Dr.H.Rozihan, SH. MAg

3 Ramadhan 1441/ 26 April 2020



Ketaatan Kepada Ulul Amri

Sekarang sedang terjadi Pro dan Kontra tentang ajakan Menteri Agama, termasuk Fatwa dari PP Muhammadiyah dan ormas-ormas besar di Indonesia tentang bagaimana ketika seseorang disebut harus taat aturan Ulul Amri.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul , jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ 59)

Kata-kata ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasul kedudukannya sama.

_”athii’ulloha wa athii’ur-rosuula wa ulil-amri mingkum”_

Sedangkan kepada Ulul Amri hanya digandeng. Maknanya adalah sepanjang aturan Ulul Amri tidak bertentangan dengan Perintah Allah dan Rasulnya maka kita wajib mengikutinya.

Sekarang yang sedang berkembang adalah bahwa Ulul Amri membuat aturan agar seseorang tidak boleh Shalat Tarawih berjamaah di masjid. Termasuk tidak boleh melakukan Shalat Jum’at di masjid. Sebetulnya beberapa organisasi besar seperti NU dan Muhammadiyah sama dengan Pemerintah telah melarang hal itu.

Bagaimana memahami tentang hukum-hukum itu? Kita mengenal ada Syariat dan ada Fiqih. Tanpa Fiqih kita tidak dapat memahami Syariat. Orang menyebutnya sebagai Hukum Islam.
Fiqih adalah ilmu-ilmu tentang hukum Syara’ praktis. Jadi Fiqih adalah ilmu dan ilmu itu relatif. Kalau kita bicara Hukum Syara’ Praktis kita bicara tentang pelaksanaan dari ajaran islam.

Seperti pada saat ini ada yang masih belum percaya bahwa Shalat Jumat boleh diganti. Shalat Jumat dalam keadaan normal dilaksanakan berjamaah di masjid. Tetapi dalam kondisi tertentu diganti Shalat Dhuhur di rumah. Ilmu tentang pelaksanaan syariat islam semacam ini disebut Fiqih.

Fiqih adalah Ilmu yang bersifat relatif, Syariat bersifat pasti. Karena Fiqih itu relatif maka yang perlu dilihat adalah “illat” [علة] atau sebab hukum.
Hukum ada atau tidak bergantung pada illat.

Kaidah ushul fiqih-nya ialah:

الحكم يدور مع العلة المأثورة وجودا وعدما

 “Al-hukmu Yaduuru Ma’a Al-‘‘illati Wujudan wa ‘Adaman”
Suatu hukum itu ditetapkan karena ada sebabnya. Kalau ada sebab ada hukum, tak ada sebab tak ada hukum.

Hukum Shalat Jum’at , Shalat Tarawih karena ada sebab. Kalau tak ada sebab kembali ke hukum asalnya.


Sumber Ajaran Islam

Tentang sumber ajaran islam, ulama berbeda pendapat. Kalau kembali ke hadits Nabi, sumbernya ada tiga :
Al Qur’an, Sunnah dan Ijtihad.
Ketika Rasulullah SAW mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman, Rasul menguji Muadz dan membenarkan.

عَنْ أَصْحَابِ مُعَاذٍ مِنْ أَهْلِ حِمْصٍ قَالَ: وَقَالَ مَرَّةً عَنْ مُعَاذٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ قَالَ لَهُ: «كَيْفَ تَقْضِي إِذَا عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ؟» قَالَ: أَقْضِي بِكِتَابِ اللَّهِ قَالَ: «فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي كِتَابِ اللَّهِ؟» قَالَ: أَقْضِي بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟» قَالَ: أَجْتَهِدُ بِرَأْيِي وَلَا آلُو قَالَ: فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ فِي صَدْرِي وقَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا يُرْضِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»

Dari orang-orang Himsh murid, dari Mu’adz bahwa Rasulullah saw. mengutusnya ke Yaman. Rasulullah saw. bertanya, “Bagaimana caramu memberi keputusan, ketika ada permasalahan hukum?” Mu’adz menjawab, “Aku akan memutuskan berdasar kitabullah.” Rasulullah bertanya, “Jika engkau tak menemukan dasar dalam kitabullah?” Mu’adz berkata, “Aku akan menghukumi berdasarkan sunnah Rasulullah saw.” Rasul berkata, “Jika kau tidak menemukan dalam sunnah Rasul?” Mu’adz menjawab, “Aku akan memutuskan berdasarkan pendapatku” Rasulullah saw. menepuk-nepuk dada Mu’adz sambil berkata, “Segala puji bagi Allah yang menuntun utusan Rasulullah kepada apa yang diridai Rasulullah” (HR. Al-Baihaqi).

Namun ada lagi yang berpendapat bahwa sumber hukum islam ada 4 :
Al Qur’an, Sunnah, Ijma dan Qiyas. Ini adalah pendapat Abdul Wahab Khalaf .

Ijtihad adalah Methode Berfikir. Kalau kita menempatkan Akal sebagai tempat berijtihad tergantung, kalau dulu hubungan Al Qur’an dan Akal Struktural, atas dan bawah.
Tetapi ada yang berpendapat bahwa karena Akal adalah alat untuk berijtihad maka Posisi Akal hubungannya Fungsional.

Akal adalah Fungsional untuk memahami Perintah-perintah, memahami Al Qur’an, memahami Sunnah Rasulullah SAW. Ketika memahami Al Qur’an dan Sunnah itu ada ilmunya. Dan itulah yang kemudian biasa disebut dengan Hukum Islam. Secara Akademik menyebut dengan Fiqih.

Fiqih itu ilmu, maka orang tidak boleh berpegang pada Fiqih, karena Fiqih selalu berubah rumusannya karena Fiqih adalah ilmu Tentang Hukum Syara’ Praktis.

Fazlul Rahman, seorang Guru besar di Amerika Serikat membagi dua hal :
Fiqih dan Syariat.
Ada perbedaan antara Fiqih dan Syariat. Sementara orang awam memahami bahwa Fiqih adalah Syariat.

Fazlul Rahman menyebutkan beberapa perbedaan antara Fiqih dan Syariat

1. Syariat adalah Suci

Syariat itu produk dari Allah SWT , sementara Fiqih itu produk dari manusia. Karena ilmu itu produknya manusia.

2. Syariat tidak berubah dan Fiqih selalu berubah.

Sebagai contoh :
Shalat, menurut Syariat tak akan pernah berubah. Orang di Asia, di Amerika dosisnya sama. Dhuhur 4 rakaat, Ashar 4 rakaat, Maghrib 3 rakaat dan seterusnya.
Fiqih memandang Shalat bisa berubah. Kenapa bisa berubah karena ada illat tadi. Ketika seseorang melakukan Shalat di perjalanan apakah sama dengan Shalat pada waktu menetap.? Ternyata tidak, Shalat Safar tidak sama dengan Shalat Tamam. Disitu terjadi karena berlakunya Fiqih. Dengan adanya Fiqih orang dapat melaksanakan Syariat.

Contoh lain :
Tayamum memakai debu.
Mungkin ketika seseorang ada di Jepara atau Mayong dapat mengambil debu karena debunya banyak.
Tetapi ketika naik Pesawat ke Jakarta, tak ada debu disana. Orang tak perlu membawa debu untuk digunakan Tayamum. Karena ketika di Pesawat kita bertayamum tanpa debu. Itulah yang dimaksud dengan Fiqih.

Fiqih itu adalah Pemahaman terhadap Syariat. Karena produknya manusia maka selalu berubah. Fiqih bersifat luwes maka orang tidak boleh berpegang secara fanatik terhadap Fiqih.

3. Fiqih adalah hukum.

Ada yang disepakati dan ada juga yang ikhtilaf (diperselisihkan).
Dan yang diperselisihkan banyak sekali karena juga didukung oleh hadits.

Contoh Fiqih tentang Shalat, kita jumpai bahwa pelaksanaan ibadah shalat itu sangat bervariatif.
Ketika membaca bacaan do’a iftitah, ternyata bacaannya banyak sekali, bervariasi.
Ketika membaca Basmalah dalam shalat juga bervariasi. Para ulama berbeda pendapat.

Termasuk ketika wudhu, Al Qur’an memberi ruang untuk berbeda pendapat.
Kalau kita kita membaca syariat tentang wudhu :

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَا غْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَ يْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَا فِقِ وَا مْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَ رْجُلَكُمْ اِلَى الْـكَعْبَيْنِ ۗ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki….”
(QS. Al-Ma’idah 6)

Cara berwudhu sudah ditentukan untuk Shalat. Tapi kemudian orang memahami ketika mau membaca Al Qur’an harus wudhu. Sebenarnya keluar dari text ini.

Ketika sampai membasuh kepala sudah mulai terjadi perbedaan.

وَا مْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ
“wamsahuu biru`uusikum”
(Basuhlah sebagian kepalamu)

Yang menjadikan perbedaan adalah huruf bak. Huruf bak mempunyai beberapa kharakter yang mengakibatkan ulama berbeda pendapat.

Ada yang berpendapat maknanya adalah “sebagian” , maka Imam Syafii kalau membasuh kepala sedikit saja. Cukup di bagian depan.
Tapi ada yang berpendapat harus semua, dibasuh mulai dari depan sampai belakang, kemudian kembali lagi ke depan.

Al Qur’an memberi peluang kepada kita untuk berbeda pendapat. Mana yang benar? Itu adalah pendapat masing- masing. Ketika orang memahami Al Qur’an dengan ilmu tak akan ada yang saling menyalahkan karena masing- masing ada sumbernya.

Kembali pada Surat An Nisa ayat 59 di atas, bila kita mendapat perbedaan diperintahkan kembali pada Allah dan Rasul.

_”fa ing tanaaza’tum fii syai`ing fa rudduuhu ilallohi war-rosuuli”_

Tapi ketika kembali pada Allah dan Rasul yang mana? Ternyata Al Qur’an dan Sunnah juga memberi peluang berbeda pendapat. Tetapi kalau kita sudah faham tentang Fiqih, bahwa Fiqih adalah ilmu, mestinya memahami bahwa tidak ada yang salah. Karena masing-masing yang beda itu sumbernya berasal dari Al Qur’an itu sendiri.


Menggabungkan atau Mentarjih

Ketika kita membicarakan tentang Hukum Islam, kita berbicara tentang Fiqih.

Di dalam ilmu Fiqih ada Fiqih Perbandingan yang membandingkan berapa pendapat ulama. Ketika Topik telah ditentukan kemudian ada pendapat ulama bagaimana dan dasar para ulama berpendapat bagaimana.
Kita menilai pendapat ulama itu bagaimana.

Dalam menilai itu ada beberapa cara :
– Menggabungkan dua pendapat.
– Tarjih, memilih pendapat yang paling kuat.

Mana yang dipakai tergantung methode yang digunakan. Di dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah memilih menggunakan ‘Menggabung’ , akan bersifat moderat karena beberapa pendapat dipakai semua.

Contoh menggabung pendapat adalah ketika Shalat Gerhana.
Shalat Gerhana ada yang satu rakaat satu Fatihah, ada yang satu rakaat dua Fatihah dua Rukuk.
Lalu bagaimana pilihannya, apakah mau memilih yang terkuat atau mau menggabungkan?
Manhaj Tarjih sebetulnya menggabung keduanya.

Itu adalah salah satu contoh ketika kita berbicara tentang hukum islam. Fiqih itu ternyata sangat luwes. Hanya persoalannya ada sekelompok orang islam yang selalu fanatik (minded) dengan Fiqih, yang tidak mau berubah .
Padahal karena Fiqih ini produk manusia, kita tidak boleh fanatik pada pendapat manusia.

Fiqih hanyalah sebagai pertimbangan saja, karena Fiqih atau Hukum Islam itu dipengaruhi berbagai faktor : Teknologi, Kemasyarakatan, Waktu, bahkan Tempat, ada bermacam- macam faktor yang mempengaruhi.

Maka Fiqih itu banyak, ada Fiqih Syafi’i, ada Hambali, ada Hanafi, ada Maliki. Jadi terjadi ikhtilaf, ada perbedaan.

Faktor masyarakat membawa pengaruh besar pada pendapat mereka. Sehingga Fiqih tidak dapat dijadikan dasar, karena Fiqih antara negara yang satu dengan negara yang lain pasti tidak sama. Bahkan Imam Syafi’i pun pendapatnya berubah sesuai waktu, karena itu ada Qaul Qadim dan Qaul Jadid yang berbeda.

Karena itu Fiqih memberi wawasan yang cukup luas bagi kita. Kalau kita tidak siap menjadi bingung. Kalau kita sudah siap, kita akan menjadi orang yang tidak mudah terkejut atau heran.


Mengambil Hukum Yang Mudah (Talfiq)

Fiqih bila terkait ibadah, kita tidak masalah bila mengambil yang mudah-mudah. Karena ibadah itu otoritasnya Allah

Misal kita mau shalat, dengan wudhunya menggunakan theorinya imam Hanafi dan batal wudhu menggunakan theorinya Imam Syafi’i tidak masalah.
Waktu Haji, ada yang di Indonesia menggunakan madzab Syafi’i kemudian ketika di Mekkah menggunakan Madzab yang lain. Supaya tidak batal wudhu ketika berdesakan.

Tetapi bila terkait muamalah kita tidak diijinkan mengambil pendapat- pendapat yang mudah.

Misalnya Perkawinan
Bila kita gunakan Fiqih Perkawinan (Munakahat) yang mudah-mudah saja itu tidak boleh.
Menurut Imam Maliki, pernikahan boleh tanpa saksi. Menurut Imam Hambali boleh tanpa wali.
Kalau diambil yang mudah-mudah saja jadinya Nikah bisa tanpa wali dan tanpa saksi, jadinya Kumpul Onta.

Dalam bidang Muamalah dan Munakahat, negara mempunyai wewenang menetapkan untuk memilih.
Oleh karena itu di Indonesia kemudian ada Fiqih Indonesia yang kemudian disebut dengan Kompilasi Hukum Islam. Yang ditetapkan dengan Inpres. Umat Islam apapun pendapatnya, dia harus taat pada Hukum Islam yang sudah dikompilasi menjadi Hukum Positif.

Maka kemudian di Indonesia kita kenal Undang-Undang Haji, Undang-Undang Zakat, Undang-Undang Perkawinan. Itu semua adalah Hukum Islam yang sudah dikompilasi. Umat Islam harus taat. Kenapa kok harus taat? Karena dalam Undang-Undang ada kemaslahatan.

Kembali dalam Hukum Perkawinan, di Indonesia menetapkan bahwa Nikah harus dicatat. Kalau tidak dicatat yang rugi adalah pihak wanita. Karena disana ada mudhorot maka mudhorot harus dihilangkan.

Dulu Rukun Nikah cuma : Ada pengantin Laki-laki, ada Pengantin Perempuan, ada Wali, ada Saksi.
Sekarang di Indonesia ada tambahan :
Nikah harus dicatat. Kalau tidak dicatat memberi peluang timbulnya mudhorot.

Ketaatan terhadap Hukum Islam yang telah dikompilasikan inilah yang dimaksudkan di dalam ayat

_”athii’ulloha wa athii’ur-rosuula wa ulil-amri mingkum”_
Taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri (Pemerintah) di antara kamu

Ketaatan terhadap ulul amri adalah ketaatan terhadap putusan Pemerintah yang tidak bertentangan dengan Perintah Allah dan Rasul.

Termasuk dalam keadaan saat ini dengan munculnya wabah Covid19 ini ketaatan kepada Pemerintah termasuk tidak lepas dari ketaatan kepada Allah dan Rasul, sesuai dengan ayat :

وَلَا تُلْقُوْا بِاَ يْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ  ۛ 

wa laa tulquu bi`aidiikum ilat-tahlukati

“dan janganlah kamu jatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri….” (QS. Al-Baqarah 195)

Jangan sampai kamu tertular atau menularkan virus ini.

Kemudian dalam hadits

 لاَ ضَرَرَ وَلاَضِرَار

“Tidak boleh membuat kemudharatan dan tidak boleh membalas kemudharatan”. (HR Malik)

Kita diajarkan untuk menyelamatkan diri sendiri dan menyelamatkan orang lain.

Berhukum kepada Allah dan Rasul dilakukan dengan cara berhukum kepada Pemerintah.
Termasuk mematuhi :
– Larangan mudik, karena membawa mudhorot.


TANYA JAWAB

Pertanyaan :

1. Tentang _”athii’ulloha wa athii’ur-rosuula wa ulil-amri mingkum”_
Tentang ulil amri apakah harus Pemerintah Pusat? Ataukah bisa lokal, misal Ketua Umum Muhammadiyah bagi warganya, atau Kepala Kantor bagi Pegawainya?

Jawaban :

1. Benar, memang yang namanya ulil amri tidak mesti Pemerintah, tapi Penguasa diantara kamu. Bagi Pegawai Rumah Sakit taat kepada Direktur Rumah Sakit. Kalau di Perguruan Tinggi taat kepada Rektor. Kalau dalam Organisasi taat pada Pimpinan Organisasi.

Namun dalam hal masalah kedaruratan yang mendesak, taatnya pada satu kesatuan. Seperti kondisi pada saat ini maka taatnya kepada yang punya otoritas. Masyarakat awam tidak boleh menggunakan pendapatnya sendiri kemudian taat kepada Pimpinan yang tidak punya Otoritas. Misal dalam kondisi saat ini yang punya otoritas adalah Pimpinan Bidang Kesehatan.

Kalau di Muhammadiyah jelas karena ada Majelis Tarjih, yaitu Lembaga yang memang mempunyai otoritas keagamaan. Maka ketika Pimpinan Organisasi memberikan fatwa jelas sudah ditetapkan oleh Majelis Tarjih.

Kalau seperti sekarang ini, kalau mengikuti Allah dan Rasulnya :
Perintah Allah, seorang Muslim yang baik adalah seperti sabda Nabi SAW :

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim yang baik adalah yang tangan dan lisannya tidak menyakiti orang lain” (HR. Bukhari Muslim).

Bagi kita jangan mencelakakan diri sendiri dan mencelakakan orang lain. Itu adalah Perintah Nabi.
Para dokter, para ahli Medis sudah memberi tuntunan supaya kita selamat dan menyelamatkan orang lain, diantaranya tidak berkerumun.
Berkerumun itu dalam konteks berjamaah adalah berkerumun.

Namun kita lihat dibeberapa daerah ada yang nekad melaksanakan shalat Tarawih. Termasuk yang di Halmahera yang dibubarkan. Di Halmahera masih ada yang menyelenggarakan shalat jum’at. Alasannya untuk mengisi Kas Masjid, karena biaya operasionalnya tinggi, satu bulan 6 juta. Kalau jumatan berhenti maka tak ada pemasukan Kotak Infak. Akhirnya dibubarkan RT/RW dan Babinsa.

Kalau pendekatan masalah ekonomi saya tak dapat bicara. Tapi kalau pendekatan agama memang jika orang tidak bisa shalat jum’at maka kembali kepada hukum asal, yaitu Shalat Dhuhur. Menurut Nabi hal ini sama nilainya.

Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتِى رُخْصَهُ كَمَا يُحِبُّ أَنْ تُؤْتِى عَزَائِمَهُ

“Sesungguhnya Allah menyukai didatanginya rukhsah yang diberikan, Sebagaimana Allah menyukai diamalkannya perkara-perkara yang diwajibkan” [Hadits Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban]

Rukshah adalah keringanan, sedangkan Azimah adalah Kewajiban.
Shalat Jum’at itu Azimah sedangkan Shalat Dhuhur itu Rukshah. Dimata Allah nilainya sama.

Jadi ketika di Perjalanan ada orang tetap melakukan Shalat Tamam Dhuhur (sempurna) dia tidak mengerti Hukum Islam. Kalau dia mengerti Hukum Islam maka Shalatnya diperjalanan melakukan Jamak Qashar, Dhuhur dua raka’at dan Ashar dua raka’at yang nilainya sama dengan shalat empat raka’at.


Pertanyaan :

2. Tentang berita Jamaah Tabligh yang banyak berkumpul di Malaysia, di India dan juga di Jakarta Barat dan Sulawesi yang menimbulkan berita hangat tentang penyebaran Covid-19. Bahwa jamaah Tabligh ini merupakan sumber masalah bagi bangsa dan negara.
Kemudian di Media, berita tentang jamaah Tabligh ini rupanya juga dibesar-besarkan. Sehingga membuat citra umat islam kurang baik.

Apakah memang benar bahwa hadits-hadits yang dipakai oleh Jama’ah Tabligh itu kebanyakan hadits Dhoif atau Palsu.?

Jawaban :

2. Ketika kita belajar Hadits, dari segi pemahaman ada tiga kelompok yang mempelajari : Mutasyadid (ketat), kemudian ada kelompok Mutasyahil (sangat ringan) dan yang ketiga adalah kelompok Mutawasith (moderat)

Tetapi dalam melaksanakan hadits ajaran Rasulullah atau melaksanakan Al Qur’an itu kan ada ilmunya. Ilmu itulah yang kemudian digunakan untuk melakukan ajaran Sunah Rasulullah dan Al Qur’an.

Persoalannya karena tidak ada ilmu.
Ada ilmu Mustholah hadits, ilmu Fiq’ul Qur’an, ada Fiq’ul Hadits yang harus dikuasai. Jadi tidak bisa memahami hadits sebagaimana apa adanya yang dituliskan. Ada yang namanya Penjelasan Terhadap Hadits yang namanya Syarah Hadits.

Orang tidak bisa membaca Teks Hadits Imam Bukhori dan Imam Muslim tanpa membaca Syarahnya.
Sedangkan Syarah dari Hadits Bukhori itu saja macam-macam. Ada Fathul Bari, Irsyadus Sari, Umdatul Qari.
Jumlahnya banyak sekali.

Ketika orang awam yang membaca Hadits tadi secara Tekstual kadang- kadang bisa keluar dari substansinya.

Contoh, ada hadits Nabi SAW bersabda,

أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى

“Potong pendeklah kumis dan biarkanlah peliharalah jenggot.” (HR. Muslim)

Kalau difahami apa adanya maka yang terjadi teman-teman kita yang memahami secara textual adalah memanjangkan jenggot. Padahal hadits itu tidak bisa difahami secara textual , kalau kita melihat Asbabul Wurudj, sebab turunnya hadits itu maka hadits itu harus difahami secara Kontekstual.

Pada saat itu Rasulullah berpesan bahwa saat itu untuk membedakan secara fisik antara Orang Yahudi dan Orang Muslim terletak pada kumis dan jenggotnya. Orang islam ditandai dengan jenggot yang panjang. Orang Yahudi ditandai dengan kumis yang dipanjangkan dan jenggot yang dicukur. Dengan Asbabul wurudj dan Fiq’ul Hadits itu kemudian untuk menetapkan hadits itu.

Saudara-saudara kita yang tergabung dalam Majelis Tabligh itu tahu bahwa shalat Tarawih itu sunah dilakukan berjamaah. Tapi bila tidak difahami bisa menjadi Makruh. Ini karena adanya elat atau sebab. Mereka memahami Hadits secara tekstual.
Masih ada disekeliling kita yang tetap Tarawih. Padahal Tarawih sendiri di rumah nilainya sama, jika memegang hadits tadi.

Jadi antara hadits yang satu dengan hadits yang lain harus dibaca bersama. Al Qur’an juga begitu, maka ada Tafsir Al Qur’an bil Qur’an. Ayat yang satu menjelaskan ayat yang lain. Tidak bisa diambil sepotong-sepotong.

Bila kita mempunyai ilmu tentang Al Qur’an dan Hadits, sekurang-kurangnya menjadi orang yang mempunyai methode untuk tidak sekedar memahami Al Qur’an atau Sunah secara tekstual, tetapi ada Pesan apa yang terdapat didalamnya.

Ahkamul Khomsa, hukum islam yang lima dipengaruhi adanya sebab hukum atau elat.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here