketika kita mendapat kekayaan, justru menjadi beban bagi kita.
Amal : Menjadi point positif dunia -akhirat.
Maal (harta) nya menjadi ujian bagi kita. Karena Harta akan ditanya oleh Allah :
– Dari mana Harta diperoleh?
– Untuk apa Harta digunakan?

Kalau kita bekerja mendapat harta yang sedikit, jangan kecewa. Karena sudah melakukan Amal. Harta yang kita peroleh menjadi Modal untuk Amal selanjutnya. Kadang ada yang keliru menafsirkan Amal Sholeh, dianggap amal baik, amal yang profesional sehingga hasilnya harus banyak.

Kita ingat sifat Rasulullah ada empat.

SIDDIQ artinya adalah JUJUR.
AMANAH  adalah bisa dipercaya, menjalankan sebaik mungkin apa yang diamanatkan kepadanya itu PROFESIONAL
TABLIGH artinya adalah menyampaikan itu MARKETING
FATHANAH adalah cerdas atau KREATIF.

Ini adalah Etos Kerja yang luar biasa.
Tatkala kita sudah kerja Amal kita tercatat. Adapun perolehan Harta itu Bonus.

Harta baru akan memberi manfaat ketika kita Beramal. Maka ketika kita memperoleh Harta dari hasil Pekerjaan belum selamat. Dia baru menjadi harta yang siap pakai tatkala Zakat sudah ditunaikan.

Karena setelah mencapai Nishob atau Pendapatan minimal kena zakat. Kita ambil 84 gram emas per tahun atau kira-kira 4 juta per bulan. Dia sudah wajib membayar zakat 2,5%.
Jadi Pendapatan 4 juta, zakatnya 100 ribu perbulan. Sangat ringan.

Zakat adalah harta orang lain, harta Mustahik yang ada di dalam harta kita. Itu harus dikeluarkan. Jangan menghindar dari membayar Zakat. Allah sangat melaknat orang yang tidak membayar Zakat. Dan mengeluarkan Zakat tidak menunggu Ramadhan, karena Haul atau waktu bayar adalah setahun.

Kalau kita tidak mengeluarkan Zakat maka harta kita menjadi Haram karena tercampur dengan harta orang lain. Maka dikatakan Zakat itu membersihkan harta. Harta yang bersih menjadi Harta Barokah yang memberi manfaat untuk diri dan Keluarga kita.

Jadi urutannya :
– Ketika kita Bekerja dengan halal mencari Harta, itu menjadi Amal.
– Kita mendapat Harta kemudian membayar Zakat, ini jadi Amal lagi.
– Setelah Harta jadi halal, dapat dijadikan sebagai Modal untuk melakukan Amal Sholeh lagi.
– Itu yang disebut Barokah.

Harta haram tak dapat digunakan untuk beramal sholeh.


TANYA JAWAB

Pertanyaan

1. Kalau setiap bulan telah mengeluarkan zakat maal, meskipun belum dihitung dengan cermat dan juga tidak secara spesifik menyatakan sebagai zakat, hanya asal memberi. Kemudian pada bulan Ramadhan juga memberi lebih. Tapi semua tak pernah dihitung cermat. Apakah yang dilakukan sudah dapat dianggap zakat maal?

2. Tentang Puasa, di Al Baqarah 184 orang tua boleh tak puasa dan cukup membayar fidiyah. Tapi di luar Ramadhan merasa sehat, apakah ybs masih wajib mengqadha puasa?

Jawaban

1. Zakat tidak boleh kurang, kalau kurang berarti hutang. Kalau hutang harus dibayar. Kesimpulan zakat harus dihitung dengan cermat.
Zakat itu setahun sekali, membayar Zakat secara bulanan prinsipnya boleh. Akan lebih tepat membayar kepada Lazis, bukan langsung Mustahik.
Diakhir periode dihitung penghasilan total dan berapa seharusnya zakatnya
Kalau yang telah dibayar lebih, menjadi shodaqoh.

Menghitung itu gunanya untuk mengecek jika ada kekurangan, supaya tidak ada hutang.
Pembayaran infaq atau shodaqoh yang sunah gunanya untuk menggenapi kekurangan Zakat yang wajib.
Sama dengan sholat sunah, gunanya untuk menggenapi kekurangan sholat wajib.

2. Orang lanjut usia tidak berarti dibebaskan dari puasa. Dia wajib berusaha puasa meskipun umur 100 tahun. Hukumnya bukan tua atau tidak. Tetapi punya kemampuan puasa atau tidak. Jadi tidak ada batasan umurnya, bisa jadi masih 60 tahun sudah tak kuat puasa. Kuat puasa atau tidak bukan diukur dari hawa nafsu. Tak boleh tidak puasa karena lapar. Orang puasa mesti lapar.

Orang sakit yang dibolehkan tidak puasa bila dengan puasa bisa memperparah penyakitnya. Itupun atas pendapat ahli, tak boleh atas pendapat sendiri. Kalau sudah pendapat dokter tak boleh puasa, hukumnya jadi wajib tidak puasa.

Jadi pernyataan pada saat diluar Ramadhan kuat dan saat Ramadhan tidak kuat, itu tidak rasional.
Fidiyah dan Qadha Puasa itu bukan pilihan. Kalau tidak puasa Ramadhan dengan alasan yang dibenarkan harus diganti puasa Qadha dulu. Selama mampu mengqadha puasa tak ada Fidiyah.


Pertanyaan

3. Bagaimana hukum jual beli saham yang ada di Bursa efek? Karena saham itu halal, bukti kepemilikan Perusahaan. Tapi dalam prakteknya harganya selalu berubah dalam tiap hari, jam atau bahkan menit. Karena tak mau rugi akhirnya kita ikuti pergerakan saham dengan melakukan jual beli yang tidak selalu untung. Bagaimana hukumnya, apa termasuk spekulasi?


Jawaban

3. Saham atau tanda kepemilikan perusahaan itu halal. Dalam bahasa akad itu musyarokah. Yang jadi masalah adalah sekarang beli besuk jual, istilahnya digoreng. Tergantung pada nilai perusahaan dan estimasi dari pembeli saham. Kalau banyak orang yang beli padahal perusahaan tidak baik maka besuknya akan turun.

Sebenarnya yang benar beli saham sebagai kepemilikan. Dijual juga boleh karena itu surat berharga.
Tapi bukan untuk menggoreng. Dengan menggoreng otomatis masuk area spekulasi seperti perjudian (maisir) . Yang diharamkan islam adalah judinya.


Pertanyaan

4. Kita dilarang jadi peminta-minta, lebih baik memberi daripada meminta. Namun pada kenyataan banyak warga masyarakat suka meminta atau berhutang. Bahkan juga dilakukan Pemerintah kita, berhutang. Berarti perilaku kita tidak sesuai dengan hukum Allah. Bagaimana?

Jawaban

4. Harus dibedakan antara ‘meminta’ dan ‘berhutang’. Dalam islam, meminta- minta tidak boleh tapi kalau berhutang tak ada larangan.
Dalam Surat Al Baqarah 282 bahkan hutang diatur. Catatlah hutangmu! Berarti boleh berhutang. Yang dilarang tidak mau membayar hutang.

Kalau minta bantuan itu wajar. Hutang boleh, jangan sampai kita hutang sampai di luar kemampuan kita sampai tak bisa bayar.
Kalau negara filosofisnya beda, tentu ada perhitungan dalam anggaran penerimaan dan belanja negara.


Pertanyaan

5. Bolehkah zakat diberikan kepada kakak kandung ?

Jawaban

5. Zakat kepada kerabat itu dianjurkan. Selama kerabat bukan tanggung jawab kita. Kakak itu bukan tanggungan kita. Jadi zakat kepada kakak boleh selama dia masuk Mustahik.
Pahalanya ada dua : Pahala zakat dan pahala silaturahim antar kerabat.


Pertanyaan

6. Bagaimana cara menghitung zakat bagi supplier?

Jawaban

6. Semua zakat dari hasil usaha, apapun usahanya, dari profitnya. Keuntungan adalah pendapatan setelah dikurangi biaya-biaya operasional. Kemudian diambil 2,5% dari sana.


Pertanyaan

7. Saya tak mau bekerja, karena merasa sudah cukup, apakah berdosa? Saya hidup dari hasil deviden dan penyewaan Ruko/ apartemen.

Jawaban

7. Mengawasi Ruko / apartemen itu bekerja. Tidak mungkin Ruko yang disewakan itu dibiarkan saja. Pasti dimanaged. Kerja itu bentuknya bisa fisik, bisa non fisik. Itu bukan pengangguran.


Pertanyaan

8. Apakah benar jasa kontrakan rumah zakatnya 5%?

Jawaban

8. Kontrakan rumah zakatnya dari hasil kontrakan dikurangi biaya operasional, tetap 2,5%.


Pertanyaan

9. Dikatakan yang dizakati adalah harta yang kita peroleh tahun itu. Bagaimana dengan emas simpanan yang tiap tahun kita zakati?

Jawaban

9. Emas yang dizakati adalah emas yang tidak dipakai. Kalau dipakai sebagai perhiasan yang dipakai tidak kena zakat. Kecuali pada waktu membelinya dulu tidak dari pendapatan yang kena zakat.
Yang dizakati adalah yang disimpan diluar pemakaian. Kalau emas disimpan untuk dijual belikan, termasuk barang niaga, tidak dizakati.
Yang dizakati adalah emas yang disimpan nganggur. Zakatnya tinggi karena 2,5% dari harga emas.

Termasuk punya rumah jika nganggur tidak dipakai apa-apa maka zakatnya 2,5% dari harga rumah. Tetapi kalau rumah itu dikontrakkan, zakatnya dari hasil kontrakannya.
Rumah dikampung yang digunakan hanya pada saat pulang kampung, termasuk bukan rumah menganggur. Hanya mubadzir, tapi konsep mubadzir belum dibahas.

Tanah kosong yang nganggur juga kena zakat 2,5% dari harga tanah. Supaya tidak membayar zakat mahal harus diusahakan, apakah disewakan atau ditanami untuk diambil hasilnya.

Intinya islam tidak mengijinkan barang modal menganggur. Semua modal harus diusahakan berputar nilainya. Kalau menganggur karena menunggu laku dijual, timbulnya wajib zakat pada saat laku dijual.


Pertanyaan

10. Bunga bank apakah boleh dipakai untuk zakat?

Jawaban

10. Bunga bank itu riba. Sedangkan riba itu haram. Barang haram tak dapat dipakai untuk beramal.
Kalau kita sudah terlanjur menyimpan di bank konvensional, bunganya berikan saja ke Lazis. Setelah itu uangnya ditarik dan dimasukkan ke bank Syariah biar terhindar dari riba. Jangan dilanjutkan.


Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here