Prof.Dr.H. Amien Rais, MA

19 Syawal 1441/11 Juni 2020


Saya ingin memberi sedikit catatan bahwa Pandemi virus corona ini memang sesuatu yang tidak saya bayangkan sebelumnya. Demikian meluas, demikian global, di dunia internasional. Tetapi ada dua tokoh yang sepertinya itu sudah pernah meramalkan.

Tahun 2017 Bill Gates pernah mengatakan bahwa negara-negara maju umumnya mereka mengantisipasinya hanya bahaya-bahaya perang nuklir. Mereka hanya berkutat pada kemungkinan membangun pertahanan nasional berdasarkan kemampuan nuklir. Kemudian setelah itu ada seorang multisaientis namanya Fukuyama, dia orang Jepang yang warganegara Amerika mengatakan bahwa tahun tahun mendatang nanti bangsa-bangsa itu akan dihadapkan bukan saja sebuah sisi yang gelap tetapi “blind side” (sisi yang buta).

Artinya dalam percaturan antar bangsa ada wilayah yang gelap, bahkan yang buta. Tidak bisa dibuka oleh wartawan, tidak bisa dideteksi oleh para inteligent karena demikian rapatnya bangsa- bangsa maju itu merahasiakan apa yang sedang mereka ciptakan. Dalam hal ini sekarang kita lihat ada wacana yang mengatakan sesungguhnya penyebar dari Covid 19 tidak terlalu sulit ditebak. Karena hanya tiga negara yang punya Bio Military Lab (Laboratorium Bio – militer) untuk mengembangkan virus itu. Yang pertama itu Israel di Tel Aviv, yang kedua Amerika dan yang ketiga China.
Betul atau tidak, wallohu alam.

Tapi kemudian mereka saling menuduh bahwa : Kamulah sebab musababnya!

Lantas dua minggu yang lalu ada peristiwa yang menarik ketika utusan dari China datang ke Tel Aviv, kemudian tak sampai setengah hari sudah mati terbujur jadi mayat. Kemudian pihak Israel mengatakan : “Kami tidak tahu menahu, karena kami tidak pernah menginjak Kedutaan Besar China, tapi tahu-tahu ada berita sudah meninggal”.
Ini diluar dugaan kita orang awam.

Memang sekarang ini kemajuan teknologi , termasuk teknologi perang sudah amat sangat jauh melampaui imajinasi kita. Sebagai misal nanti perang antar bangsa dan negara maju bukan lagi perang antar pasukan, bukan lagi perang menggunakan Military Aircraft (Pesawat -pesawat tempur, membawa bom dan lain-lain). Tidak akan melibatkan satu orangpun pasukan karena perang itu perang antar drone.

Drone adalah buatan dari negara- negara maju itu yang sebesar belalang. Kecil sekali dilengkapi sensor dia bisa keliling di angkasa ini sampai dua – tiga minggu. Jumlahnya beratus-ratus ribu mendatangi negara musuh untuk kemudian membuat kehancuran negeri bersangkutan. Kita Indonesia memang dalam hal ini masih terbelakang, tapi kita perlu mengetahui supaya kita tidak kehilangan arah.

Corona Virus atau Covid 19 ini memang penuh teka-teki. Karena itu sekarang banyak orang yang berfikir siapa yang paling diuntungkan dengan adanya Pandemi ini. Jawabannya tentu Perusahaan Farmasi yang mereka membuat masker spesial, juga sedang mencari vaksin atau alat penangkal virus. Kalau sudah ketemu pasti akan sangat mahal dan karena itu kalau keadaan sudah seperti ini berarti ada intervensi politik dan ekonomi. Jadi nafsu angkara murka negara maju untuk menambah kekayaannya ,untuk menyingkirkan lawannya ditempuh sebuah cara yang amat sangat biadab. Yaitu memusnahkan nyawa manusia.

Ada seorang ulama dari Trinidad bernama Imran Husein, bisa dibuka di You Tube. Beliau yang pertama kali mengatakan berdasarkan pantauan beliau berdasarkan Al Qur’an, Sunah dan ijtihad bahwa pembuat Covid 19 ini adalah Israel. Kata beliau dimaksudkan supaya Israel yang kecil itu bisa menentukan masa depan dunia dengan cara memusnahkan separuh dari penduduk muka bumi ini.

Yang dimusnahkan adalah China, kemudian Dunia islam terutama Dunia Arab dan mungkin juga India dan lain-lain supaya kemudian umat manusia bisa ditata kembali tidak terlalu membebani kemampuan bumi untuk memberikan makan dan lain-lain. Karena sekarang sudah terlalu banyak, sampai 7, 5 milyard. Kira-kira dibuat pas separuh saja. Itu kata Imran Husein dan itu masuk akal juga. Karena bagi Israel nyawa manusia itu kan seperti kelinci atau apa, binatang yang tak ada harganya.

Kita sendiri juga tidak tahu, yang sekarang terjadi di Amerika ini huru hara luar biasa. Sekarang ada semcam civil war, perang antara putih dan hitam. Jadi “Black’s Life Matter”, urusan kehidupan kulit hitam jangan diremehkan dan lain-lain.

Kita kembali ke Indonesia, cuma kita harus tahu bahwa konteks globalnya seperti itu. Dan di Indonesia ini memang terus terang pada awalnya sudah tidak jujur. Kata Pimpinan Negeri kita ini, kita mula-mula menyangka ini seperti demam atau fever biasa. Kemudian jangan sampai mengagetkan. Kalau bisa ditutup dulu kalau mengagetkan jangan-jangan ekonominya goncang. Setelah lama seperti itu, baru kemudian terlambat.

Nasi sudah menjadi bubur kita kurang siap. Jakarta juga kurang siap. Dan kata sohibul hayat, bahwa yang dilaporkan negara Indonesia angka kematian itu bukan angka kematian yang sesungguhnya. Yang mati lebih banyak dari yang dilaporkan. Yang dilaporkan adalah hospital death (kematian menurut rumah sakit). Tapi yang mati di desa, di tengah kampung dan lain-lain yang segera dikubur dengan cepat dan lain-lain. Barangkali juga korban corona virus. Walohu alam.

Jadi sekarang seperti ini keadaannya.
Ya sudahlah , yang jelas ke depan ini jelas sekali akan lebih berat lagi. Yang kita minta :

1. Pemerintah jujur apa adanya.
2. Nyawa manusia lebih penting dari soal ekonomi. Ekonomi itu bisa dipulihkan kembali, nyawa kalau sudah hilang, ya sudah, selesai.
3. Ke depan harus ada trust, kepercayaan antara rakyat pada Pimpinannya.

Dalam theori politik sebuah negara jadi stabil kalau ada trust antara leadership dan followership. Antara Kepimpinan dan Kerakyatan. Jadi koneksi itu harus sangat bagus sehingga rakyat tahu bahwa Pemerintah kami , Penguasa kami sudah maksimal, sudah jujur, sudah tidak ada yang ditutup -tutupi. Sudah betul-betul membela rakyat, bukan membela Konglomerat dan Kleptokrat dan lain-lain. Sehingga kemudian menjadi lebih stabil.

Ada seorang ekonom yang mengatakan hati-hati bulan Juli nanti, tabungan yang pas-pasan dari rakyat kecil sudah habis. Dan kalau masih ada lock down, ekonomi masih sempoyongan, jangan-jangan menimbulkan sebuah kekuatan sosial eksplosif.

Saya cuma berharap bahwa bangsa ini bangsa besar, juga sangat agamis, percaya kepada Allah jadi sambil kita berusaha, berupaya dari berbagai segi untuk memperkecil Pandemi ini supaya tidak semakin meluas, kita jangan lupa untuk berdo’a kepada Allah. Bertobat kepada Allah.
Kita selalu tawaduk, kita jangan takabur. Karena saya pernah mengatakan dalam sebuah forum yang lain , kalau kita tafsirkan , kita terjemahkan bahwa bila Pandemi Covid-19 ini adalah sebuah jeweran Allah, peringatan Allah, maka Allah itu tentu dengan umatnya, dengan ciptaannya anak cucu Adam, tentu lebih banyak rahmat dan rahiemnya daripada katakanlah azabnya itu.

Jadi kita katakan :”Bismillahir rohmanir rohiem”, kita selalu mengatakan Allah Maha Rahman, Maha Rahiem.

Itu yang penting bagaimana kita bersama-sama ini jangan merasa takabur , merasa dapat mengatasi ini dengan kemampuan dan sebagainya. Saatnya kita bertafakur, bertadabur, bertawaduk, mudah-mudahan dengan demikian, pelan-pelan kita kembali ke keadaan yang lebih bagus, bukan new normal. New normal itu tidak normal. Tetapi keadaan yang lebih bagus sehingga kita lebih tenang, lebih enjoyable hidup kita.


TANYA JAWAB

Pertanyaan

1. Bagaimana menghadapi kekuatan yang sepertinya ingin mengubah NKRI?


Jawaban

1. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang ada dibanyak kepala masyarakat kita karena yang kita lihat kalau kita mau terus terang, Kedaulatan kita itu sudah enteng. Tidak begitu solid lagi.
Misalnya bidang ekonomi sepertinya kita sudah didikte oleh kekuatan dari luar. Hutang kita sudah terlalu gede ke China. Kemudian juga kita tahu bahwa kemungkinan kalau tidak segera diatasi kita masuk ke dalam sebuah ‘Debt Trap’ (jeratan hutang).

Di negara-negara yang sudah dijerat oleh hutang China itu banyak yang diambil alih Bank Sentralnya. Ada dua tiga negara Afrika yang dikasih hutang banyak tapi tak bisa mengembalikan, maka seperti cerita , creditor akan datang memberikan ancaman. Kalau kamu tak bisa bayar, harus begini…begini.. begini. Biasanya yang hutang itu lebih lemah, mengiyakan. Sehingga di negara -negara kulit hitam di Afrika itu, seperti Uganda dan lain-lain Bank Sentralnya tidak lagi berkulit hitam, tapi semua orang dari daratan Tiongkok.

Ini Indonesia saya kira akan kesana juga kalau tidak hati-hati. Bagaimana ratusan ribu TKA dari China merajalela di berbagai tempat sampai Papua, sampai diberbagai pojok, berbagai Kecamatan di Sulawesi bahkan di Bogor dan lain-lain. Itu menandakan bahwa memang Kedaulatan kita sudah tipis.

Kita masih ingat dulu ada Reklamasi Teluk Jakarta, ada sekian belas pulau semua modal dari China. Akan dihibahkan , diserahkan untuk kepentingan mereka.

Pertanyaannya bagaimana menghadapi terhadap gejala-gejala pecahnya NKRI?

Ini harus kita fikirkan!
Dulu ada negara besar namanya Uni Soviet, sekarang sudah tidak ada. Padahal dulu Super Power, negara Maha Daya. Kemudian juga Yugoslavia negara Eropa Timur yang paling makmur, paling stabil, paling kaya sudah tidak ada lagi.
Nah kita punya NKRI ini wilayahnya juga sangat luas bahkan dari segi waktu saja ada Bagian Timur, Bagian Tengah, Bagian Barat. Saking luasnya itu. Memang negara ini harus kita bela.

Yang jelas dimata kita bahwa ada orang -orang di dalam negeri yang memberikan keleluasaan bagi orang asing itu untuk katakanlah masuk ke negeri kita, menjarah tambang kita, menjarah hasil hutan kita seenaknya dan kita hanya pura-pura tidak melihat. Ini harus dihentikan. Sepertinya sekarang- sekarang belum berhenti.

Kalau melihat penanganan virus corona ini kurang profesional, cerminan juga daripada penanganan ekonomi kita, pertahanan kita, politik kita, keuangan kita dan lain-lain.

Ada Pimpinan yang mengatakan : Mudik dan Pulang Kampung itu beda, saya gagal memahami. Dari dulu Mudik ya Pulang Kampung.
Kemudian ada ketidak cocokan antara Gubernur dan Presiden, antara Gubernur dengan Walikota juga saling lempar tuduhan dan lain-lain.

Jadi saya punya theori sederhana, Kepemimpinan yang baik itu yang bisa menghimpun Tokoh-tokoh dan kekuatan bangsa itu menjadi satu kekompakan. Ibarat lidi kalau cuma satu dia tak akan kena untuk memukul lalat. Tapi kalau lidi ada 50, ditali kuat dipangkalnya maka dia bisa segala macam. Bisa menyapu lantai, menyapu halaman dan untuk hal yang bermanfaat.

Yang saya lihat sekarang ini memang diataspun juga masih banyak yang ‘ngalor ngidul’, antara Menteri ini Menteri itu tidak koordinasi. Ini sudah rahasia umum.

Kita mohonlah, kita harapkan karena sudah satu tahun ini mengelola sebaik-baiknya jangan kemudian membuat kita makin rentan. Ekonomi sepertinya mau ambruk, juga Pertahanan kita sudah lemah karena orang asing keluar masuk.


Pertanyaan

2. Dengan kasus virus ini kita punya tokoh ibu Siti Fadilah Supari. Pak Amien mungkin faham betul bagaimana internasional punya kepentingan terhadap virus tadi. Ini kasus beberapa tahun lalu tentang virus.
Mestinya persoalan virus bisa diatasi secara keilmuan kedokteran. Tapi ada kepentingan multi nasional. Apakah mungkin ibu Siti Fadilah bisa diminta tolong menyelesaikan masalah virus ?

Jawaban

2. Beliau dulu berani melawan WHO. Ujung-ujungnya ada kepentingan raja-raja Farmasi di Amerika. Sekarang mungkin lebih parah lagi. Kalau dulu hanya kepentingan ekonomi. Kalau sekarang sepertinya kepentingan untuk memusnahkan kekuatan secara bertahap, bangsa-bangsa yang maju itu. Korban di Amerika sudah melampaui 106 ribu meninggal. Bahkan ada yang mengatakan nanti sampai 2 juta setelah itu selesai.

Kita menghadapi sebuah wacana-wacana yang membuat bangsa-bangsa itu panik. Salah seorang Prof di Inggris mengatakan paling bagus menghadapi Corona itu dengan cara Herd Immunity. Herd itu artinya kumpulan sapi, intinya bila ada pandemi yang menyerang sapi itu kan tidak semua sapi mati. Paling cuma 6-7%. Maka sudahlah jangan sampai yang 93% kehilangan kebebasan bergerak. Maka kita lepas saja.
Ini sudah ugal-ugalan, tapi karena bingung. Barangkali seperti itu.

Saya ingin mengatakan disini, kita sedang diyakinkan. Seolah-olah kalau dipromosikan, bangsa Indonesia harap tenang, nanti keadaan akan lain. Namanya new normal. Dengan new normal ini saya merasa ada yang tidak benar. Saya mencoba mencari ternyata istilah new normal itu berlaku diterapkan dalam perubahan gejala- gejala alam.

Para ahli ecology dan geografy mengatakan bahwa efek global warming, climate changes menimbulkan suhu akan naik sekian derajad celcius dalam bilangan sekian tahun. Nanti juga akan kita ketahui permukaan air laut tiap tahun menambah sekian cm. Kalau sudah sekian dekade akan lebih tinggi 1 sampai 2 meter. Akhirnya nanti banyak Pelabuhan dan daerah yang rendah akan tenggelam. Itu namanya new normal .

Kemudian oleh orang-orang politik dan sosial istilah new normal ditarik untuk diterapkan untuk kehidupan secara ekonomi.
– Kalau kemudian kita tambah pengangguran itu new normal
– Kalau kemudian Indonesia terpaksa tambah hutang lagi sehingga tidak bisa dikembalikan secara wajar itu new normal.
– Kalau kemudian kembang kempis kehidupannya, kurang gizi dan sebagainya itu new normal.

Seperti ini yang saya katakan berbahaya. Jadi kita hati-hati dengan istilah-istilah. Kalau kita telan menjadi seperti orang yang kurang berfikir. Itu masalah yang kita hadapi.

Kembali kepada pertanyaan tadi , saya kira seorang ibu Siti Fadilah tidak mampu. Ini ada mesin Birokrasi, mesin Politik ,mesin Keuangan, mesin yang diluar jangkauan rakyat kecil sedang mendikte.

Tetapi perlukah kita kecil hati ? Tidak perlu. Bagaimana caranya ?
Memang hanya satu, kalau rakyat bersatu memohon kekuatan membangun kebenaran melawan kebathilan. Memilih kejujuran daripada kebohongan in syaa Allah masih ada jalan keluar. Di dunia ini yang tidak bisa diatasi cuma proses menua, makin keriput dan kemudian mati.

Yang lain bisa diatasi dengan kemauan, persatuan dan kesatuan.
Rakyat kita sudah banyak digembleng dengan berbagai musibah sejak sebelum merdeka sampai sekarang.
Yang kita perlukan mudah-mudahan yang diatas menyadari bahwa kehidupan rakyat sudah berat sekali. Sementara yang diatas, lapisan elit jangan hanya berwacana. Tetapi berbuatlah untuk keselamatan bangsa yang sudah kembang kempis ini.


Pertanyaan

3. Dengan kekuatan yang ada sekarang karena belum menukik kepada apa yang harus dilakukan oleh Muhammadiyah sebagai organisasi terbesar di Indonesia, apa yang bisa dilakukan secara kongkrit?


Jawaban

3. Muhammadiyah kalau sendirian tidak mungkin kalau memikul beban sedemikian berat.
Muhammadiyah memang kekuatan yang cukup tangguh, lebih tua daripada Republik. Dari masa ke masa masih istiqomah. Tetapi mengharapkan Muhammadiyah memecahkan masalah bangsa mungkin agak terlalu ideal juga.

Muhammadiyah kuat karena berorientasi jauh kedepan. Betul-betul mandiri. Dulu Pak Daud Yusuf menteri Pendidikan kita mencabut subsidi ke Muhammadiyah, harapannya sekolahnya ambruk. Tapi tidak ambruk malah makin bagus. Karena Muhammadiyah mempunyai kemandirian.

Dari lagu Muktamar kita camkan :
– Tetaplah digaris depan.
– Muhammadiyah selalu berjuang.
– Mendapat berkah serta ridha Allah menjadi tujuannya.

Kita memang harus begitu.
Muhammadiyah sekarang ini memang harus bicara, jangan hanya minta bantuan. Tapi bicara, berikan masukan dari Muhammadiyah untuk menghadapi masalah nasional , masalah ini masalah itu.

Itu memerlukan sebuah keberanian dan kemandirian. Kita tidak pernah diajari oleh KH Ahmad Dahlan untuk minta bantuan sehingga nanti kemandirian jadi hilang.

In syaa Allah kita masih ada harapan. Kita bisa memanfaatkan ukuran kebesaran walaupun mungkin relatif juga dari kekuatan moral, kekuatan keagamaan, kekuatan spiritual Muhammadiyah untuk kita arahkan yang benar.

*Tetaplah digaris depan ! kalau di garis belakang mau ngapain?*


Pertanyaan

4. Mohon arahan terkait dengan strategy untuk menang dalam peperangan. Baik perang dalam ekonomi, perang politik dan yang lain.
Terkait dengan Surat Al Anfal 45 dan 46 paling tidak ada 5 strategy :
– Berteguh hati
– Dzikrullah
– Taat pada Allah dan Rasul
– Jangan bantah-bantahan
– Bersabarlah.

Kaitan dengan hal ini paling pokok adalah sorotan yang ke empat. Ketika Indonesia menghadapi musuh baik yang nyata maupun tidak nyata, lalu kita terjebak pada bantah-bantahan, menyebabkan kita gentar dan kehilangan kesabaran akhirnya mudah dikalahkan. Mohon petunjuk bagaimana persiapan kita?


Jawaban

4. Pertanyaannya , jawabannya bisa panjang lebar. Kalau kita melihat Al Qur’an memang ada sesuatu yang hilang dari kalangan umat islam, termasuk Muhammadiyah, yaitu Daya juangnya.

Jadi kalau kita lihat At Taubah 111 sebelum kita turun kemuka bumi ada kontrak antara Allah dengan orang beriman apakah itu Nabi Musa, Nabi Isa maupun Nabi Muhammad.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَ مْوَا لَهُمْ بِاَ نَّ لَهُمُ الْجَــنَّةَ ۗ يُقَا تِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَ يُقْتَلُوْنَ ۗ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرٰٮةِ وَا لْاِ نْجِيْلِ وَا لْقُرْاٰ نِ ۗ وَمَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَا سْتَـبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖ ۗ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah 111)

Tetapi memang pada saat yang sama kita mengalami godaan yang luar biasa. Untuk sampai kepada jihad konstitusional, jihad ekonomi, jihad politik, jihad apapun memang memerlukan sebuah kekuatan, keimanan dan fighting spirit.

Ada banyak contoh bagaimana orang orang yang sudah beriman ketika menghadapi musuh kebenaran kadang-kadang juga grogy. Kita bisa membuka surat Al Baqarah.

Ada cerita bahwa ketika Thalut ditetapkan jadi raja Bani Israel, dia berhasil mengumpulkan pasukannya memerangi Jalut yang zalim.
Allah SWT berfirman:

فَلَمَّا فَصَلَ طَا لُوْتُ بِا لْجُـنُوْدِ ۙ قَا لَ اِنَّ اللّٰهَ مُبْتَلِيْکُمْ بِنَهَرٍ ۚ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّيْ ۚ وَمَنْ لَّمْ يَطْعَمْهُ فَاِ نَّهٗ مِنِّيْۤ اِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِۢيَدِهٖ ۚ فَشَرِبُوْا مِنْهُ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۗ فَلَمَّا جَاوَزَهٗ هُوَ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ ۙ قَا لُوْا لَا طَا قَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَا لُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ ۗ قَا لَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوا اللّٰهِ ۙ کَمْ مِّنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً کَثِيْرَةً بِۢاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَا للّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

“Maka ketika Talut membawa bala tentaranya, dia berkata, Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Maka barang siapa meminum (airnya), dia bukanlah pengikutku. Dan barang siapa tidak meminumnya, maka dia adalah pengikutku kecuali menciduk seciduk dengan tangan. Tetapi mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Ketika dia (Talut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya. Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah 249)

وَلَمَّا بَرَزُوْا لِجَـالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ قَا لُوْا رَبَّنَاۤ اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّثَبِّتْ اَقْدَا مَنَا وَا نْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْکٰفِرِيْنَ ۗ 

“Dan ketika mereka maju melawan Jalut dan tentaranya, mereka berdoa, Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”
(QS. Al-Baqarah 250)

فَهَزَمُوْهُمْ بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَقَتَلَ دَاوٗدُ جَا لُوْتَ وَاٰ تٰٮهُ اللّٰهُ الْمُلْكَ وَا لْحِکْمَةَ وَعَلَّمَهٗ مِمَّا يَشَآءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللّٰهِ النَّا سَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْاَ رْضُ وَلٰـکِنَّ اللّٰهَ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ

“Maka mereka mengalahkannya dengan izin Allah, dan Daud membunuh Jalut. Kemudian, Allah memberinya (Daud) kerajaan, dan Hikmah, dan mengajarinya apa yang Dia kehendaki. Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam.” (QS. Al-Baqarah 251)

Intinya kita tak boleh patah semangat.
Kita harus yakin. Memang godaan dunia itu nyata. Tapi orang yang beriman yakin bahwa akhirat sudah dekat.

Ngapain terpikat dunia yang kecil sekali? Ibarat air laut yang menempel di jari saat jari dimasukkan kelaut. Itulah dunia. Sedangkan lautnya adalah akhirat.

Memang kita Muhammadiyah harus lebih mendalami Kitabullah.
Al Qur’an semua 30 juz itu adalah pembebasan. Kita tak perlu meniru-niru. Muhammadiyah tak perlu jadi Pak Turut dan BuTurut. Muhammadiyah harus jadi Lokomotif.
KH Ahmad Dahlan mengajarkan :
Penyakit itu adalah Syirik, obatnya adalah Tauhid.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here