Kajian Ahad Muhammadiyah Banyumanik

KH. Drs Gunarto Muchsin

3 Rojab 1440 H/ 10 Maret 2019

Menjelang kenabian dari Nabi Muhammad SAW keadaan di Arab pada waktu itu disebut Jahiliyah. Kondisi ini tidak berarti mereka tak dapat menulis, bahkan dapat dikatakan bahwa Arab pada saat itu sudah maju baik di bidang Politik Pemerintahan maupun Kehidupan Perekonomian,  mereka sudah mengenal perdagangan sampai menembus negara lain,  seperti dikisahkan dalam Surat Quraisy.

لِاِيْلٰفِ قُرَيْشٍ ۙ  اٖلٰفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَآءِ وَا لصَّيْفِ ۚ

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, yaitu kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.” (QS. Quraisy 1 – 2)

Jadi kejahiliyahan mereka bukan dalam masalah duniawi,  tetapi masalah rohani. Kehidupan spiritual jauh dari tuntunan Allah SWT.
Ada ritual peribadatan tetapi ala Jahiliyah. Setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW dibersihkan sesuai dengan tuntunan Allah SWT.

Seorang bernama Zaid bin Amru bin Nufail, seorang tokoh yang lurus dan menentang kejahiliyahan. Dia mempunyai uang dan dia memelihara bayi wanita yang ditelantarkan oleh orang tuanya. Ketika anak itu besar dikembalikan kepada orang tuanya.

Dia pergi ke Syam untuk konsultasi kepada Pendeta Yahudi tentang keadaan masyarakatnya. Pada waktu itu agama Yahudi sudah terpecah belah. Zaid bin Amru ingin masuk ke dalam agama Yahudi  tetapi ditolak oleh Pendeta itu. Dia disarankan untuk memasuki agama yang hanif,  agama Yahudi “garis lurus”, agamanya Nabi Ibrahim. Hanif artinya lurus dan cenderung pada Tauhid.

Jarak Nabi Ibrahim dengan Nabi Muhammad kira-kira 3000 tahun. Nabi Ibrahim mempunyai dua putera yaitu Ishak dan Ismail. Ishak mempunyai putera Yakub kemudian darinya berkembang Nabi-nabi bani Israel.  Israel ini nama lain Yakub, artinya Pejuang Allah. Nabi Yakub mempunyai 12 putera dan salah satunya menjadi Nabi yaitu Nabi Yusuf yang namanya diabadikan dalam Al Qur’an.

Ada yang percaya bila ingin mempunyai anak yang tampan dan sholeh harus dibacakan surat Yusuf.
Hal ini kita tanggapi positif saja, daripada mencari idola diluar Al Qur’an. Namun perlu diluruskan : Bila ingin anak sholeh yang dibaca mulai Al Fatihah sampai An Nas,  jangan memilih surat.
Nabi Ismail dikirim ke Mekkah dan selanjutnya menurunkan Nabi Muhammad SAW. Jadi Nabi Muhammad SAW turunan garis lurus dari Nabi Ibrahim.

Dari kisah di atas dapat disimpulkan bahwa meskipun saat itu masa Jahiliyah,  namun ternyata tidak semua terseret dalam kedholiman. Masih ada yang bertauhid dengan lurus.

Zaid bin Amru pulang ke Mekkah dan kemudian dia ke Ka’bah membuat pengumuman :

“Wahai masyarakat Quraisy,  saya baru pulang dari Syam.  Saya mempunyai keyakinan untuk menyeru dan membimbing kepada umat ini agar tidak mendapatkan kemurkaan Allah maka ikutilah agama yang hanif,  agama Ibrahim”.

Jadi agama Ibrahim masih ada pada saat itu. Ibrahim adalah Nabi yang hanif dan dapat dijadikan teladan.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَا نَ اُمَّةً قَا نِتًا لِّـلّٰهِ حَنِيْفًا ۗ وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ۙ  شَا كِرًا لِّاَنْعُمِهِ ۗ اِجْتَبٰٮهُ وَهَدٰٮهُ اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْم

“Sungguh, Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan , patuh kepada Allah dan hanif. Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik, dia mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah telah memilihnya dan menunjukinya ke jalan yang lurus.” (QS. An-Nahl ayat 120 – 121)

Kepada Nabi Ibrahim kita juga bershalawat sebagaimana kepada Nabi Muhammad SAW. Shalawat Ibrahimiah ini yang paling baik untuk diucapkan. Setiap kita shalat harus bershalawat ibrahimiah.

Agama Islam mempunyai garis hubungan yang lurus dengan Agama Nabi Ibrahim.

ثُمَّ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗ وَمَا كَا نَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu Muhammad , Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.”
(QS. An-Nahl 123)

Maka kita semua yang ingin selamat harus mengikut kepada Nabi Muhammad SAW agar akidah kita lurus :

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
َ
*Tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah dan Muhammad Rasulullah*

Syahadat ini kita ucapkan tiap hari dalam Shalat,  jangan sampai kita dan anak-anak kita hanya hapal saja tapi tak mendalami maknanya.
Syahadat harus kita ucapkan dengan serius, dihayati dalam hati dan dipraktekkan dalam kehidupan.
Dalam Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah dituliskan pula Syahadat.

*Hidup harus berdasar Tauhid dan Taat kepada Allah SWT.*

Pokok pikiran ini terpenting karena menuju jalan yang lurus. Tauhid inilah akidah yang diperjuangkan oleh para Nabi,  sejak Nabi Adam,  Nabi Idris,  Nabi Nuh, Nabi Ibrahim  sampai Nabi Muhammad SAW.
Hidup ini harus mempertahankan syahadat,  iman tak boleh kering. Maka kita harus tahu makna apa yang kita baca ketika duduk akhir shalat.

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ

(Segala kehormatan, dan keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan itu punya allah.).

Ketika kita membaca attahiyat itu adalah penghormatan kepada Allah,  maka posisi kita duduk tawarruk,  bukan bersila.
Pandangan mata ke tempat sujud. Ini masalah kesopanan. Ketika kita menghadap atasan saja harus menjaga pandangan mata terlebih lagi dihadapan Allah.

Kemudian kita lanjutkan dengan do’a.

 السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ

(Keselamatan atas engkau wahai Nabi Muhammad, demikian pula rahmat engkau dan berkahNya. keselamatan dicurahkan pula untuk kami dan atas seluruh hamba allah yang shaleh – shaleh)

Demikian pula ketika kita membaca Al Fatihah, itu tidak sekedar do’a,  menurut Hadits Muslim,  bacaan Al Fatihah ketika shalat adalah dialog dengan Allah SWT.

Dari Abu Hurairah r.a Nabi. SAW bersabda :

Allah berfirman, “Saya membagi shalat antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua. Untuk hamba-Ku apa yang dia minta.
Apabila hamba-Ku membaca, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.”
Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku memuji-Ku.”
Apabila hamba-Ku membaca, “Ar-rahmanir Rahiim.”
Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku mengulangi pujian untuk-Ku.”
Apabila hamba-Ku membaca, “Maaliki yaumid diin.”
Apabila hamba-Ku membaca, “Hamba-Ku mengagungkan-Ku.” Dalam riwayat lain, Allah berfirman, “Hamba-Ku telah menyerahkan urusannya kepada-Ku.”
Apabila hamba-Ku membaca, “Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’in.”
Allah Ta’ala berfirman, “Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku sesuai apa yang dia minta.”
Apabila hamba-Ku membaca, “Ihdinas-Shirathal mustaqiim….dst. sampai akhir surat.”
Allah Ta’ala berfirman, “Ini milik hamba-Ku dan untuk hamba-Ku sesuai yang dia minta.”
(HR. Muslim)

Dengan memahami makna bacaan Al Fatihah, maka kita akan dapat menghayati shalat, membayangkan Allah dihadapan kita dan menjawab Al Fatihah yang kita baca.
Maka Nabi Muhammad SAW ketika membaca Al Fatihah ada jeda, untuk  merasakan suasana dialog dengan Allah SWT.

*Memelihara Qolbu*

Dengan shalat yang khusyuk maka Allah SWT mengakses kita dan kita “mengakses” Allah SWT dengan qolbu kita. Qolbu itu ada dua dan keduanya wajib kita pelihara. Yang pertama Qolbu rohani dan yang kedua Qolbu jasmani.

Orang Jawa menerjemahkan Qolbu sebagai Hati,  padahal sebenarnya Qolbu jasmani adalah jantung. Qolbu harus dijaga kesehatannya agar dapat hidup lebih sehat dan lama,  dapat beribadah lebih lama.

Qolbu Rohani adalah Ruh,  yang dapat mengakses Allah SWT.
Sejak janin berusia 4 bulan di dalam rahim,  ruh ini sudah dikirim oleh Allah SWT. Ruh ini makhluk Allah yang suci dan cinta kepada Allah SWT.

Manusia terdiri dari jasmani dan rohani , berbeda dengan malaikat yang hanya ruh saja ,berbeda dengan binatang yang materi saja.
Manusia memang dibekali dengan nafsu dan takwa.

Allah SWT berfirman:

وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰٮهَا ۖ  فَاَ لْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰٮهَا ۖ

“demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya,” (QS. Asy-Syams Ayat 7-8)

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰٮهَا ۖ  وَقَدْ خَا بَ مَنْ دَسّٰٮهَا ۗ

“sungguh beruntung orang yang menyucikannya jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams Ayat 9 – 10)

Berbahagialah orang yang memperbaiki ketaatannya, shalatnya diperbaiki,  amal ibadahnya diperkuat. Sebaliknya mereka yang tak pernah mengaji,  imannya berlepotan kelak akan mendapat siksa yang pedih.

Maka marilah kita menjaga qolbu baik yang ruhani maupun yang jasmani. Qolbu jasmani dijaga dengan makanan yang baik dan olah raga yang proporsional. Namun jangan berlaku berlebihan melupakan usia. Kita ingat dulu ada beberapa orang terkenal , ada Benyamin, Adji Mas Said meninggal ketika memaksakan diri berolah raga. Karena tidak terlatih maka jantungnya tidak kuat.

*Hanif sumbernya “Laa ilaha Ilallah”*

Dari ‘Abbas bin ‘Abdil Muththalib r.a, bahwa dia telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,

((ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً)

“Akan merasakan kelezatan iman, orang yang ridha kepada Allah  sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta nabi Muhammad sebagai rasulnya” (HR Muslim)

Banyak anak kecil yang sudah hapal hadits ini, namun tak cukup untuk dihapal saja. Kita harus paham maknanya.

Orang yang dapat merasakan nikmatnya iman adalah dia yang rela Allah SWT sebagai Tuhannya,  Muhammad SAW sebagai nabinya dan Islam sebagai agamanya. Rela itu ketika diperintah dia rela,  disuruh mengaji dia rela. Infaq, Ibadah dan berjuang membela agama islam dia rela.

Tetangga kita namanya Abdul Aziz,  tetapi agamanya Non Muslim. Boleh jadi orang tuanya muslim,  masa kecilnya mungkin mengaji. Namun akibat pergaulan dan lingkungan, apalagi mungkin karena kefakiran, maka ketika akidah tidak kuat, akan dijual akidahnya. Ini karena dia dulu tidak rela islam sebagai agamanya.

Kita mungkin termasuk muslim yang baik karena tiap Ahad jam 6 pagi sudah datang di Gedung Dakwah untuk mengaji. Tetapi ada dimanakah putera-puteri kita?  Jangan sampai mereka tidur di rumah tak diberi kesempatan mendalami agamanya. Keluarga kita juga harus kita jaga agar tidak masuk neraka.

Maka untuk memahami Laa ilaha Ilallah ada enam point penting :

*1. Memahami arti dengan benar.*

Laa ilaha ilallah bukan sekedar tidak ada Tuhan selain Allah seperti hapalan anak-anak kita. Arti yang harus ditanamkan adalah :
Tidak ada Tuhan yang berhak disembah,  ditaati,  diibadahi selain Allah.  Karena ada banyak Tuhan selain Allah diluar sana.

*2. Melekat dengan Ikhlas.*

Kerelaan terhadap Allah,  Muhammad dan Islam harus ikhlas. Tidak tercampur yang lain. Menerima islam juga harus murni tidak tercampur akidah lain. Maka kita harus mengaji Islam Garis Lurus. Jangan ada keyakinan yang musyrik. Tidak boleh tercampur Takhayul,  Bid’ah dan Khurofat.

*3. Harus Jujur tidak Munafik.*

Jujur dalam bersyahadat adalah  ketika lesan kita mengucap syahadat,  melekat dalam hati dan diamalkan dalam perbuatan. Bila tidak sesuai maka dia adalah Munafik.

Ada sahabat bernama Hudzaifah bin Yaman yang mengetahui orang munafik atau tidak. Bahkan sampai Umar bin Khattab ketika menjadi Khalifah,  beliau meminta masukan dari Hudzaifah bin Yaman ketika mau memilih pejabat,  agar tidak keliru memilih orang munafik.

*4. Harus Cinta kepada Allah.*

Menurut konsep imam Al Ghozali cinta itu mempunyai Empat Puluh persyaratan untuk memperbaiki hati.
10 yang pertama tentang akidah jangan sampai tercampur kemusyrikan.
10 yang kedua tentang ibadah jangan sampai tercampur dengan takhayul, bid’ah dan khurofat.
10 yang ketiga tentang Akal yang sehat.
10 yang Keempat tentang akhlakul karimah.

Ketika kita mengucapkan syahadat harus melahirkan kecintaan kepada Allah.  Wujud cinta adalah kerinduan. Kita rindu dan memohon perlindungan , kita taat ketika diperintah.
Ketika ada panggilan adzan,  apakah kita mendatanginya?
Satu jam sebelum Subuh kita diminta bangun, untuk shalat Tahajud,  apakah kita lakukan?
Ketika datang petugas Lazis untuk menarik zakat apakah kita terima dengan ikhlas?

Cinta itu bila ketemu akan senang. Maka ketika kita cinta kepada Allah pasti rindu. Rindu dan menunggu Ramadhan dengan penuh harap,  rindu menunggu datangnya waktu shalat subuh. Dengan adanya kecintaan maka tak ada keraguan dalam amal ibadah.

*5. Semakin yakin tak ada keraguan*

Nabi Muhammad SAW berdakwah di
Mekkah 13 tahun dan di Medinah 10 tahun. Ada suku Bani Asad ibnu Khuzaimah. Mereka islam dan kaya sekali, namun mereka sombong ketika kaya tak mau menyumbang. Suatu saat terjadi krisis ekonomi yang menimpa mereka. Bani Asad Ibnu Khuzaimah ini jadi miskin dan mereka datang menghadap Nabi. Mereka mengaku beriman dan meminta sumbangan.

Maka turunlah ayat 14 dan 15 surat Hujurat. Allah SWT berfirman:

قَا لَتِ الْاَعْرَا بُ اٰمَنَّا ۗ قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰـكِنْ قُوْلُوْۤا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْاِيْمَا نُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۚ وَاِ نْ تُطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَا يَلِتْكُمْ مِّنْ اَعْمَا لِكُمْ شَيْئًــا ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِا للّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَا بُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَ مْوَا لِهِمْ وَاَ نْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ

“Orang-orang Arab Badui berkata, Kami telah beriman. Katakanlah kepada mereka , Kamu belum beriman, tetapi katakanlah Kami telah Islam , karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun pahala amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat ayat 14 – 15)

Ayat ini membuktikan bahwa faktor ekonomi itu sangat ampuh,  dapat memaksa seseorang bahkan untuk melepaskan akidahnya.
Ayat di atas juga menunjukkan bahwa  islam saja belum cukup. Harus terus dibina agar menjadi iman. Orang yang beriman itu harus yakin. Orang yang murtad itu karena ragu-ragu.

Maka semua harus membina iman, dengan mengaji dan berdo’a. Tidak cukup bagi kita untuk mendoakan anak agar sukses ekonominya. Kita harus mendoakan agar anak kita teguh dalam keimanan. Nabi Yakub ketika meninggal dunia dia kumpulkan anak cucunya dan ditanya agama mereka.

اَمْ كُنْتُمْ شُهَدَآءَ اِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ الْمَوْتُ ۙ اِذْ قَا لَ لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْۢ بَعْدِيْ ۗ قَا لُوْا نَعْبُدُ اِلٰهَكَ وَاِ لٰهَ اٰبَآئِكَ اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ اِلٰهًا وَّاحِدًا ۚ وَّنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ

“Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’qub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, Apa yang kamu sembah sepeninggalku? Mereka menjawab, Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya berserah diri kepada-Nya.”
(QS. Al-Baqarah 133)

Maka mendidik anak itu tidak berhenti ketika dia dewasa,  khusus dalam hal pendidikan agama sampai akhir hayat kita.
Jangan sampai iman mereka ragu-ragu. Ragu-ragu itu keimanannya 50% . Jika anak tak pernah belajar atau mengaji maka iman akan habis.

*6. Harus menimbulkan Ketaatan.*

Manusia diberi pilihan untuk Taat atau Durhaka kepada Allah.
Kita tahu bahwa iblis itu tahu tentang Allah, pengetahuan iblis tentang Allah melebihi pengetahuan manusia, tetapi iblis durhaka kepada Allah. Dia iblis termasuk golongan yang menolak,  sombong dan kafir.

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰٓئِكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْۤا اِلَّاۤ اِبْلِيْسَ ۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَ ۖ وَكَا نَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ

“Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat, Sujudlah kamu kepada Adam! Maka mereka pun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir.” (QS. Al-Baqarah 34)

Semoga kita mendapat pencerahan , sehingga semakin iman kepada Allah,  tidak memilih-milih ibadah yang ringan saja.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here