Dr. H. Zuhad Masduqi, MA

23 Robiul Akhir 1440 H/ 30 Desember 2018

*1. Latar Belakang Turunnya Surat.*

Setelah Rasulullah SAW mendeklarasikan agama dengan mengajak masyarakat untuk bertauhid,  muncullah reaksi yang menentang dari orang-orang Mekkah. Agar Nabi Muhammad SAW berhenti mendakwahkan agama islam,  orang-orang Mekkah memberikan berbagai macam tawaran.

*1.1. Tawaran Materi.*

Orang-orang Mekkah menawarkan materi berupa uang kepada Nabi Muhammad SAW dengan imbalan agar berhenti berdakwah. Tawaran ini ditolak walaupun pada waktu itu Nabi Muhammad SAW belum mempunyai kekuatan apapun.

*1.2.Tawaran Jabatan.*

Beliau ditawari untuk jadi Pemimpin Mekkah,  dimana nanti punya kewenangan untuk membuat keputusan. Kira-kira sama dengan saat ini ketika Kepala-Kepala Daerah diusung oleh Partai,  maka mereka akan tunduk pada kepentingan Partai. Maka bila Nabi Muhammad SAW menerima tawaran , beliau tak akan bisa bebas berdakwah dan dikendalikan tokoh-tokoh Mekkah.

Kepentingan terbesar dari orang Mekkah adalah Syirik. Dari sana ada kepentingan Politik, Sosial dan kepentingan Agama.
Dulu masyarakat Mekkah punya berhala-berhala, yang besar ada tiga.

اَفَرَءَيْتُمُ اللّٰتَ وَالْعُزّٰى وَمَنٰوةَ الثَّالِثَةَ الْاُخْرٰى

“Maka apakah patut kamu orang-orang musyrik menganggap berhala Al-Lata dan Al-`Uzza, dan Manat, yang ketiga yang paling kemudian sebagai anak perempuan Allah.”
(QS. An-Najm 53: Ayat 19- 20)

Ketiga berhala itu perannya sebagai obyek tawashul. Mereka kalau mau berdo’a harus lewat berhala.

مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَاۤ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰى  

“..Kami tidak menyembah mereka melainkan berharap agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya..”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 3)

Tawashul dalam kehidupan sehari-hari dalam hubungan antar manusia ada manfaatnya. Kita tak mungkin dapat langsung menghadap Pejabat yang belum kita kenal. Untuk menghadap kita membutuhkan orang yang mengantar. Orang yang mengantar inilah obyek tawashul.

Tetapi dalam hubungan dengan Allah SWT tidak semua yang logis dan masuk akal itu benar.
Jawaban Allah terhadap anggapan Orang Mekkah :

اِنْ هِيَ اِلَّاۤ اَسْمَآءٌ سَمَّيْتُمُوْهَاۤ اَنْتُمْ  وَاٰبَآ ؤُكُمْ مَّاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍ ۗ

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk menyembahnya..” (QS. An-Najm 23)

Lata, Uzza dan Manat itu dibuat oleh mereka dari batu dan diberi nama. Lalu diberi kekuatan,  peran dan fungsi tertentu oleh mereka.
Itu sama dengan batu biasa,  jika dibanting tak berakibat apa-apa. Yang marah pembuatnya. Anehnya benda semacam itu dijadikan obyek tawashul.

Nabi Muhammad SAW ditawari jabatan untuk melestarikan berhala,  bukan untuk menghabisi berhala.
Padahal menurut Tauhid,  berhala itu harus hilang. Orang Mekkah mendapatkan manfaat Politis , Sosial dan Ekonomi dari berhala itu. Maka berhala itu dijaga oleh suku-suku disitu. Siapa yang mau berkunjung harus menemui mereka.
Mereka yang mengunjungi berhala-berhala tentu juga membutuhkan makan, minum dan sebagainya. Yang menyiapkan tentu masyarakat setempat , sehingga mereka mendapat keuntungan Ekonomi.
Mereka juga mendapat keuntungan sosial,  karena dengan banyaknya kunjungan kesana berarti eksistensinya diakui, mereka dihormati.

Kalau simbol-simbol berhala itu hilang maka otomatis kepentingan mereka hilang. Pada saat ini mirip dengan Partai- partai. Dengan partai maka seseorang dapat mencalonkan diri jadi Kepala Daerah. Bila Partainya hilang maka dukungan juga hilang.

Nabi Muhammad SAW tetap menolak tawaran-tawaran tersebut, meskipun mereka meminta agar Nabi Muhammad SAW melunakkan sikap. Tawaran-tawaran ini sebenarnya tekanan tapi halus.

*1.3. Tawaran Perempuan.*

Nabi Muhammad SAW ditawari bila akan menikah dengan siapapun yang dikehendaki akan diberikan. Tawaran inipun ditolak Nabi Muhammad SAW, karena kalau diterima akan sama saja,  beliau akan dikendalikan.

Itu semua tawaran kepada Nabi : Harta,  Kedudukan dan Perempuan. Padahal sampai sekarang ketiga hal tersebut yang selalu diperebutkan.
Bila orang punya harta benda maka dia ingin meraih Kedudukan. Bila orang punya Kedudukan maka dia ingin mendapat Perempuan.

*1.4. Tawaran Kompromi Agama.*

Setelah ketiga tawaran tadi gagal maka orang Mekkah menawarkan Kompromi Agama. Mereka Orang Mekkah akan menyembah Tuhannya Nabi Muhammad, dan Nabi Muhammad diminta menyembah Tuhannya Orang Mekkah. Bagi mereka ini “win-win solution”. Tawaran semacam ini kalau menurut pandangan politik bagus sekali.

Masjidil Haram

Namun dalam bahasa agama ini namanya Sinkretisme,  mencampur aduk keyakinan agama. Dalam agama Tauhid diusulkan dimasuki unsur Jahiliyah dan dalam Agama Jahiliyah dimasuki unsur Tauhid.
Dalam bahasa Indonesia kita mengenal pencampuran dengan istilah Kearifan Lokal (local wisdom).

Nabi Muhammad SAW tetap menolak ide Sinkretisme ini. Maka dengan penolakan Nabi Muhammad SAW ini turunlah Surat Al Kafirun menegaskan dan menguatkan apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Inilah yang melatar belakangi turunnya Surat Al Kafirun,  yaitu penolakan atas Kompromi Agama.

Dari kondisi kedua pihak maka pada saat itu perbedaan yang terjadi antara agama Tauhid dan keyakinan mereka sangat radikal sekali. Kemudian Kaum Kafir Quraisy berusaha melakukan deradikalisasi agama. Mudah-mudahan istilah Program Deradikalisasi yang saat ini berjalan tidak diarahkan untuk melemahkan Tauhid.

Tantangan kita dari masa ke masa tidak berubah. Ada pihak yang berusaha melemahkan Akidah. Perilaku orang Mekkah tidak berhenti pada saat itu. Dari waktu ke waktu selalu ada yang mengulang perilaku mereka. Karena itu ketika kita beragama harus benar-benar menghayati dan mendasari dengan ilmu,  agar kita berakidah dengan lurus. Ketika kita mengatakan “Kearifan Lokal” maka perlu hati-hati karena disana mulai bersentuhan dengan syirik.

*2. Surat Al Kafirun.*

*2. 1. Ayat Pertama.*

قُلْ يٰۤاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَ

“Katakanlah Muhammad , Wahai orang-orang kafir!” (QS. Al-Kafirun 1)

Mengapa ayat ini memakai “qul.?”
Menurut para ulama tafsir untuk menjelaskan bahwa Al Qur’an itu wutuh,  orisinil persis seperti pada waktu disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW,  tak ada pengurangan sama sekali.
Kata qul tadi seandainya dihapus tak akan mengubah makna sama sekali.
Kata qul tadi muncul karena ketika Al Qur’an itu turun dengan cara dibacakan oleh Malaikat Jibril untuk Nabi Muhammad SAW.

Alasan lain,  kata qul itu tetap ditulis untuk menunjukkan bahwa ada ajaran-ajaran dalam Al Qur’an yang harus disampaikan secara jelas kepada yang lain selain umat islam. Yaitu antara lain bahwa kita umat islam tidak boleh melakukan Sinkretisme atau Kompromi Agama.

Bandingkan dengan ayat lain yang fungsinya konsumsi internal, misal :

اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ ۗ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam..”.(QS. Ali ‘Imran 19)

Kalau ayat seperti ini disampaikan di muka umum akan menimbulkan ketegangan antara umat islam dengan yang lain. Karena agama lainpun akan berkata seperti itu. Maka akibatnya bila ini dinyatakan dimuka umum dapat menimbulkan perpecahan. Namun ke dalam,  kita wajib mengatakan ayat itu.

Siapa orang kafir yang dimaksud pada ayat ini?  Dari latar belakang turunnya ayat kita tahu bahwa yang dimaksud adalah Orang-orang Mekkah yang datang kepada Nabi Muhammad SAW menawarkan Kompromi Agama tadi. Jadi ayat ini tidak ditujukan kepada semua orang kafir,  karena kalau dianggap ditujukan kepada semua orang kafir menjadi tidak sejalan dengan ayat selanjutnya (ayat ketiga).

وَلَاۤ اَنْـتُمْ عٰبِدُوْنَ مَاۤ اَعْبُدُ

“dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah,” (QS. Al-Kafirun 3)

Bila ayat pertama tentang orang kafir tadi berlaku untuk semua,  maka tak sesuai dengan ayat ini.

Kita tahu bahwa setelah tahun 8 Hijriyah Nabi Muhammad SAW datang ke Mekkah dengan membawa 10.000 orang,  jumlah yang lebih besar dari Penduduk Mekkah. Ini yang disebut Fa’tu Mekkah. Pada saat itu berbondong-bondong Orang Kafir masuk agama islam.
Jadi tidak semua orang kafir tidak mau menyembah sesembahan Nabi Muhammad SAW.

Secara umum,  orang kafir yang dimaksud pada ayat pertama adalah mereka yang selevel dengan Tokoh-tokoh Kafir Mekkah,  yaitu mereka yang sudah mendarah-daging kekafirannya. Sehingga mereka tak mungkin untuk berpindah agama. Beda dengan kelompok awam diantara mereka. Mereka masih ada potensi untuk masuk islam,  meskipun tetap akan dihalangi oleh tokoh mereka. Mereka tak mau kehilangan umat.

*2.2 Ayat Kedua.*

لَاۤ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَ

“Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah,” (QS. Al-Kafirun 2)

a’budu adalah fiil mudhori, kata kerja untuk waktu sekarang dan yang akan datang. Kita tak akan menyembah sesembahan Orang Mekkah,  bukan hanya yang sekarang tapi juga yang akan datang. Karena mereka bisa mengganti-ganti berhala sesembahannya, bisa bertambah dan berkurang Tuhan mereka.

Lata,  Uzza dan Manat itu semua ada nasabnya,  kapan dia dibuat.
Mereka juga bertanya tentang Tuhannya Nabi Muhammad SAW itu seperti apa.?  Maka jawabannya :

ْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ

“… Dialah Allah, Yang Maha Esa.”
(QS. Al-Ikhlas 1)

هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ

“Dialah Yang Awal, Yang Akhir…”
(QS. Al-Hadid 3)

Jadi beda sekali,  karena Tuhannya orang Mekkah ada awal dan ada akhirnya.

Umar bin Khattab sebelum masuk islam dulu dia menyembah Kurmanya, ketika musim panen. Namun ketika paceklik,  Tuhannya sendiri dimakan.
Maka disurat An Najm 23 mereka itu hanya mengikuti anggapan mereka sendiri, yang dikehendaki adalah hawa nafsu mereka.

Imam Ghozali mengatakan bahwa mereka penyembah berhala itu hanya menyembah pikirannya sendiri (kecenderungan hawa nafsunya sendiri). Maka Allah menyebut sesembahan selain Allah itu Thoghut.

Menyembah itu artinya ibadah. Ibadah menurut Tafsir Al Manar adalah : Ketaatan secara total kepada Allah,  karena kesadaran kita Allah itu Dzat Yang Maha Segalanya yang hakekatnya tidak kita ketahui.
Kalau ada ketaatan yang seperti itu namanya ibadah. Kalau kita taat kepada manusia itu bukan ibadah,  karena ada pamrihnya. Maka kita tak akan beribadah terhadap sesembahan Orang Mekkah.

Maka tak ada Kompromi dalam agama. Kalau ada orang menanam kepala kerbau supaya tidak diganggu Setan itu berarti dia telah Syirik, karena agama telah melarang hal-hal seperti itu. Bagaimana jika menanam kepala kerbau dan dibacakan basmalah? Itu berarti kompromi dalam agama.

Lalu muncul persoalan,  bagaimana jika hal seperti itu disuruh oleh orang yang dianggap Kiyai?
Kalau kita menolak akan menjadi persoalan manusia, karena kita menolak Kiyai. Tetapi kalau kita menuruti, akan jadi persoalan dengan Allah. Tinggal kembali kepada diri kita mau pilih taat kepada siapa ?

*2.3. Ayat Ketiga.*

وَلَاۤ اَنْـتُمْ عٰبِدُوْنَ مَاۤ اَعْبُدُ

“dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah,” (QS. Al-Kafirun 3)

Karena orang-orang yang datang kepada Nabi Muhammad SAW sudah mendarah daging kekafirannya. Mereka punya berbagai kepentingan terhadap berhala. Maka keyakinan mereka tak akan mungkin bergeser dari syirik menjadi Tauhid.

Ayat ini sejenis dengan ayat :

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَآءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ  لَا يُؤْمِنُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau Muhammad beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman.” (QS. Al-Baqarah 6)

Orang seperti Abu Lahab itu diberi penjelasan apapun dia tak akan beriman. Dan sampai sekarangpun masih banyak orang seperti Abu Lahab.

Ayat lain yang serupa :

خَتَمَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْ  ۗ  وَعَلٰىۤ اَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَّلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

“Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat.”
(QS. Al-Baqarah 7)

Orang seperti itu sudah tak mungkin masuk islam. Kedurhakaannya sudah berulang-ulang dan menjadi kharakter. Ini masalah psikhologis biasa. Yang bisa membuka pintu hati hanya dirinya sendiri.
Mirip dengan mahasiswa yang suka terlambat. Pertama kali dia takut. Terlambat yang kedua berkurang takutnya, lama-lama dia tidak takut terlambat.

Ketika rezim Jahiliyah Mekkah ambruk, maka orang-orang berbondong-bondong masuk islam.
Hampir sama di dunia politik,  ketika Pak Harto jaya semua orang masuk Golkar,  apapun penyebabnya. Tetapi ketika Pak Harto jatuh maka orang- orang Golkar banyak yang keluar,  ada yang membentuk partai baru dan ada yang masuk ke partai lain.
Ini karena adanya kepentingan.

Ketika orang kafir Mekkah masuk islam ada yang karena melihat kebenaran islam,  tetapi ada juga yang karena kepentingan. Karena ada pendapat orang Mekkah, siapa yang menguasai Ka’bah pasti dia seorang Nabi.

*2.4. Ayat Keempat.*

وَلَاۤ اَنَاۡ عَابِدٌ مَّا عَبَدْ تُّمْ

“dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,”
(QS. Al-Kafirun 4)

Kata “Penyembah” itu levelnya lebih berat daripada “Menyembah”.
Kita buktikan dengan kata yang mudah dipahami,  contoh : “Penyanyi” dan “Menyanyi”. Kita pasti sepakat bahwa siapapun bisa menyanyi,  tapi tidak semua bisa menjadi Penyanyi.  Ada unsur profesional disana, sudah terlatih.

Contoh lain,  kata : aladina amanu,  itu tidak semuanya kuat imannya,  masih dalam proses. Tetapi kata Mukminun, menunjukkan kondisi sudah memiliki keimanan yang kuat.

Ayat keempat mirip dengan ayat kedua. Ayat kedua menggunakan kata kerja , ayat ke empat memakai isim fail. Artinya Nabi Muhammad SAW itu konsisten dalam hal obyek sesembahan. Berbeda dengan orang Mekkah yang obyek sesembahannya berubah-ubah.

*2. 5. Ayat kelima.*

Ayat kelima merupakan ulangan ayat ketiga. Namun sebenarnya berbeda maknanya , karena “maa” yang pertama maushulat (isim maushul) dan “maa” yang kedua bentuk masdariyah. Ketika “maa” bentuk maushulat artinya Obyeknya yang disembah, ketika “maa” berbentuk masdariyah maknanya Tata Cara untuk menyembah.

Contohnya orang Mekkah sebelum islam sudah melakukan ritual Haji,  tetapi berbeda. Mereka mengatakan itu yang diajarkan nenek moyang.
Jika haji harus wukuf di Arofah,  orang Mekkah wukufnya di Musdalifah.  Kemudian ritual Thawaf harus dilakukan dengan telanjang bulat , padahal harusnya memakai pakaian ihram yang tidak berjahit. Jadi mereka mengubah tata cara ibadah. Nabi Muhammad SAW mengembalikan kepada aslinya.

*2. 6. Ayat Keenam.*

لَـكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS. Al-Kafirun 6)

Ini adalah ayat tentang toleransi. Tidak boleh ada Sinkretisme. Hanya orang yang tidak yakin yang akan melakukan pencampuran agama, karena akan merusak agamanya sendiri.  Ayat ini bukan pengakuan kebenaran agama lain,  hanya informasi bahwa setiap orang bebas melaksanakan syariat agamanya.

Dalam surat Al Baqarah,  dikatakan bahwa Yahudi dan Nasrani saling menganggap diri benar dan yang lain tak punya pegangan. Demikian pula Orang Kafir Mekkah berkata demikian.

وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ لَـيْسَتِ النَّصٰرٰى عَلٰى شَيْءٍ ۖ  وَّقَالَتِ النَّصٰرٰى لَـيْسَتِ الْيَهُوْدُ عَلٰى شَيْءٍ ۙ  وَّهُمْ يَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ  كَذٰلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ ۚ  فَاللّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ

“Dan orang Yahudi berkata, Orang Nasrani itu tidak memiliki sesuatu pegangan, dan orang-orang Nasrani juga berkata, Orang-orang Yahudi tidak memiliki sesuatu pegangan , padahal mereka membaca kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak berilmu, berkata seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili mereka pada hari Kiamat, tentang apa yang mereka perselisihkan.” (QS. Al-Baqarah 113)

Klaim kebenaran yang lain

وَقَالُوْا کُوْنُوْا هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى تَهْتَدُوْا  ۗ  قُلْ بَلْ مِلَّةَ اِبْرٰهٖمَ حَنِيْفًا  ۗ  وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Dan mereka berkata, Jadilah kamu penganut Yahudi atau Nasrani niscaya kamu mendapat petunjuk. Katakanlah, Tidak! Tetapi kami mengikuti agama Ibrahim yang lurus dan dia tidak termasuk golongan orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al-Baqarah 135)

Al Qur’an membimbing Nabi Muhammad SAW terhadap claim kebenaran dari Yahudi dan Nasrani.

Semoga bermanfaat.
Barokallohu fikum

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here