Dr.H.Haerudin, SE.MT

7 Ramadhan 1441/ 30 April 2020



Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَا لَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ۙ 

“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah 21)

Pada pagi hari ini kita bahas sebuah konsep yang sebetulnya konsep ini dilaksanakan oleh kita tiap hari, karena tidak satupun diantara kita tidak melaksanakan ekonomi dalam satu haripun. Pasti semua orang melakukan.

Manusia diperintahkan untuk beribadah.

Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat 56)

Ibadah bisa dibagi dua :

Ibadah Mahdoh.
– Ibadah mahdoh, ibadah yang langsung kepada Allah seperti Shalat walaupun di rumahnya masing-masing.
– Kaidah ibadah mahdoh adalah tidak boleh mengerjakan apapun kecuali ada tuntunan.
– Sifatnya statis, shalat dari dulu sampai sekarang bentuknya sama. Bahkan kalau tidak sama itu tidak dianggap shalat.

Ibadah Ghoiru Mahdoh
– Bermuamalah, beraktivitas diluar ibadah mahdoh, antara lain bidang Ekonomi.
– Kaidahnya : Silahkan kerjakan apapun, kecuali yang dilarang. Termasuk dalam Ekonomi Islam, semua boleh, kecuali ada larangan.
– Lapangan ijtihad terbuka lebar. Prinsipnya ada larangan atau tidak.

Kita kenal ada Ekonomi Konvensional, dan ada Ekonomi Islam yang sama-sama kegiatan ekonomi. Hanya tujuan dan caranya yang berbeda.

Ekonomi Konvensional tujuannya adalah Profit Motif bagi Perusahaan dan bagi Konsumen : Memenuhi Kepuasan. Profit Motif berarti mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. “Tidak ada istilah batasan-batasan usaha, yang penting dapat untung”, itu bagi Perusahan. Untuk Konsumen yang penting kepuasan maksimum.

Ekonomi Islam tujuannya Maslahah atau jadi orang yang Muflihun. Dalam maslahah di dalamnya kebahagiaan dunia yang bisa bersambung ke akhirat. Tujuan konsumen Halal dan Barokah. Tidak mungkin seorang konsumen muslim mengkonsumsi barang haram dan tidak barokah.

Dalam konsep ini Islam tidak mengajarkan hanya mencapai kebahagiaan akhirat. Islam mengajarkan kebahagiaan Dunia sampai Akhirat seperti do’a yang biasa kita baca.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka.” (QS. al- Baqarah : 201).

Karena itu menggunakan konsep Ekonomi Islam tidak berarti tidak mendapatkan apa-apa di dunia. Bukan konsep “sing penting akhirat”.

Sebenarnya di dalam islam, dunia dan akhirat tidak dapat dipisah. Merupakan satu kesatuan yang wutuh.
Pernah disebut :

الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الآخِرَةِ
“Dunia adalah ladang akhirat”

Maka ketika kita bicara ekonomi tidak boleh mengatakan Ekonomi urusan dunia, maka saya bebas. Kalau ekonomi bebas tidak diatur, otomatis akan terjadi Mafsadah, yang merupakan kebalikan Maslahat.
Karena itu dalam melaksanakan ekonomi kita harus kembali kepada Islam.

Allah SWT berfirman :

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَاۤ فَّةً ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah 208)

Kita diperintah oleh Allah masuk islam Kaffah. Kaffah itu bukan hanya shalat , puasa dan zakat tapi ketika keluar dari Masjid beraktifitas ekonomi harus tetap islam.

Banyak sekali di masyarakat yang tidak menyadari bahwa ekonomi itu diatur. Dalam islam jangankan masalah ekonomi, masuk kamar mandi saja ada aturannya.

Allah SWT berfirman:

ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلٰى شَرِيْعَةٍ مِّنَ الْاَ مْرِ فَا تَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَآءَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat dari agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui.” -(QS. Al-Jasiyah 18)

Jadi tidak ada urusan yang tidak diatur oleh Allah. Justru islam datang untuk mengatur. Kalau tidak diatur maka dimana-mana yang zalim akan menghasilkan kerusakan.

Karena ekonomi islam prosesnya maslahah, maka yang dipegang pertama kali adalah Keadilan. Lawannya Keadilan adalah Zalim.
Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Sehingga tatkala kita berkeadilan , tidak boleh mengambil keuntungan dari kerugian orang. Dalam islam mencari untung dengan cara sama-sama untung.

Tatkala memegang keadilan, ada konsep yang luar biasa, yaitu
“an taroodhim” (saling ridha)

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْۤا اَمْوَا لَـكُمْ بَيْنَكُمْ بِا لْبَا طِلِ اِلَّاۤ اَنْ تَكُوْنَ تِجَا رَةً عَنْ تَرَا ضٍ مِّنْكُمْ ۗ …

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil , kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu…” (QS. An-Nisa’ 29)

Saling ridha harus dibatasi dengan Syariah, karena bisa saja menjual babi, yang jual ridha yang beli ridha. Mengambil riba yang memakan riba ridha, yang memberi riba juga ridha.
Bukan begitu, karena jika sesuatu sudah non halal tidak ada istilah “an taroodhim”. Kita tetap harus mengikuti kehalalannya.

Di dalam ekonomi islam ada istilah agar gampang diingat, bahwa yang harus dihindari adalah “Maghrib”.
“Maghrib” disini singkatan Maysir (Unsur Perjudian), Ghoror (Penipuan) dan Riba. Kalau ada Maysir – Ghoror- Riba, dipastikan tidak akan ada keadilan.

Maysir atau judi tidak menghasilkan nilai tambah apa-apa. Misal ada empat orang berjudi dengan modal masing- masing 1 juta. Berapapun lamanya mereka berjudi, uang yang beredar tak akan lebih dari empat juta. Ketika ada yang menang, pasti ada yang kalah. Sehingga dalam judi pasti ada yang dizalimi dan ada yang menzalimi. Secara ekonomi tak ada Value Added sama sekali.

Ghoror itu ketidak jujuran. Dari segi kuantitas mengurangi ukuran, mengurangi timbangan dan sebagainya. Dari segi kualitas barang jelek dikatakan baik.

Dalam jual beli Rasulullah menjelaskan bahwa bila penjual tahu ada cacat meski sedikit pada barang yang dijual, dia wajib memberitahu Pembeli tentang cacat itu. Penjual tidak boleh hanya mempersilahkan Pembeli untuk meneliti sendiri. Dia tetap salah bila Pembeli karena tidak tahu memilih barang yang cacat.

Berapa banyak Penjual yang jujur sekarang? Yang memberi tahu cacatnya barang yang dijualnya supaya tidak Ghoror?

Dalam ekonomi islam tidak boleh membeli barang yang tidak nampak. Tidak boleh membeli durian di pohon yang masih muda. Karena akan muncul ketidak-adilan. Pembeli sudah mengeluarkan uang dan Penjual belum melepas barang. Kalau besuknya ada hama maka Pembeli tidak mendapat apa-apa. Sama dengan Pengijon membeli padi, ada yang dirugikan.

Riba yang paling banyak dirasakan adalah hutang pihutang. Meminjamkan uang kepada orang lain dengan perjanjian nanti mengembalikannya lebih dari pokoknya. Semua yang terlibat riba melakukan kesalahan. Termasuk saksi dan orang yang mencatat mendapatkan dosa.

Dalam islam keuntungan tidak boleh didasarkan pada pokok uang. Keuntungan harus dari usaha produktif. Dengan demikian uang akan berputar. Karena ada keuntungan. Maka disebut Bagi hasil (dan kalau rugi terjadi bagi rugi). Dengan demikian terjadi keadilan. Yang menanam uang mendapat hasilnya, orang yang bekerja menggunakan uang itu juga mendapat dari usahanya.

Dalam ekonomi Konvensional, dengan meminjam uang untuk usaha, belum tentu usahanya produktif tapi dia tetap harus membayar bunga. Atau kebalikannya hasil usahanya besar sekali tetapi dia tetap membayar prosentase sesuai perjanjian. Dengan riba muncul ketidak-adilan.

Dalam konsep islam yang muncul bukan Profit maksimum tapi Barokah. Contohnya jual beli yang mengandung Jual beli dengan Ghoror akan menghasilkan untung besar, tetapi Allah akan mencabut Kebarokahan.
Apakah kebarokahan itu? Kebarokahan adalah menambahkan kebaikan. Ada juga yang menambah kebahagiaan.

Jika kita memperoleh rezeki dengan menjual barang tidak halal, uang kita dapatkan walaupun tidak halal secara kuantitatif bisa kita hitung tetapi Allah akan menghilangkan kebarokahan.
Hilangnya barokah akan menunjukkan kejelekan. Uang tersebut dapat menghancurkan dirinya, anaknya, keluarganya sampai menghancurkan umat semuanya. Jadi betapa mengerikannya.

Perlu diketahui bahwa Bank Syariah bukan satu-satunya konsep ekonomi islam. Unsur “Maghrib” tadi ada di Penjualan. Dan ini jarang dikaji karena umat islam senang mengkaji ibadah mahdoh yang sempit. Shalat, Wudhu banyak dibahas. Kadang-kadang masalah “Usholi” saja masih dibahas. Tapi masalah ekonomi yang setiap hari dilakukan jarang dibahas.

Lihat di Pasar, ada Penjual pakai kerudung tapi dia menjual ikan dengan formalin tanpa memberi tahukan pada Pembeli. Padahal dia wajib memberitahu bahwa ikannya mengandung formalin.

Penjual lain ada yang mencampur beras baik dengan beras buruk. Dia tidak dilarang mencampur beras. Tapi dia wajib memberitahu Pembeli bahwa beras yang dijual adalah campuran. Persepsi Pembeli harus sama dengan persepsi penjual dengan cara menjelaskannya.

Kejujuran harus ada dalam ekonomi islam. Kalau menerapkan ekonomi islam di Bank, di Pasar maka rasanya akan nyaman.

Tidak terjadi orang yang jujur rugi. Kita kenal konsep Kepuasan Pelanggan. Kalau orang puas maka dia akan kembali lagi untuk membeli ulang. Kalau pernah dikecewakan dia tak akan beli lagi. Tidak jujur mungkin untung besar, tapi cuma sekali. Setelah itu tak ada Pembeli yang kembali. Karena orang sudah tak percaya lagi. Itulah konsep Keadilan

Di dalam islam setelah mendapat keuntungan tidak boleh untuk diri sendiri. Ada Konsep Zakat yang hukumnya wajib.

Allah SWT berfirman:

خُذْ مِنْ اَمْوَا لِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ

“Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan mereka” (QS. At-Taubah 103)

Kenapa Zakat itu sampai dipaksa harus diambil?
Allah menjelaskan bahwa pada harta mereka ada hak yang meminta :

وَفِيْۤ اَمْوَا لِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّآئِلِ وَا لْمَحْرُوْمِ

“Dan pada harta benda mereka ada hak orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak meminta.”
(QS. Az-Zariyat 19)

Tatkala kita memperoleh keuntungan dan keuntungan itu kita dapatkan dari hasil kerja kita, sebagian adalah hak orang lain.

Zakat bukan berarti kita memberi, tapi kita mengeluarkan hak orang lain yang ada dalam harta kita.

Orang kaya biasanya naik mobil, orang miskin jalan kaki. Siapa yang harus menanggung akibat polusi dari knalpot mobil itu ?. Orang kaya tak pernah kena asap knalpotnya. Yang kena orang miskin. Kalau orang miskin sakit siapa yang harus mengobati? .

Harta itu diberikan kepada mustahik. Sehingga zakat itu sampai kepada Allah. Caranya diatur oleh Allah dengan Haul dan Nishob. Kalau 2,5% dari pendapatan kita disampaikan kepada Fakir miskin bukan memberi Fakir miskin. Tetapi menyampaikan hak Fakir miskin yang ada di tempat kita.
Tatkala Zakat tidak dikeluarkan dari harta kita, berarti kita memegang hak orang lain. Itu adalah kezaliman, maka menjadi Haram.

Konsep islam mengajarkan bahwa tidak boleh mementingkan diri sendiri. Kita dipaksa oleh Allah untuk mengeluarkan zakat tatkala sudah sampai nishob, sudah sampai haulnya. Harus menyampaikan zakatnya disampaikan kepada yang berhak.

Membayar Zakat yang betul bukan lewat pribadi langsung, tetapi lewat Amilin.

Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَآءِ وَا لْمَسٰكِيْنِ وَا لْعٰمِلِيْنَ …

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, ….” (QS. At-Taubah 60)

Amilin itu ketiga setelah Fakir dan Miskin. Menunjukkan betapa pentingnya zakat lewat Amilin.

Tujuan zakat yang utama adalah mengubah Mustahik menjadi Muzaki.
Jadi kalau diberikan secara pribadi tidak bisa. Dia hanya menerima sedikit, hanya cukup untuk makan sehari saja. Amilin bertugas mengangkat fakir miskin agar bisa mandiri.

Karena itu Amilin yang menerima Zakat, Infak dan Shadaqah. Bukan hanya bertugas mengumpulkan berapa banyak Zakat yang terkumpul. Tetapi juga berapa banyak Mustahik yang dapat dientaskan. Sehingga menjadi orang yang tidak miskin.

Konsep islam mencari harta itu halal, kemudian mentasyarufkan juga dengan cara halal. Dengan demikian menjadi Barokah.

Ketika membelanjakan harta untuk makan ada satu pedoman yaitu tidak berlebihan, tidak boleh barang haram, tidak boleh barang yang tidak jelas.

Rasulullah SAW bersabda :
“Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga)…(HR Ahmad)

Jadi diatur mulai dari Cara mencari.
Setelah mendapatkan tunaikan dulu haknya orang Miskin. Diatur dalam memakai konsumsinya.

Terakhir tatkala menerima pendapatan kita sadar tatkala mati semua harta akan ditinggal. Padahal kita yang capai kerja, tatkala sudah mati kita gigit jari tak mendapat apa-apa.

Maka kalau kita sayang pada harta halal yang kita cari, harta itu harus kita bawa sampai mati. Caranya shodaqohkan pada orang lain, pada Masjid. Harta yang diinfakkan adalah harta kita yang sebenarnya yang kita bawa. Bukan harta yang ditabungan atau diinvestasikan jadi tanah. Berapapun jumlah tanah kita, ketika ajal kita datang dia tidak ikut.

Orang-orang yang pelit, pada dasarnya pelit pada dirinya sendiri. Bukan pelit pada orang lain. Bahkan orang yang pelit termasuk orang yang tidak beriman.

Rasulullah SAW bersabda :
“Tidaklah mukmin orang yang kenyang sementara tetangganya lapar sampai ke lambungnya.” (HR Bukhori)

Harta yang dikumpulkan hanya akan menjadi warisan dan bukan hak milik yang meninggal. Jangan sampai harta menjadi Penyakit dunia yang ingin kita pegang. Harta sudah pasti lenyap ketika meninggal. Bahkan kadang sebelum meninggalpun kita sudah ditinggalkan harta kita, karena sakit maka tak dapat menikmati harta.

Harta yang dishodaqohkan yang kita bawa. Maka kita perhatikan Fakir Miskin. Kita harus puas ketika kita bisa bershodaqoh. Ketika ada orang datang minta tolong pada kita, harus bersyukur karena Allah memberi jalan kebaikan kepada kita.

Kita kadang mengejar imbalan bagi hasil dari Bank yang tak seberapa, tetapi tak peduli pada janji Allah yang akan melipat gandakan jadi 10 kali

مَنْ جَآءَ بِا لْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَا لِهَا ۚ وَمَنْ جَآءَ بِا لسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزٰۤى اِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ

“Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan.” (QS. Al-An’am 160)

Bahkan pada surat Al Baqarah , Allah berjanji membalas sampai 700 kali.

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَا لَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَا بِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَا للّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَآءُ  ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah 261)

Allah mengganti 700 kali ini bukan urutan bilangan 699, 700, 701 tapi Allah yang Maha Tahu berapa kali. Allah membalas tidak selalu di akhirat saja. Kadang-kadang di dunia kita sudah dimudahkan dalam menghadapi urusan kita.



TANYA JAWAB

Pertanyaan

1. Apakah bank Muamalah yang ada sekarang ini sudah Syar’i benar?

Jawaban

1. Menilai Bank Syariah Syar’i atau tidak Syar’i bukan dari kasus bank -per banknya. Yang dinilai harus aturannya. Karena yang dipakai aturan adalah hasil ijtihad ulama tentang Perbankan. Ada DSN atau Dewan Syariah Nasional. Di dalam aturan, tak pernah ada aturan larangan menggunakan bank. Yang dilarang adalah ribanya. Jadi harus ada Bank non riba.

Melihat satu dua bank, sama dengan menilai agama islam dengan cara menilai orang per orang. Ada orang islam Korupsi, ada yang jadi pencuri. Tapi itu bukan mencerminkan islam.
Bank Syariah diatur oleh aturan yang merupakan ijtihad ulama DSN. Kalau mau melihat fakta harus kesana.
Kalau kita menilai Bank A , Bank B itu semua pelaku, bukan Konsep Ekonomi Islam. Kalau pelaku bisa variatif.


Pertanyaan

2. Di Indonesia ini yang sudah benar-benar berprinsip syariah bank yang mana?

Jawaban

2. Perbankan ada yang mengawasi, yang disebut otoritas jasa keuangan. Di dalam muamalah akad itu nomer satu. Ada juga bank menggunakan akad mudharobah atau musyarokah kemudian pakai tarif pasti. Itu pasti salah. Konsep bank muamalah tidak seperti itu, dia hanya mencari enaknya saja. Dia pakai prosentase. Yang benar bagi hasil, tak pernah fix.

Kalau ditanya Bank mana yang paling syariah kita tak bisa menilai karena harus masuk ke rumah tangga bank-nya.


Pertanyaan

3. Kalau kita berdagang menurut ekonomi islam apakah ada patokan tak boleh lebih dari sekian persen dari modal.?

4. Sekarang banyak perdagangan on line seringkali mendapatkan barang yang tidak sesuai dengan yang dipesan. Ini bagaimana hukumnya?

Jawaban

3. Tidak ada batasan berapa keuntungan yang akan diambil oleh seorang penjual.
Misal makanan kalau cuma ambil untung 10% itu rugi. Normalnya 40%-60%.
Tapi kalau menjual beras ambil untung 10% tidak laku, pasti kemahalan.
Jadi tidak ada pedoman berapa persen harus untung. Apalagi kalau ada unsur seninya, tinggi sekali untungnya dari pokoknya.

Namun ada pedoman umum tidak boleh memanfaatkan ketidaktahuan konsumen.

4. Zaman Nabi tak ada jual beli online. Prinsipnya ada uang ada barang. Dan barang harus sesuai dengan kriteria kesepakatan bersama.
Jual beli online boleh asal barang yang datang sama seperti gambar. Karena waktu menawarkan berupa gambar produk. Warna, kualitas, bentuk harus sama.

Kalau tidak sama maka jual beli tidak sah, yang salah penjual dan barang boleh dikembalikan.

Ini termasuk hal yang baru dalam ekonomi islam, maka bank muamalah ijtihadnya lebar. Kalau membaca buku ekonomi islam yang dulu jual beli online tidak boleh.

Beli yang tidak jelas hukumnya haram, seperti membeli ikan yang ada dalam kolam, haram.


Pertanyaan

5. Di masa Pandemi ada seruan dari MUI zakat disegerakan.?

Jawaban

5. Zakat Fithri dibayarkan menjelang hari raya itu afdholnya, bukan syarat . Sebenarnya bisa dibayarkan kapan saja di bulan Ramadhan. Karena kondisi ekonomi sedang susah akibat wabah maka kita disegerakan membayar zakat.

Zakat Maal ada dua hal yang mengikat Haul dan Nishob. Haul adalah waktu timbulnya wajib zakat dan Nishob batasan minimal kekayaan kena zakat.
Misalkan biasanya kita zakat pada awal bulan Januari. Itu boleh diprediksi dulu dan dibayarkan sekarang. Kemudian pada saat waktunya dihitung yang benar. Kalau zakatnya masih kurang dibayarkan lagi. Kalau lebih kelebihannya menjadi shodaqoh.


Pertanyaan

6. Ketika kita berzakat Maal, apakah benar diutamakan kepada Saudara sendiri yang Mustahik?

7. Jika prinsipnya mengeluarkan Mustahik menjadi Muzaki apakah zakat maal boleh kepada seorang saja supaya menjadi modal usaha, atau harus dibagi -bagi kebanyakan orang?

Jawaban

6. Memang diutamakan ke saudara yang bukan tanggungan kita, yang kebetulan mustahik. Maka akan mendapat dua point :
– Menyambung silaturahim dengan kerabat
– Pembayaran Zakatnya.
Jadi silahkan membayar zakat kepada Saudara. Cuma zakat ini langsung, ini juga boleh.

Tapi ada cara kedua yang lebih baik :
Zakatnya ke Amilin, kemudian kita minta pada Amilin untuk membantu saudara kita berusaha. Mau apa? Mau beli sawah? Mungkin dapatnya lebih besar dari apa yang kita bayarkan karena mendapat dari Lazis.


7. Sekian tahun yang lalu kita menyaksikan ada pembagian zakat maal kepada berapa ribu orang di Jawa Timur. Masing-masing hanya dapat 30 ribu dalam amplop. Uang itu tidak sampai rumah sudah habis.
Dikasihkan kepada orang banyak dengan hasil sedikit, tidak membawa dampak apa-apa, kecuali hanya membuat kenyang hari itu. Besuknya sudah bingung lagi. Ini zakat yang tidak tepat sasaran.

Zakat lebih baik selektif kepada 50 orang yang dapat dan mau berusaha, sehingga dia berubah menjadi Muzaki. Itu lebih bermanfaat.

Makanya fungsi Lazis menjadi dominan. Kalau lewat Lazis memang bertugas mengubah mental Mustahik jadi Muzaki. Kita tak mungkin sempat mengubah mental mustahik.
Lazis, mereka mengadakan pelatihan usaha dan bimbingan usaha. Jadi tidak sekedar memberi uang. Hampir pasti habis untuk konsumsi, walaupun akadnya untuk modal.

Masalah utama ternyata bukan Modal tetapi Mental Usaha.


Pertanyaan

8. Sekarang ada BPJS, bagaimana hal ini apa sesuai Prinsip Syari’ah?

Jawaban

8. Sekarang belum ada BPJS Syari’ah.
BPJS itu menggunakan model asuransi konvensional. Dari Bank Syariah pun pernah protes karena BPJS wajib bagi karyawan, tapi belum ada BPJS Syari’ah.
Dalam hal ini karena kita tak ada pilihan lain, hukumnya menjadi darurat. Kecuali kalau kita mau pindah ke asuransi syariah.
Jadi posisi BPJS darurat seperti Bank di tahun 1980 belum ada Bank Syariah.


Pertanyaan

9. Bagaimana bila ada Rumah Sakit ingin menjadi Rumah Sakit Syariah?

Jawaban

9. Sebetulnya semua rumah sakit itu syariah karena pelayanan.
Saya belum tahu proses rumah sakit, tapi intinya :
– Dalam proses menjual obat tidak menggunakan riba, tidak ghoror (menipu).
– Pelayanan bagus karena Rumah Sakit melekat pada jasa.
– Disediakan pembimbing supaya mempunyai mental yang bagus untuk pasiennya.
– Dalam membuat Sarana ruang sesuai sunah, misal tak ada Toilet menghadap kiblat.


Pertanyaan

10. Apakah dalam penyampaian Zakat Maal kepada Muzaki secara langsung harus disebutkan Akad secara lesan atau cukup Niat dalam hati?

Jawaban

10. Zakat disarankan lewat Amilin, dia cukup mengatakan Akad penyerahan tak harus menerima Qobul dari Mustahik. Biasanya langsung didoakan oleh Amilin.
Pada saat Pandemi seperti ini malah tak perlu ketemu. Kita bayar lewat rekening. Pada saat mengirim diniatkan Zakat, sudah selesai.


Pertanyaan

11. Apakah ada kriteria yang jelas untuk Mustahik, karena kadang sulit menilai apakah seseorang berhak menerima Zakat atau tidak.?


Jawaban

11. Tentang kriteria miskin tidak bisa pakai pedoman mutlak. Miskin di Jakarta dan di daerah pasti beda. Pendapatan 2 juta di Jakarta bisa jadi miskin tapi di daerah itu cukup.
Jadi pedomannya adalah kebutuhan hidup layak tercukupi atau tidak?

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here