Drs. H. Fachrur Rozy MAg

30 Sya’ban 1441/ 23 April 2020


1.Memahami Ibadah

Definisi ibadah di kajian-kajian Fiqih adalah :
“Maa uddiyat ibtighoan li wajhillah, watholaban li tsawabihi fil akhirat”.
(Apa-apa saja yang dikerjakan dalam rangka mencari ridlo Allah, dan mencari balasannya di akhirat).

Apa saja yang dikerjakan, ini amat sangat luas cakupannya karena segala yang dikerjakan itu akan bernilai ibadah kalau karena mengharap Ridha Allah dan mengharap balasan di akhirat. Jadi apa saja baik itu urusan “duniawi” maupun ukhrowi.

Apa saja dari makan-minum, bekerja, mencari nafkah, mengajar, praktek dokter, melayani pasien, melayani masyarakat, mengurusi rakyat itu semua bisa bernilai ibadah sepanjang dilakukan dalam rangka untuk mencari ridho Allah SWT. Jadi tidak terbatas pada ibadah mahdoh saja.

Secara prinsip semua yang dikerjakan dalam rangka mencari ridho Allah, dia akan dinilai sebagai ibadah kepada Allah SWT.

Maka kalau ada orang bertanya , meragukan hidup ini semua untuk ibadah semua, terkait dengan firman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat 56)

Lalu kapan kerjanya, kapan menikmati dunia? Kalau semuanya harus untuk ibadah?

Ini pertanyaan sekaligus pernyataan kurang tepat, karena sesungguhnya semuanya yang dia sebut sebagai senang-senang dalam pandangan agama islam dapat dianggap sebagai ibadah sepanjang dilakukan dalam rangka mencari ridho Allah.
Tentu hanya akan mendapat ridha Allah jika dia melakukan sesuai dengan aturannya, tuntunannya , tidak melanggar syariatnya.

Segala hal yang dilakukan bisa bernilai ibadah. Maka menyingkirkan kerikil di jalan bisa bernilai ibadah. Dalam konteks hari ini kerikil bukan sekedar kerikil dalam makna lahiriah, tapi apa saja rintangan atau bahaya yang menghadang di jalan.

Jangankan bekerja melayani masyarakat dan lain-lain , bahkan yang paling ringan sekedar memarkir kendaraan kita dapat bernilai ibadah, itu semua tergantung niatnya.

Banyak perbuatan-perbuatan dunia yang kelihatannya tidak bernilai ibadah, karena bagusnya niat menjadi ibadah.
Tetapi bisa jadi perbuatan-perbuatan yang kelihatannya tampak secara lahiriah adalah ibadah tapi bernilai dunia di sisi Allah SWT , karena jeleknya niat.

Ketika kita masuk area parkir kendaraan kemudian kita parkir ditempat sangat pinggir, dipojok karena dia datang paling awal dan akan pulang paling akhir maka supaya tidak menghalangi kendaraan lain , tidak merepotkan yang lain, dia memilih parkir di pojok.
Parkir dengan niat melapangkan jalan bagi orang lain agar tidak terganggu menjadi bernilai ibadah.

Namun bisa juga parkir menjadi maksiat jika ketika dia datang kemudian memang dengan sengaja menghalangi sebuah mobil agar tidak bisa keluar.

Sama-sama parkir dengan niat yang berbeda yang satu bernilai ibadah dan yang satu bernilai maksiat dihadapan Allah SWT. Ini contoh bahwa parkir urusan dunia tapi bisa bernilai ibadah dihadapan Allah SWT.

Ada orang yang pulang dari Haji dan kemudian memasang gelar Haji di depan namanya. Dia membuat kartu nama, membuat papan nama rumah dengan identitas hajinya dengan tidak ada niat untuk pamer, tetapi berniat agar lebih berhati-hati dalam segala tindakan, lebih bertanggung jawab karena sudah mempertaruhkan nama namanya yang sudah menyandang haji.

Hanya membuat kartu nama tapi karena bagusnya niat menjadikannya sebuah ibadah. Sebaliknya ketika seseorang yang sudah beberapa kali naik haji tetapi tidak mau mencantumkan gelar haji, bukan karena takut riya tetapi justru karena takut nanti tidak bebas untuk berbuat hura-hura, dampaknya berbeda lagi.

Ada kaedah ushul fiqih :

 األمور بمقـاصدها 
al-umuru bi maqasidiha
(“segala perkara tergantung kepada niatnya”). 

Maka perkara yang pertama
Memasang nama, meskipun ada yang menuduh pamer, tapi karena niatnya bagus bisa bernilai ibadah.
Sebaliknya yang kedua kelihatannya dia ingin ikhlas, tersembunyi, tidak ingin terlihat gelar hajinya, ternyata dia mempunyai kepentingan yang lain.

Banyak perbuatan dunia bernilai ibadah, tetapi ada perbuatan ibadah yang bernilai dunia karena kesalahan niatnya.

Orang rajin berpuasa senin kamis karena ingin langsing, adalah perbuatan ibadah yang bernilai dunia.
Ada orang yang berangkat ibadah haji berkali-kali melakukan Thawaf Sunah di Ka’bah. Namun niatnya adalah untuk menggenapkan Thawaf Sunah 50 kali dengan tujuan agar bisa kaya raya.
Ini adalah ibadah yang bernilai dunia karena kesalahan niat.

Jika kita mencari ridha Allah akan melahirkan :

1. ADA UL A’MAL MASRURON

Melakukan dengan penuh kegembiraan. Orang bekerja dengan menganggap ibadah, menghadirkan kebahagiaan.

Orang bekerja dengan keyakinan bahwa pekerjaannya adalah tanggung jawabnya mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, dan itu adalah Perintah Allah, maka dia akan bekerja penuh semangat.

Mengajar dengan semangat karena merasa tanggung jawab, bukan hanya urusan dunia tapi akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah. Maka mengajar dengan semangat.

Mahasiswa kuliah diniati ibadah, tidak peduli teman lain santai, dia tetap semangat. Karena baginya belajar adalah Perintah Allah, perintah Rasul. Maka dia harus belajar dan kuliahnya dianggap ibadah. Dia bahagia menjalaninya.

Problemnya kenapa kadang seorang tidak bahagia, karena Dia senang melihat nikmat orang lain.

Dia melihat orang lain lebih bahagia dari pada dirinya. Padahal orang lain juga melihat dia lebih bahagia dari pada mereka. Orang Jawa menyebut “Wang sinawang”.

Bahkan pada saat orang shalat berjamaah ada imam ada makmum. Bahagia mana antara imam dan makmum? Bergantung yang menjalaninya. Siapa yang beribadah dengan tulus dia akan bahagia.

Kadang-kadang ada makmum yang tidak bahagia. Imam bacaannya pendek dia menggerutu. Ketika imam bacaannya panjang dia stress.

Kadang ada makmum yang menggerutu karena bacaan imam yang panjang, sementara jamaah disebelahnya menangis karena bersyukur dapat menikmati bacaan shalat yang indah.

2. AL MUSABAQOH FIL KHOIROT

Orang yang berbahagia akan bisa melakukan yang terbaik. Berlomba untuk melakukan yang terbaik.
Orang kalau urusan dunianya dipandang sebagai ibadah maka dia akan bahagia menjalaninya dan ketika dia bahagia akan maksimal menjalankannya.

Orang melihat kotak amal kemudian bahagia , maka dia akan mengisi kotak amal maksimal.
Orang mendengar adzan Subuh bahagia, maka dia akan Shalat Subuh tepat waktu berjamaah.
Orang mau mengajar dia bahagia, maka dia persiapkan materi yang akan diajarkan dengan sebagus-bagusnya.

Rudah tangga diniati ibadah maka dia akan bahagia. Dengan bahagia dia akan melakukan yang terbaik untuk keluarganya.

3. AR RIDHO BI QODHO ILLAH

Puncaknya adalah ridha dengan yang Allah tentukan.

Kadang orang mengeluh, sudah merasa ibadah, sudah mencari ridha Allah, sudah merasa bahagia, sudah berusaha memberikan yang terbaik.
Tetapi apa yang didapatkan?
Yang diinginkan tidak didapatkan. Yang didapatkan bukan yang diinginkan.

Itulah keadaan yang ada.
Bekerja kepengin Promosi dapatnya malah Mutasi, itupun ke tempat yang tidak dikehendaki.

Kepengin dapat suami Pendiam, dapatnya Suami banyak omong.
Kepenginnya begini dapatnya begitu.
Kepenginnya begitu dapatnya begini.

Bagaimana menyikapinya?
“ridho bi Qadla illah” , ridha dengan yang Allah tentukan.
Orang yang berniat mencari ridha Allah, maka dia harus ridha kepada Allah SWT. Allah tidak pernah keliru membuat takdirNya. Termasuk hari ini.


2. Aktifitas Dakwah Saat ini

Kemarin kita mengharap, mudah-mudahan Ramadhan kita bisa seperti tahun lalu, dan sebagainya. Tetapi hari ini yang terjadi seperti ini. Maka belajarlah ridha kepada Allah SWT, sebab ridha atau tidak ridha yang terjadi tetap yang ditentukan Allah.
Ridha atau tidak ridha yang terjadi sudah lewat

Termasuk hari ini tadi, saya ceramah, memikirnya semua orang mendengar. Ternyata mike nya mati, sehingga saya harus mengulangi banyak. Ridha atau tidak ridha itu sudah terjadi.
Kita sudah berusaha melakukan yang terbaik, tetapi semua kita kembalikan kepada Allah SWT.

Hari ini kita kepenginnya ketemu dengan jamaah tapi yang terjadi hari ini kita hanya bisa ketemu lewat media seperti ini. Maka kemudian kalau kita ridha kepada Allah SWT justru nanti akan bisa mengambil kebaikan -kebaikan, hikmah-hikmah yang luar biasa dari Allah SWT.

Dakwahpun harus diniatkan sebagai bagian dari ibadah kita kepada Allah SWT. Kewajiban kita menyampaikan. Maka jika kemudian orang mengikuti apa yang kita sampaikan, Alhamdulillah.

Jika kemudian orang tidak mau mengikuti yang kita maui, apa yang kita inginkan, apa yang kita sampaikan .Kita kembalikan kepada Allah SWT

Jika cara berfikir kita seperti itu, in syaa Allah semangat upaya terus dilakukan, menikmati, hasilnya kita kembalikan kepada Allah SWT.

Mencari ridha Allah , mari kita awali dengan belajar Ridha kepada Allah SWT.


TANYA JAWAB

Pertanyaan

1. Saya tinggal di kawasan PLTU China, sebagian karyawan China 50%, Indonesia 50%. Pejabat China ini terhadap bawahan Indonesia seperti Cleaning services bertindak semena- mena, suka main potong gaji dan main kasar. Jika bawahan Indonesia ini kita bela, dampaknya karyawan Indonesia ini dipecat. Kita jadi serba salah. Dalam kondisi seperti ini apa kita harus ridha, sudah biarin aja? Apa yang harus kita lakukan?

Jawaban

1. Rasulullah SAW bersabda,

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Ridho adalah setelah upaya maksimal yang kita lakukan apapun hasilnya kita kembalikan kepada Allah SWT.

Kondisi yang ibu hadapi tidak boleh didiamkan. Pada kondisi itu justru berlaku perintah dakwah nahi mungkar. Tindakan semena-mena, pemotongan gaji, perbuatan kasar itu semua tindakan mungkar.

Diperintahkan menghentikan dengan tangan. Para ulama mengartikan tangan sebagai kekuasaan.
Maka disinilah para Pemegang kekuasaan berperan. Ini adalah bagian yang hanya bisa dikerjakan dengan politik. Maka islam tak bisa melepaskan diri dari politik. Regulasi menjadi penting dan harus ada orang islam yang masuk menjadi penentu regulasi, harus ada yang menjadi politisi. Dengan kekuasaannya itu maka kita akan bisa menghentikan kezaliman.

Kalau kita tidak memiliki kekuasaan, kita tidak bisa apa-apa. Paling banter cuma mengeluh.
Misal ada kasus perjudian, tak akan bisa dihentikan dengan khutbah Jumat. Khotib teriak-teriak bahwa judi itu haram tak akan bisa menyelesaikan masalah. Tetapi kalau kemudian Penguasa Wilayah membuat regulasi untuk menyetop judi, urusan selesai.

Kalau tidak punya kekuasaan, diperintah menghentikan dengan lisan. Kalau konteks sekarang bisa dengan membuat pernyataan. Seperti pada masa pandemi sekarang ini .Ada beberapa Dokter, Ikatan Dokter macam- macam membuat surat terbuka kepada ini- kepada itu. Itu bagian mengubah kemungkaran dengan lisan. Dia bisa melakukannya, tetapi mengubah dengan lisan inipun beresiko. Mengingatkan bos itu tidak mudah.

Kita tetap berfikir resiko dibelakangnya yang bisa terjadi. Bisa-bisa malah dipecat. Bila tak punya kekuasaan, dan tak punya keberanian menegur dengan lisan, takut kalau “kendhil nggoling” maka tindakan terakhir hanya dengan hati. Ikut merasa susah, ikut merasa jengkel lalu mendoakan.
Bisa jadi doanya : “Ya Allah bukakan hati pimpinanku ya Allah, agar mereka tidak zalim”.

Kalau kita belajar dari sejarah ketika Kaum Muslimin dianiaya, Rasulullah juga pernah mendoakan dan mengutuknya. Itupun bisa kita lakukan. Tapi itu iman yang selemah lemahnya.
Kita yang kelihatannya imannya hebat pada kenyataannya kalau menghadapi kemungkaran memilih jalur aman atau jalur lemah. Mudah-mudahan kita terus bisa memperbaiki kondisi sesuai dengan kemampuan kita. Tentu hal semacam ini tak bisa secara personal.

Bisa jadi kita menyampaikan lesan atau doa kita melalui orang lain yang lebih kompeten dan punya peluang untuk di dengar orang itu. Kita bisa titipkan pada orang yang kompeten. Setelah usaha-usaha ini dilakukan barulah kita serahkan kepada Allah SWT.

Saran Peserta Kajian

Tentang keluhan tenaga kerja saya ada pendapat lain. Karyawan selalu dalam posisi yang lemah, apalagi kalau manajemennya seperti tadi. Pengusaha cenderung sengaja melemahkan karyawan. Saran saya agar membikin Serikat Pekerja. Berdasar peraturan, 10 orangpun berhak membentuk Serikat Pekerja. Kalau ada yang jadi korban sewenang-wenang yang membela Serikat Pekerja. Dia bisa minta bantuan Lawyer atau Disnaker. Dan Serikat Pekerja itu terhubung seluruh Indonesia, bisa minta bantuan Serikat Pekerja lain.


Pertanyaan

2. Niat adanya dihati, tidak dilain tempat. Apakah perlu membacanya secara lesan.? Bahkan ada yang mengatakan tidak membaca niat maka ibadahnya tidak sempurna, atau tidak sah. Bagaimana pendapat ustadz?

Jawaban

2. Niat tempatnya dihati. Tetapi kemudian ada yang ingin “menyempurnakan” niat dengan dizhahirkan. Saya lebih senang menghargai masing-masing. Yang cukup dihati bagus yang ingin memantapkan kemudian dizhahirkan juga tidak apa-apa. Silahkan saja.

Kecuali Ibadah Umrah atau Haji, niatnya harus dizhahirkan :
“Labbaik Allahumma umratan” atau
“Labbaik Allahumma hajjan” harus dizhahirkan.
Adapun wudhu, sholat, puasa dan yang lain diniati dalam hati juga bagus diungkapkan juga silahkan. Saya termasuk orang yang tidak mempersoalkan. Mari kita tasamuh untuk menghadapi hal-hal seperti ini.


Pertanyaan

3. Kalau orang akan meniatkan haji untuk orang tua, ucapan niat Hajinya bagaimana? Apakah ketika berangkat dari rumah atau pada saat di miqad?

Jawaban

3. Ketika kita mau berangkat pasti sudah tahu kalau akan membadalkan haji orang tua kita. Berarti sebelum berangkat bahkan ketika mendaftar sudah ada niat menghajikan orang tua. Ketika di miqad akan melakukan prosesi haji kita lafalkan.


Pertanyaan

4. Bagaimana kalau kekuasaan dipegang oleh orang-orang yang zalim apakah kita sedang diuji oleh Allah SWT?

Jawaban

4. Kalau kekuasaan dipegang orang zalim , boleh jadi itu bukan ujian tetapi kesalahan kita sendiri. Karena Pemimpin adalah cermin dari masyarakatnya.
Maka kalau kemudian kita menemukan pemimpin yang zalim bisa jadi kita diuji bisa juga tidak.
Bisa iya karena Allah akan menguji keimanan kita, bisa tidak diuji karena penyebabnya diri kita sendiri.
Oleh karena itu kita melakukan muhasabah menjadi penting , kenapa kok kita mendapat pemimpin yang kurang baik. Apa yang menyebabkan terlahir pemimpin yang kurang baik? Itu lebih bagus untuk kita lakukan daripada malah menyalahkan pemimpin.


Pertanyaan

5. Apa tidak terbalik ? Masyarakat tidak baik itu akibat Pemimpinnya.
Misalnya kita sudah meniatkan hal baik tetapi belum tentu bisa diterima bahwa niat kita baik, bahkan disalahkan bagaimana?

Jawaban

5. Bisa jadi Pemimpin ingin melakukan sesuatu yang baik tetapi disalah pahami oleh yang dipimpin. Masyarakat masih su’udzon, masih curiga terus seakan-akan Pemimpin berbuat keliru.

Hal ini mari saling mengoreksi.
Tetapi jika kemudian kita sudah berbuat baik , masih disalah pahami oleh beberapa orang disekitar kita, maka kewajiban kita hanya menyampaikan. Kita tidak bisa memuaskan semua orang. Tidak bisa memahamkan semua orang seperti apa yang kita mau. Kalau kita ingin agar semua orang memahami apa yang kita lakukan bisa jadi kita menjadi stress karena semua memang beda.

Seperti kita mencari teman atau bahkan suami atau isteri tidak akan menemukan persis seperti apa yang diinginkan. Niat baik kita kepada suami atau isteri kadang-kadang disalah pahami oleh mereka. Padahal niat baik.

Contoh :
Seorang ibu berniat akan membuatkan suaminya teh yang panas pada saat datang. Agar suaminya menikmati teh panas sesampai di rumah.
Tapi yang terjadi suami pulang lebih cepat dan teh belum ada. Langsung suami marah.

Seorang suami tak mau mengganggu isterinya, pulang ke rumah isteri sudah tidur. Dia berniat baik membuka pintu pelan-pelan karena kasihan kalau isteri terbangun.
Tetapi begitu suaminya sudah masuk kamar justru mengejutkan isteri karena dianggap pencuri : “Masuk rumah tidak mengetuk pintu! “
Itu contoh kecil, niat baik disalah- pahami.

Padahal itu antara suami dengan isteri. Hubungan dengan anak akan tambah rumit lagi.
Kita tidak memberi uang kepada anak dengan alasan begini begitu. Tetapi anak salah paham. Dikira orang tua tidak perhatian, pelit dan sebagainya.
Apalagi Pemimpin masyarakat. Mengharapkan semua yang dipimpin memahami adalah sebuah kemustahilan.

Maka niatkan yang terbaik! Lakukan yang terbaik! Kemudian kembalikan kepada Allah. Itulah Ridha kepada Allah SWT.


Pertanyaan

6. Kapan sebaiknya kita melafalkan niat puasa di bulan Ramadhan ?

Jawaban

6. Kalau saya ditanya tentang fiqih harus menjawab agak panjang.
– Ada yang mencukupkan dirinya di awal Ramadhan. “Saya niat Puasa Ramadhan sebulan penuh”. Cukup.
– Ada yang merasa harus diucapkan setiap malam. Maka ucapannya : “Saya niat Puasa besuk pagi”. Maka sebelum tidur dia melafalkan niat Puasa.
– Sebelum masuk waktu Subuh karena ada pendapat bahwa Puasa wajib memang harus diniatkan sebelum Subuh. Beda dengan puasa sunah yang boleh diniatkan setelah dia menjalaninya.
– Ada yang ringan-ringan saja. Kalau bangun makan sahur pasti niat Puasa.

Semua baik, silahkan dipilih yang mana yang penting Puasa diniatkan untuk mencari ridha Allah.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here